Citizen Reporter
Meski Perang, Berbondong-bondonglah ke Baitul Maqdis
Kondisi sekarang ini, Palestina butuh perputaran ekonomi via pariwisata. Seperti diketahui, di samping menciptakan pertumbuhan ekonomi, bisnis pariwis
Dr. ALIAMIN, M.Si. Ak., CA., Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universias Syiah Kuala, Banda Aceh, melaporkan dari Palestina
Tatkala diberi tahu kepada orang-orang dalam lingkup terbatas bahwa kami hendak ke Palestina, semua terkejut dan bagaikan tak percaya. Mereka menduga kami relawan Palestina, apalagi kami sering memakai rompi mirip Paslon Presiden 01.
Semua bertanya, apa bisa masuk ke Israel? Keterkejutan ini diungkapkan juga oleh Yarmen Dinamika, wartawan senior Serambi Indonesia, dengan bertanya: Bagaimana teknis masuk Aqsa yang sedang di bawah teritorial bangsa Israel?
Tentang keheranan ini, tak terkecuali, terjadi juga di lingkungan keluarga kami. Mereka semua memprotes, "Ngapain Ayah ke Palestina. Kan sedang perang. Sudah 26 ribu orang lebih meninggal akibat perang yang berkepanjangan ini. Mendingan uangnya dikirim saja ke Kedubes Palestina untuk disedekahkan daripada bersenang-senang ke sana.”
Keterkejutan ini memang dapat dimaklumi. Gencarnya pemberitaan perang di kedua belah pihak di berbagai platform media, membuat rasa keprihatinan dari segi jumlah korban, sehingga semua orang memandang kalau kita ke Palestina sekarang, itu seperti "tidak ada kerjaan" saja.
Seperti kita ketahui, perang ini memang sangat brutal. Hampir seluruh dunia mengecam Israel akibat perang yang tidak seimbang. Jumlah korbannya melebihi perang Rusia dengan Ukraina yang sudah duluan terjadi. Terlebih karena korban di pihak Palestina sekitar 70 persen anak anak dan wanita. Israel memang melakukan perang barbar ini tanpa peduli etika perang, termasuk menyerang wartawan meski mereka mengenakan jaket PRESS. Sudah banyak awak media yang mati diserang Israel, terutama wartawan TV Aljazeera.
Besarnya jumlah korban perang di pihak Palestina merupakan korban sipil. Terbanyak mereka diserang di rumah-rumah sakit. Seluruh dunia juga prihatin karena Israel juga menyerang kamp-kamp pengungsian. Itu berarti, tidak ada lagi tempat yang aman untuk berlindung dan menghindar dari imbas perang ini.
Gencarnya pemberitaan memang sebelumnya membuat kami tidak berani masuk ke Palestina. Tatkala berada di Yogyakarta dalam satu acara pada akhir November tahun lalu, saya bertemu dengan manajer Opick yang terkenal bersuara rock dengan tembang-tembang islaminya. Dia berkata sudah banyak orang keluar masuk ke Palestina untuk shalat dan berziarah ke Aqsa. Pendeknya, Yerusalem aman. Perang itu terjadi di Gaza, 70 km dari Masjid Aqsa. Juga jauh dari Tel Aviv, ibu kota Israel yang juga sering diserang Hamas-Palestina.
Pada 22 Februari lalu kami berangkat ke Kairo dalam rombongan via Saba Travel and Tour Jakarta. Rute perjalanan kami: Mesir, Aqsa, dan Yordania selama delapan hari.
Persoalan masuk ke Israel bukanlah soal perang, melainkan izin untuk masuk dengan diberikan visa atau tidak.
Setelah berwisata di Mesir, kami menuju Sinai melalaui terowongan Terusan Suez yang terkenal itu. Perjalanan dari hotel di Kairo untuk berangkat ke Taba, melalui Gurun Sinai ke perbatasan Mesir-Israel ditempuh dalam tempo 12 jam.
Setelah menginap di Hotel Taba, esoknya, 25 Februari, kami menuju border Mesir--Israel. Jamaah rombongan harap-harap cemas, dapat tidak visa masuk ke Israel. Soalnya visa Israel baru bisa diberikan -H 1, satu hari sebelum masuk. Masing-masing jemaah saling melihat ke jemaah lain siapa di antara kami yang di-reject, alias ditolak masuk ke Palestina.
Di Hotel Taba, tempat kami menginap, dua orang suami ditolak masuk ke Israel. Pukul 10 pagi pada tanggal 25 itu, kami menerima berita satu orang di-reject visanya. Dia adalah seorang ibu muda yang berangkat dengan dua orang anak plus suami dan mertuanya. Karena di-reject, ibu muda itu dialihkan ke Yordania.
Selama tujuh jam perjalanan, magrib kami tiba di Jericho, kota tertua di dunia. Bakda magrib diberi kesempatan membeli kurma terbaik di dunia. Meskipun ‘tour leader’ mewanti-wanti tidak usah menawar, karena tindakan itu dianggap membantu pedagang Palestina, tetapi kepada kami setiap pembeli diberi bonus tambahan.
Dalam perjalanan ke border Israel, sekitar 1 jam dari perbatasan Taba, di dalam bus kami selalu berzikir agar akses ke ‘check point’ tiga tempat mulus. Setiap orang sudah steril dari logam dan masuk secara silent. Hanya ‘tour leader’ yang boleh bicara. Alhamdulillah, kami semua lolos dari "lubang jarum".
Citizen Reporter
Penulis Citizen Reporter
Penulis CR
Baitul Maqdis
Meski Perang Berbondong bondonglah ke Baitul Maqdi
ALIAMIN
Palestina
Mesjid Aqsa
| Indonesia Kaya SDA, Tapi Mengapa Rakyat Miskin dan Bodoh? |
|
|---|
| Student Exchange UIN Ar-Raniry Kunjungi Masjid Jame' Asr Hassanil Bolkiah, Brunei Darussalam |
|
|---|
| Jemput Ilmu dan Jaringan Internasional: 13 Mahasiswa UIN Ar-Raniry Terbang ke Brunei Darussalam |
|
|---|
| 13 Mahasiswa UIN Ar-Raniry Lulus Program Student Exchange ke Brunei Darussalam 2026 |
|
|---|
| Ikhtiar India Menghadirkan Hunian Layak bagi Masyarakat Miskin Kota |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Aliamin.jpg)