Jurnalisme Warga
Dayah Daboh, Desa Kreatif Kelas Dunia
Letak desa ini tak terlalu jauh dari pusat kota. Jaraknya hanya 16 kilometer dari Kota Banda Aceh dengan waktu tempuh 45 menit ke arah Medan.
Kreasi bordir Aceh di Dayah Daboh tidak dilakukan baru-baru ini, tapi sudah dikerjakan turun-temurun, semacam warisan kesenian yang tak akan hilang. Hampir setiap rumah mengerjakan hal yang sama. Meskipun beberapa perajin memilih untuk tidak sejalan dengan rekan dan keluarganya.
Akibatnya, sebuah plang biru bertuliskan desa kreatif ditanam di gapura desa. Hadiah atas ketekunan dan keyakinan para perajin bordir selama bertahun-tahun. Banyak sekali pejabat datang berkunjung. Termasuk Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno dan istinya, Nur Asiah.
Hal itu membuktikan bahwa kreasi bordir Aceh di Dayah Daboh menarik perhatian banyak orang. Tak terkecuali menteri. Begitu banyak pelatihan dari lembaga besar diberikan kepada para perajin sulam di desa ini, sehingga bisa terus maju tanpa perlu memikirkan sumber daya.
Padahal, para perajin di desa ini pernah terpuruk sekali pada tahun 1998 akibat krisis moneter dan konflik berkepanjangan di Aceh. Bahan baku menjadi mahal, permintaan pasar menurun, hingga ada rumah produksi yang tutup meskipun ada yang memaksa bertahan.
Baru saja berusaha menggeliat bangkit, tsunami menerjang Aceh pada tanggal 26 Desember 2004. Sebagian Aceh porak-poranda. Montasik tak terkena dampak apa pun, tapi efeknya berimbas pada bahan baku dan tak ada pembeli. Hikmahnya, banyak sekali mata dunia tertuju pada Aceh.
Bantuan datang dari berbagai negara. Orang-orang luar menetap selama beberapa bulan dan tahun di Aceh untuk membantu memulihkan kondisi. Ternyata, berkah turun tanpa diduga. Mereka tertarik pada kerajinan bordir Aceh yang diproduksi oleh para perajin. Promosi termudah, sebut saja begitu, karena banyak orang asing menyukai tas bordir ransel dan koper-koper yang besar.
Lebih mengejutkan lagi, seorang warga asing asal California telah membuka sebuah toko suvenir di negara asalnya. Di sanalah produk kerajinan bordir Dayah Daboh didistribusikan.
Sayang sekali, pandemi kemarin hampir saja mematikan usaha bordir di Dayah Daboh. Permintaan pasar menurun, bisa dibilang sulit sekali memasarkan produk. Namun, hal itu tak jadi permasalahan besar. Sudah banyak aral melintang dihadapi para perajin secara turun-temurun. Buktinya mereka tetap ada dan tetap eksis mendunia.
Oleh karena itu, ada baiknya jika pemerintah terus memberikan perhatian lebih secara khusus agar produksi bordir di Dayah Daboh tidak berhenti karena masalah-masalah tak terduga. Pembinaan harus terus dilakukan. Zaman semakin berkembang, maka variasi kreasi bordir pun tak boleh begitu-begitu saja. Semakin besar perhatian pemerintah, semakin maju perekonomian daerah, termasuk Gampong Daya Daboh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Siti-Rafidhah-Hanum-OKEEEH.jpg)