Minggu, 26 April 2026

Jurnalisme Warga

Belajar Jurnalistik di Hutan Leuser

Untuk menaklukkan puncak Leuser, perlu nyali yang kuat karena memerlukan waktu setidaknya hingga dua pekan. Selain Leuser, di kawasan ini terdapat beb

Editor: mufti
IST
IHAN NURDIN, Anggota Perempuan Peduli Leuser dan Anggota AJI Banda Aceh, melaporkan dari Gayo Lues 

Topik yang diangkat sangat beragam, mulai dari kesetaraan gender, teknik wawancara, teknik fotografi dan videografi, teknik menulis karya jurnalistik, hingga teknik menulis ‘story telling’. Harapannya, para peserta dapat memperdalam keterampilan menulis dan keterampilan menggunakan gawai sehingga dapat  menghasilkan karya-karya kreatif dan bergenre jurnalistik.

Kegiatan ini juga menghadirkan Laila Sabiha dari Malaysia selaku narasumber. Melalui paparan Laila, peserta dapat mengetahui apa saja tantangan yang dihadapi anak-anak muda dari negara jiran tersebut dalam menyuarakan isu-isu penyelamatan lingkungan dan perubahan iklim.

Bertemu Mr. Jali

Agenda ‘field trip’ dilaksanakan pada hari kedua pelatihan, Senin (4/3). Kegiatan ini diawali dengan mengunjungi Razali atau yang populer dengan sebutan Mr. Jali, di rumahnya di Desa Penosan Sepakat. Susi dan Lia mengenalkan Mr. Jali sebagai “profesor Leuser” karena pengetahuannya yang mendalam tentang Leuser.

Sejak tahun ‘80-an Mr. Jali sudah keluar masuk Leuser sebagai pemandu. Ia mengenal habitat Leuser dengan baik. Setahunan terakhir aktivitas itu tidak dapat ia lakoni lagi karena stroke. Bicaranya patah-patah. Saat ia bicara dalam bahasa lokal, yang dapat dipahami oleh peserta hanya frasa ‘Allahu Akbar’ saja.

Lia dan Susi membantu menerjemahkan. Sehingga, tahulah kami kalau Mr. Jali menguasai beberapa bahasa asing, terutama Inggris. Buah dari interaksinya dengan para turis mancanegara yang selama ini mengunjungi Leuser.

Pertemuan dengan Mr. Jali sangat penting bagi peserta, meski tidak dapat berinteraksi banyak karena kondisinya, peserta memahami bahwa untuk peduli pada lingkungan tidak membutuhkan “embel-embel” gelar apa pun. Bahkan, Mr. Jali tidak lulus sekolah dasar. Namun, ia dapat mengenal dan mempelajari aneka flora dan fauna di Leuser. Instingnya yang kuat membuat Mr. Jali tidak membutuhkan GPS ketika sedang memandu pendaki.

Kepada Lia dan teman-temannya yang anak mapala, Mr. Jali pernah berjanji untuk memandu langsung mereka ke Leuser. Banyak yang ingin ia wariskan kepada anak-anak muda Gayo Lues. “Namun, beliau keburu sakit,” kata Lia.

Dari Mr. Jali pula peserta belajar tentang pentingnya semangat hidup. Meski untuk berjalan pun kini mesti dipapah, hari itu, ia menyusul juga ke bungalow. Sebuah tempat yang ia bangun khusus agar para pendaki bisa beristirahat sebelum dan sesudah mendaki Gunung Leuser.

Menanam pohon menjadi agenda utama selama berada di kawasan bungalow. Ini akan menjadi “kenang-kenangan” berharga bagi peserta. Peserta juga mempraktikkan langsung materi yang didapat sebelumnya. Mereka memotret, mereportase, dan mewawancarai narasumber.

Peserta merasakan langsung sensasi berada di hutan rimba. Pohon-pohon besar berusia ratusan tahun dengan tajuk rindang memberikan kesempatan bagi paru-paru mendapat asupan oksigen yang benar-benar bersih. Kesempatan untuk meneguk langsung air dari sumber mata air tanpa cemas akan sakit perut. Memanjakan telinga dengan gemercik air sungai yang mengalir di antara batu-batu besar. Bahkan, suara tonggeret yang saling bersahutan terdengar sangat merdu dan akan menjadi “kebisingan” yang dirindukan dari EEJ 2024.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved