Kupi Beungoh
Ramadhan Momen Perbaikan Sosial
Ramadhan sebagai momen perbaikan sosial dapat dimaknai sebagai implementasi berpuasa yang mendorong terjadinya aktivitas-aktivitas kesolehan sosial,
Berbagai tradisi atau praktik sosial khas bulan Ramadhan seperti menyediakan buka puasa bagi saudaranya yang menjalani ibadah puasa, atau berbuka puasa bersama di masjid bersama keluarga dan masyarakat.
Dengan pendekatan tradisi bahkan juga ada yang menyebut bahwa melalui syiar juga dapat memperkuat upaya perbaikan sosial.
Dominasi masyarakat secara tidak langsug di bulan Ramadhan cenderung berbuat baik, sehingga ketika ada seseorang atau sekelompok orang yang melanggar etika publik di bulan Ramadhan, maka yang melanggar tersebut secara otomatis mendapatkan sanksi sosial.
Sistem sosial keagamaan yang berlaku di Aceh saat ini sungguh berpeluang besar untuk menjadikan Aceh benar-benar mengarah pada apa yang disebut penerapan syariat Islam secara kaffah.
Semangat beribadah di bulan suci Ramadhan secara tidak langsung juga menjadi pelenting penguatan penerapan syariat Islam di Aceh berbasis kesadaran sosial.
Dalam konteks ini, sebagai masyarakat Aceh kita berhadap dengan segala upaya berbuat kebaikan di bulan Ramadhan dapat menciptakan suatu kondisi berkelanjutan bagi semangat dan kekuatan Provinsi Aceh dalam mencapai penerapan Islam dari berbagai sektor.
Apakah itu dari sektor budaya, pendidikan, ekonomi, politik hingga kesehatan.
Sebagai umat muslim yang terus berupaya meningkatkan imannya melalui praktik ibadah personal dan ibadah yang sisfatnya sosial, maka jalan untuk tidal bosan menjadi muslim yang baik dan bermanfaat bagi orang banyak adalah pilihan yang tepat.
Dari situ, ada banyak pilihan-pilihan yang tepat yang dapat diterapkan selama bulan Ramadhan ini dalam rangka penguatan sosial. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.
Pertama, mengaktifkan program masjid. Pada upaya ini dapat mendorong beberapa wilayah atau dalam bahasa Aceh disebut sebagai gampong (desa).
Gampong yang mungkin dulu mesjidnya kurang aktif dalam hal merajut kesolehan sosial, maka momentum Ramadhan ini secara tidak langsug telah membuka kesempatan untuk terus merajut ukhuwah islamiyah dengan berbagai kegiatan di mesjid.
Apakah itu kegiatannya bersifat buka puasa bersama di masjid, tadarus Al-Quran di masjid, hingga mengumandangkan panggilan sahur dari masjid. Dalam konteks ini, momentum Ramadhan juga dapat menghidupka masjid sebagai stimulus penguatan perbaikan sosial berbasis masjid.
Kedua, memuliakan orang yang berpuasa. Meski terdapat dinamika sosial terkait apakah orang yang berpuasa harus dimuliakan dengan menutup rumah makan, namun demikian hal tersebut sejatinya tidak lepas dari bentuk saling menghargai.
Namun yang mesti dipetik dari dinamika sosial tersebut adalah dapat membuka ruang saling menghormati dalam bermasyarakat, juga sebagai cara taktis untuk menciptakan susana sosial agar orang dewasa yang telah memenuhi syarat dapat menunaikan ibadah puasa.
Upaya memulikan orang berpuasa secara perspektif sosianya adalah upaya membuka ruang agar setiap muslim mampu meningkatkan rasa kemanusiaanya dan respons sosial terhadap situasi tempat tinggalnya.
| Ekoteologi Islam: Peringatan Iman atas Kerusakan Lingkungan dan Bencana Ekologis Aceh |
|
|---|
| Duka dan Air Mata Rakyat Aceh Dibalik Usaha Membersihkan Rumah Pasca Banjir Bandang |
|
|---|
| Simpang Lima di Kala Malam: Refleksi tentang Keindahan, Ketertiban, dan Identitas Aceh |
|
|---|
| Diaspora Aceh di Malaysia, Cahaya Persatuan di Tengah Bencana |
|
|---|
| Relawan, Ajang Anak Muda Mengabdi untuk Negeri |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Irwanda-M-Jamil-SAg-Kepala-Bidang-Dakwah-Dinas-Syariat-Islam-Kota-Banda-Aceh.jpg)