Kajian Kitab Kuning

Hukum Shalat Kafarat di Hari Jumat Terakhir Bulan Ramadhan

Shalat kafarat hari Jum’at pada akhir Ramadhan tidak mempunyai asal dari syara’. Adapun hadits tentang itu tidak asalnya.

Editor: Agus Ramadhan
Tangkap Layar Youtube SERAMBINEWS
Dewan Pembina DPP Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) Aceh, Tgk Alizar Usman MHum. 

*) Oleh: Tgk Alizar Usman MHum

Assalamu’alaikum wr. Wb.
Saya ingin bertanya, bagaimana status hadist tentang masalah shalat kafarat pada hari jum'at akhir bulan Ramadhan? Bagaimana menurut sepengetahuan tgk yg mulia?

----- Pertanyaan dari Muhammad.

Jawaban:

 Wa’alaikumussalam wr wb.

Hadits tersebut pernah kami lihat dalam kitab al-Majmu’ah al-Mubarakah berikut ini: 

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من فاته صلاة فى عمره ولم يحصها فليقم فى اخر جمعة من رمضان ويصلى اربع ركعات بتشهد واحد يقرا فى كل ركعة فاتحة الكتاب وسورة القدر خمسة عشر مرة وسورة الكوثر كذالك و يقول في النية نويت أصلي أربع ركعات كفارة لما فاتني من الصلاة

Rasulullah SAW bersabda, Barangsiapa selama hidupnya pernah meninggalkan shalat tetapi tak dapat menghitung jumlahnya, maka shalatlah di hari Jum’at terakhir bulan Ramadhan sebanyak empat rakaat dengan satu kali tasyahud, tiap rakaat membaca satu kali al-Fatihah, kemudian surat al-Qadar 15 kali dan surat al-Kautsar seperti itu juga dan berkata pada niatnya : “aku niatkan shalat empat raka’at sebagai kafarat shalatku yang tertinggal.

Kemudian disebutkan:

قال ابو بكر سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول هذة الصلاة كفارة اربعمائة سنة حتى قال على كرم الله وجهه هى كفارة الف سنة قالوا يا رسول الله صلى الله عليه وسلم ابن ادم يعيش ستين سنة او مائة سنة فلمن تكون الصلاة الزائدة قال تكون لابويه وزوجته ولاولاده فاقاربه واهل البلد

Abu Bakar berkata, “Saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda shalat tersebut sebagai kafarat shalat 400 tahun. Dan menurut Sayidina Ali bin Abi Thalib shalat tersebut sebagai kafarat 1000 tahun. Maka bertanyalah para sahabat : “Umur manusia itu hanya 60 tahun atau 100 tahun, lalu untuk siapa kelebihannya?". Rasulullah SAW menjawab, "Untuk kedua orang tuanya, untuk istrinya, untuk anaknya dan untuk sanak familinya serta orang-orang dinegerinya.”[1]

(Al-Majmu’ah al-Mubarakah, karangan Abduh Muhammad Baba, Hal. 7-8)

Menurut hemat kami, ada beberapa catatan terkait hadits ini dan kandungannya, antara lain:

1. Hadits ini disebut tanpa sanadnya dan sejauh penelusuran kami hadits ini tidak dijumpai dalam kitab-kitab hadits mu’tabar

2. Kandungan hadits ini bertentangan dengan ijmak ulama bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja maka wajib diqadha sesuai dengan jumlah shalat yang ditinggalkannya. Dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab disebutkan :

Telah terjadi ijmak ulama yang mu’tabar atas orang yang meninggalkan shalat secara sengaja maka wajib mengqadhanya. (al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab: III/76)

3.   Kandungan hadits ini bertentangan dengan kandungan hadits shahih berikut ini :

من نسي الصلاة أونام عنها فكفارتها أن يصليها إذاذكرها

Barangsiapa meninggalkan shalat karena lupa atau karena tertidur, maka  kifaratnya adalah  shalat apabila sudah mengingatnya.(H.R. Muslim)

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved