Breaking News

Kajian Kitab Kuning

Hadiri Resepsi Pernikahan Orang Tanpa Diundang, Bagaimana Hukumnya Dalam Islam?

Dalam hadits ini juga menjadi petunjuk seandainya pemilik jamuan memberikan izin, boleh tamu yang tidak diundang makan bersama tamu lainnya.

Editor: Agus Ramadhan
Tangkap Layar Youtube SERAMBINEWS
Dewan Pembina DPP Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) Aceh, Tgk Alizar Usman MHum. 

*) Oleh: Tgk Alizar Usman MHum

DALAM fiqh dikenal adanya istilah tathafful, yakni sebutan untuk orang yang menghadiri resepsi pernikahan tanpa diundang.

Tathafful ini, hukumnya haram kecuali diketahui ada keridhaan dari pemilik acara sebagaimana dijelaskan oleh Zakariya al-Anshari berikut ini :

وَيَحْرُمُ التَّطَفُّلُ) وَهُوَ حُضُورُ الْوَلِيمَةِ مِنْ غَيْرِ دَعْوَةٍ إلا إذَا عَلِمَ رِضَا الْمَالِكِ بِهِ لِمَا بَيْنَهُمَا مِنْ الْأُنْسِ وَالِانْبِسَاطِ).

Dan haram tathafful, yakni menghadiri walimah tanpa diundang kecuali apabila dimaklum ridha pemiliknya karena antara keduanya ada rasa suka dan senang. (Asnaa al-Mathalib: III/227)

Imam al-Nawawi dalam kitabnya, Raudhah al-Thalibin mengatakan:

يحرم التطفل واستثنى المتولي وغيره فقالوا إذا كان في الدار ضيافة جاز لمن بينه وبين صاحب الطعام انبساط أن يدخل ويأكل إذا علم أنه لا يشق عليه

Haram hukumnya tathafful, al-Mutawally dan lainnya mengecualikan apabila dalam rumah ada jamuan dimana antara dia dan pemilik jamuan ada  rasa senang, maka boleh masuk dan turut serta makan apabila dimaklumi hal itu tidak menimbulkan kesukaran atas pemilik jamuan. (Raudhah al-Thalibin: VII/339)

Adapun dalil-dalil fatwa di atas antara lain kisah yang diriwayat dari Abu Mas’ud r.a. sebagai berikut :

عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ، قَالَ: كَانَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ يُقَالُ لَهُ: أَبُو شُعَيْبٍ، وَكَانَ لَهُ غُلَامٌ لَحَّامٌ، فَرَأَى رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَرَفَ فِي وَجْهِهِ الْجُوعَ، فَقَالَ لِغُلَامِهِ: وَيْحَكَ، اصْنَعْ لَنَا طَعَامًا لِخَمْسَةِ نَفَرٍ، فَإِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَدْعُوَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَامِسَ خَمْسَةٍ، قَالَ: فَصَنَعَ، ثُمَّ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَدَعَاهُ خَامِسَ خَمْسَةٍ وَاتَّبَعَهُمْ رَجُلٌ، فَلَمَّا بَلَغَ الْبَابَ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ هَذَا اتَّبَعَنَا، فَإِنْ شِئْتَ أَنْ تَأْذَنَ لَهُ، وَإِنْ شِئْتَ رَجَعَ، قَالَ: لَا، بَلْ آذَنُ لَهُ يَا رَسُولَ اللهِ،

Dari Abu Mas’ud al-Anshari r.a. beliau mengatakan, ada seorang Anshar yang bernama Abu Syu’aib, memiliki seorang hamba sahaya penjual daging.

Suatu hari dia melihat tanda-tanda lapar di wajah Nabi SAW, kemudian dia perintahkan hamba sahayanya : “Kasian, buatkanlah makanan untuk lima orang, aku ingin mengundang Nabi SAW bersama empat sahabat lainnya.

Abu Mas’ud mengatakan, hamba sahaya itupun membuatnya. Kemudian Abu Syu’aib itupun menemui Nabi SAW mengundang Nabi SAW bersama empat sahabatnya.

namun ada seorang yang ikut (tanpa undangan). Maka beliau bersabda, “Tapi ini ada satu orang yang ikut. Jika mau, kamu bisa mengizinkan dan jika kamu mau, dia akan kembali.  Orang Anshar tersebut menjawab, “Tidak, akan tetapi aku izinkan ya Rasulullah.” (H.R. Muslim)

Dalam hadits ini, kepada yang mengundang jamuan, Rasulullah SAW menanyakan kerelaan menerima tamu yang tidak diundang dan seandainya yang mengundang tidak rela, maka tamu yang tidak diundang akan pergi meninggalkan jamuan makan.

Ini menunjukkan jamuan makan yang dihadiri tamu yang tidak diundang haram memakan jamuan.

Dalam hadits ini juga menjadi petunjuk seandainya pemilik jamuan memberikan izin, boleh tamu yang tidak diundang makan bersama tamu lainnya.

Keharaman menghadiri jamuan makan tanpa diundang juga dipahami dalam sabda Nabi SAW berikut ini :

مَنْ دُعِيَ فَلَمْ يُجِبْ فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ، وَمَنْ دَخَل عَلَى غَيْرِ دَعْوَةٍ دَخَل سَارِقًا، وَخَرَجَ مُغِيرًا

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved