Jurnalisme Warga
Beragam Potensi Ekonomi Kabupaten Bireuen
Usaha-usaha kecil rumah tangga masyarakat Bireuen itu sudah menjadi mata pencaharian sehari-hari dan diproduksi di gamong-gampong dalam Kabupaten Bire
M. ZUBAIR, S.H., M.H., Kepala Dinas Kominfo dan Persandian Kabupaten Bireuen, melaporkan dari Bireuen
Bireuen sebagai salah satu kabupaten termuda usia hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh Utara dikenal dengan julukan “Kota Juang” dan “Kota Keripik”. Dijuluki Kota Juang karena Bireuen pernah menjadi ibu kota negara Indonesia selama satu minggu ketika Presiden Republik Indonesia pertama, Ir Soekarno mengasingkan diri ke Bireuen pada saat agresi Belanda II tahun 1948.
Pemilihan Bireuen sebagai tempat pusat pemerintahan sementara pada waktu itu bukan hanya karena daerah ini termasuk paling aman, tetapi juga karena Bireuen merupakan pusat kemiliteran Aceh.
Sementara julukan Kota Keripik untuk Kota Bireuen karena bila melakukan perjalanan melewati ibu kota Kabupaten Bireuen akan dijumpai banyak penjaja keripik pisang di pinggir-pinggir jalan nasional. Dari arah barat mulai Kecamatan Peudada sampai ke pusat kota Kabupaten Bireuen berjejer kios-kios penjaja keripik. Berbagai macam rasa keripik pisang tersedia pada kios-kios keripik tersebut sepanjang jalan nasional yang siap melayani Anda selama 24 jam.
Usaha-usaha kecil rumah tangga masyarakat Bireuen itu sudah menjadi mata pencaharian sehari-hari dan diproduksi di gamong-gampong dalam Kabupaten Bireuen. Potensi ekonomi tersebut terus bergulir karena banyak pelanggan sebagai musafir yang melintasi Bireuen membelinya sebagai oleh-oleh untuk keluarga atau kerabatnya di daerah lain.
Selain itu, camilan keripik pisang juga dijadikan sebagai suguhan ringan dengan teh hangat untuk para tamu pada kantor-kantor pemerintahan, BUMN, BUMD, dan swasta serta rumah-rumah pribadi.
Oleh-oleh khas Bireuen lainnya, yaitu lepat nagasari yang juga sudah terkenal sejak lama dan dijadikan bawaan oleh masyarakat Bireuen sendiri ataupun orang-orang dalam perjalanan melalui Kota Bireuen untuk buah tangan yang diberikan kepada sahabatnya. Nagasari adalah sejenis penganan yang dibuat dari tepung beras, tepung sagu, santan, dan gula yang diisi dengan pisang.
Lepat ini biasanya dibalut dengan daun pisang yang dibentuk segitiga, lalu dikukus. Harga nagasari hanya Rp1.500 per potong dengan rasa yang membuat ketagihan karena kelezatannya.
Lepat nagasari awalnya dibuat oleh satu keluarga dan usaha itu dilanjutkan secara turun-temurun. Melihat pangsa pasar yang menjanjikan sekarang ini nagasari sudah banyak diproduksi oleh keluarga-keluarga lainnya di Bireuen.
Tempat-tempat penjualannya juga sudah banyak di mana hampir di setiap kios penjualan keripik pisang juga ada nagasari dan toko-toko jualan kue di pinggir jalan Kota Bireuen tidak ketinggalan menjual jajanan tersebut. Bahkan, jika Anda ingin membeli lepat nagasari untuk dibawa ke suatu tempat kadang-kadang harus diorder lebih awal untuk dipersiapkan.
Selain itu, sektor pertumbuhan ekonomi yang sangat menjanjikan yaitu produksi teh daun kelor atau dalam bahasa Aceh disebut ‘on murong’ yang laris di pasaran dengan harga Rp15.000 per kotak. Padahal sebelumnya, daun kelor yang tumbuh subur di mana-mana tidak ada nilai jual. Namun, dengan inovasi masyarakat Rambong Payong, Kecamatan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen, telah berhasil menciptkan teh daun kelor.
Dari usaha kelompok masyarakat desa tersebut yang dirintis sejak tahun 2019 telah berhasil dipasarkan produksi teh daun kelor ke sejumlah kabupaten/kota di Aceh. Namun, usaha tersebut masih dikerjakan secara manual dan menghasilkan 60 kotak dalam sebulan serta diberi nama pada kemasannya “chie jebs’ yang artinya “coba minum”.
Saat ini produksi teh daun kelor tersebut telah banyak diterima oleh kabupaten/kota di Aceh dan diakui banyak memiliki khasiat untuk kesehatan. Untuk menjaga keberlangsungan inovasi teh daun kelor, kelompok usaha di Gampong Rambong Payong mengharapakan adanya bantuan dari pemerintah untuk dapat terus bergerak dalam bidang usaha tersebut.
Usaha yang berpotensi ekonomi lainnya di Kabupaten Bireuen ada di Desa Meunasah Nibong, Kecamatan Peusangan yang memiliki usaha kreatif dan inovatif dari pengolahan ban bekas. Usaha ini dijalankan secara mandiri oleh masyarakat Meunasah Nibong dan sekitarnya, serta 80 persen masyarakatnya berpenghasilan dari pengolahan ban bekas menjadi produk kreatif.
Usaha-usaha dari ban bekas itu berupa beronjong, perangkap babi, tali karet, kursi dari ban bekas, vas bunga, timba, sapu, dan lainnya. Setiap bulannya dibutuhkan 10.000 ban bekas untuk menjalankan proses produksi dengan rata-rata per rumah membutuhkan tiga ribu ban bekas untuk menjalankan usaha tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/M-Zubair-SHMH.jpg)