Jurnalisme Warga
Keserakahan yang Membawa Malapetaka
Lumpur bawaan banjir dari longsoran tanah pergunungan juga masih menutupi rumah-rumah mereka.
M. ZUBAIR, warga di daerah terdampak banjir, melaporkan dari Bireuen
BENCANA banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatra Barat pada 26-27 November 2025 lalu masih meninggalkan lara di hati insan, khususnya mereka yang tertimpa musibah.
Duka mendalam masih sangat tearasa karena sudah sebulan berlalu ketika saya menulis kisah nyata ini, masih sangat banyak warga yang tinggal di tenda-tenda pengungsian.
Lumpur bawaan banjir dari longsoran tanah pergunungan juga masih menutupi rumah-rumah mereka.
Kesedihan bertambah bila mengingat ada rumah warga yang dibawa arus air serta lokasi pertapakannya hilang raib bersama banjir bandang.
Selain itu, ada juga perkampungan yang hilang tanpa jejak karena telah menjadi sungai dan persawahan tempat bercocok tanam untuk kehidupan pun telah rata tertutup lumpur, serta tidak berbekas lagi.
Semua ini menjadi kegundahan bagi petani dalam menjalani kehidupan pascabanjir, karena dipastikan ke depan tidak ada lagi tempat mereka mencari rezeki. Saat ini mereka masih mendapat bantuan logistik dari para dermawan, tetapi bagaimana nanti saat santunan, jadup, dan bantuan lainnya berakhir?
Saya masih bersyukur karena rumah saya tidak masuk air karena tempatnya agak tinggi. Namun, tetangga sebelah kanan kiri semuanya mengungsi ke meunasah.
Mereka mengungsi dengan mengangkut apa yang bisa diselamatkan dengan diiringi tangisan anak-anak kecil dan suara minta bantu para lansia serta ibu-ibu hamil.
Banjir bandang yang membawa lumpur longsoran tanah pergunugan serta kayu gelondongan berukuran besar menghantam banyak jembatan dan perumahan penduduk. Sesak dada ini melihat penderitaan saudara-saudara sebangsa yang diperparah dengan matinya listrik sehingga membuat gelap gulita dan sinyal hp pun kolaps lebih dari dua minggu.
Ditambah lagi putusnya banyak jembatan penghubung sehingga pasokan logistik tertahan dan membuat masyarakat kehabisan bahan pangan serta kebutuhan dasar lainnya.
Masyarakat di daerah terdampak mengungsi ke tenda-tenda darurat yang dibangun seadanya sesuai dengan kemampuan dan peralatan yang ada. Mereka membuka dapur umum untuk bertahan hidup dengan memasak apa adanya bantuan dari segelintir orang yang tidak terimbas parah rumahnya.
Di tenda-tenda pengungsian masyarakat yang rumahnya terendam banjir dan lumpur setinggi lebih kurang satu atau dua meter bertahan di tengah kedinginan karena hujan yang terus mengguyur saat itu, bahkan berlanjut hngga awal Januari 2026 ini. Kesedihan bertambah saat mengingat banyak barang berharga yang tidak sempat diselamatkan seperti surat-surat penting, kendaraan, emas, dan hewan piaraan.
Pada hari pertama musibah, warga masyarakat yang mengungsi di desa saya berdomisili dapat jatah sarapan pagi makan bergizi gratis anak sekolah yang dialihkan ke tempat-tempat pengungsian. Namun, yang sangat menyedihkan lagi ada warga terisolasi karena jalan menuju ke tempat mereka rusak parah plus tertutup lumpur dan kayu-kayu gelondongan serta jembatan penghubung banyak yang putus.
Warga di desa-desa terisolasi bahkan ada yang mendekam dalam air dan lumpur sampai tiga hari tiga malam tidak makan dan tidur.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ZUBAIR-2025555.jpg)