Jurnalisme Warga
ISBI Aceh dan Kejutan yang Sulit Dilupakan
Di tengah hiruk pikuk Jakarta, jauh dari Tanah Rencong yang baru saja diterpa bencana, sebuah kabar mengguncang perasaan kami.
ICHSAN, M.Sn., Ketua Jurusan Seni Rupa dan Desain ISBI Aceh dan peraih Juara 1 Insan Humas Diktisaintek 2025 (PTN Satker), melaporkan dari Jakarta
Alhamdulillah. 19 Desember 2025, bagi kami, keluarga besar Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, benar-benar menjadi hari yang sulit dilupakan.
Di tengah hiruk pikuk Jakarta, jauh dari Tanah Rencong yang baru saja diterpa bencana, sebuah kabar mengguncang perasaan kami.
ISBI Aceh kembali pulang membawa piala Anugerah Diktisaintek. Bukan satu, bukan dua, melainkan tiga. Yang paling mengejutkan, tahun ini ISBI Aceh meraih Juara 1 (Golden Winner) Anugerah Insan Humas.
Izinkan saya jujur sejak awal. Saya tidak menyangka. Benar-benar tidak menyangka. Sebelum pengumuman, kami sempat ragu, bahkan sempat saling berkirim pesan dengan Pimpinan Humas ISBI Aceh, Achmad Zaki. Bahasanya sederhana, datar, dan penuh kehati-hatian, “Tanyoe hana ya/Kita tidak ada (menang) ya?” tanya Zaki yang mulai ragu saat pengumuman berlangsung.
Nada pasrah yang jujur, khas orang-orang yang bekerja keras tanpa berani berharap berlebihan. Bahkan, Zaki sempat menyela dengan kalimat yang terasa berat,
“Hana tanyoe/Tidak ada (menang) kita?”
“Taci preh/Kita tunggu,” jawabku.
Kalimat itu belum sempat dingin ketika pengumuman Anugerah Kerja Sama Diktisaintek dibacakan. Nama ISBI Aceh kembali disebut. Juara 2. Bertahan. Konsisten. Sama seperti tahun lalu, ketika saya masih diamanahkan sebagai pimpinan Humas ISBI Aceh.
Kami terdiam. Haru mulai menyelinap. Belum selesai perasaan tersebut dicerap, pengumuman berikutnya datang. Kategori Majalah. Dan, sekali lagi, nama ISBI Aceh dipanggil. Majalah Daweut—nama yang diberikan Achmad Zaki sejak awal perintisannya—kembali bertahan sebagai juara. Di titik itu, jantung rasanya sudah bekerja dua kali lipat. Kami saling pandang dari kejauhan, saling diam, saling menahan rasa.
Namun, kejutan belum selesai. Ketika kategori Anugerah Insan Humas diumumkan, nama ISBI Aceh kembali dipanggil sebagai Juara 1 (Golden Winner), tubuh ini seperti setengah jatuh, lalu bangkit, dan terbang tinggi.
Yang lebih mengejutkan, Insan Humas Tingkat Nasional dari ISBI Aceh tahun ini adalah saya sendiri.
Saya terpaku. Lalu berdiri, berjalan ke depan, dan memeluk Achmad Zaki. Bangga. Haru. Serasa tidak percaya. Semua bercampur menjadi satu.
ISBI Aceh adalah kampus muda. Kampus kecil. Tidak berada di pusat kekuasaan. Tidak memiliki fasilitas berlimpah. Bahkan, sering kali berada di wilayah yang luput dari perhatian nasional. Akakn tetapi hari ini, di panggung nasional, ISBI Aceh berdiri sejajar, bahkan unggul.
Di bawah kepemimpinan Rektor Prof Dr Wildan MPd dan kepemimpinan kehumasan Achmad Zaki, ISBI Aceh membuktikan satu hal penting, yakni ukuran kampus tidak pernah menentukan besar kecilnya prestasi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Ichsan-21122025.jpg)