Kupi Beungoh
Perang Sabil Aceh, Seksualitas dalam Hikayat Prang Sabi
Selain strategi menggunakan pertempuran alusista, perang semesta juga menanamkan sebuah ideologi untuk memotivasi para pejuang.
Oleh: Muhammad Arifin
Terkadang tidak mudah dalam memenangkan perang besar, perlu strategi yang sangat drastis untuk mencapai sebuah target.
Selain strategi menggunakan pertempuran alusista, perang semesta juga menanamkan sebuah ideologi untuk memotivasi para pejuang.
Seperti halnya mengangkat isu seksual untuk merangsang dan mengalihkan seks seorang prajurit sehingga dapat membakar semangatnya dalam berperang.
Aceh yang menghadapi kebrutalan perang dengan Belanda pada 1873-1912 juga merancang strategi dengan mengangkat tema seksual sebagai gerakan manipulatif yang mengatur dan merangsang prajurit untuk berjuang.
Perang yang berlangsung selama empat dekade ini menjadi perang terlama yang dihadapi Belanda dalam menguasai wilayah Aceh.
Kesultanan Aceh kala itu, mengerahkan seluruh kekuatan dalam menghadapi Belanda. Baik rakyat, sumber daya dan ulama sebagai pemimpin perang.
Baca juga: Baitul Mal Aceh Utara Pastikan Pembangunan Rumah Fakir Miskin yang Tidak Sesuai RAB Akan Diperbaiki
Sejak awal, perang semesta yang dilakukan oleh para ulama dan rakyat Aceh telah melibatkan seluruh potensi dan kekuatan yang ada di wilayah Kesultanan Aceh, baik Aceh Besar, Aceh Barat, Aceh Timur dan Utara.
Para pejuang serentak bergerak untuk mengusir Belanda yang diistilahkan sebagai kaphe atau kafir.
Para ulama meminta seluruh rakyat untuk saling bahu-membahu membantu perjuangan dalam mengusir penjajah.
Bantuan itu bisa berbentuk tenaga, harta benda bahkan upaya untuk memberi bantuan menginap dan perlidungan bagi para pejuang.
Lantas, bagaimana perang yang melewati empat periode ini bisa bertahan, sehingga menjadi bukti kegigihan dan kuatnya persatuan rakyat Aceh dalam menghadapi Belanda.
Sumber kekuatan, motivasi semangat dan keberanian dalam menentang kehadiran Belanda tertanam dalam sebuah ideologi perang sabil atau perang suci, yaitu keyakinan atas kewajiban berperang di jalan Allah, atau dikenal dengan Jihad fi sabilillah.
Baca juga: Sosok Vladimir Putin yang Kembali Jadi Presiden Rusia, Ancam NATO dalam Pidato Pertama Pasca Pemilu
Seperti halnya yang dilakukan Rasulullah Saw dan para Sahabat terdahulu.
Dalam ideologi perang sabil, mereka yang mati syahid melawan Kaphe Belanda akan masuk syurga dan memperoleh kenikmatan yang tiada taranya.
Pemahaman terhadap perang sabil yang menjadi motivasi rakyat Aceh saat itu dijiwai oleh “Hikayat Prang Sabi”.
Sebuah karya sastra yang dikarang pada akhir abad ke-19 oleh Teungku Chik Pante Kulu, seorang pemimpin perang dan ulama kharismatik Aceh.
Hikayat Prang Sabi memiliki fungsi yang pragmatis. Sajak-sajak heroiknya dapat menimbulkan efek-efek yang dapat membakar semangat perlawanan anti-kolonial.
Seperti dalam kisah Ainul Mardhiah, pengarang menggunakan tema seksual untuk melukiskan bagaimana balasan yang begitu besar terhadap orang yang mati syahid dalam berperang.
Baca juga: Amalan-amalan Sunnah saat Puasa Ramadhan, Lengkap dengan Bacaan Doa dan Dzikir
Syair dalam Kisah Ainul Mardhiah
Krueng Al kausar indah sangat
(Sangat indah telaga Al Kautsar)
Boeloeeng Muhammad karunia rabbi
(Hadiah yang diberikan kepada Muhammad)
Di Panghoelee neubri ke oemat
Baca juga: Sebentar Lagi Lebaran, Berikut Daftar PNS yang Tak Dapat THR dan Gaji ke-13 di Tahun 2024
(Yang mana Nabi akan memberikan kepada umat-Nya)
Yang na khitmat bak prang sabi
(Kepada sesiapa yang berperang)
Tjeub siteugok rasa laen
(Seteguk Air memiliki rasa yang bervariasi)
Lazat maken han djeut kheun kri
Baca juga: Profil Said Abdullah Jadi Caleg dengan Suara Tertinggi se-Indonesia, Kalahkan Puan dan Ibas
(Sangat lezat, sehingga tidak bisa diungkapkan)
Keuperoemoh bintang tjanden
(Kemudian akan diberikan Bidadari sebagai Istri)
Rupa licen budiadari
(Bidadari itu memiliki rupa cantik)
Tudjoeh ploh droe yang khidmat
(Dan terdapat tujuh puluh Bidadari yang akan melayani)
Rupa jroh that hana sakri
(Rupa mereka sangat cantik yang tiada ganti)
Ta ngieng mantong ka sep lazat
(Melihatnya saja sudah sangat puas)
Hanpeu ta mat dengoen djari
(Tanpa menyentuhnya dengan jari)
Nyanduem boeloeeng neubri le Allah
(Begitu besar hadiah yang diberikan oleh Allah)
He meutuah djak prang sabi
(Wahai orang yang baik, mari berperang)
Bek le ta doeek nanggroe susah
(Janganlah bersantai ketika bangsa sedang dikuasai)
Woe bak Allah yang that suci
(Mari kita pulang kepada Allah yang sangat suci)
Bah le tinggai inoeng tjidah
(Tinggalkan sementara istri yang cantik)
Bah ta keubah yang bee basi
(Tinggalkan dia yang sudah basi)
Woe bak judo Ainul Mardhiah
(Kita pulang kepada jodoh sesunggugnya Ainul Mardhiah)
Yang that indah bee khasturi
(Yang sangat indah wangi khasturi)
Pengarang menjelaskan kepada pemuda-pemuda Aceh bagaimana hadiah jika mereka ikut berperang melawan Belanda dan kemudian mati syahid.
Ia menggambarkan Telaga Al Kautsar yang merupakan hadiah Allah kepada Nabi Muhammad SAW untuk umatnya dalam syurga.
Dalam Telaga Al Kautsar terdapat air yang sangat lezat, memiliki rasa yang bervariasi. Sesiapa yang meminumnya, maka aa tidak akan merasakan haus selamanya.
Kemudian, Allah akan mempersiapkan tujuh bidadari. Di antara salah satu bidadari itu ada yang sangat cantik wajahnya, memiliki harum yang khas wangi khasturi yaitu Ainul Mardhiah yang diciptakan dari nur cahaya putih.
Pengarang juga mengajak bagi pemuda Aceh yang sudah menikah untuk meninggalkan istri-istri mereka, karena akan Allah gantikan dengan Ainul Mardhiah yang tidak ada tandingannya.
Selebaran-selebaran tema seksual kemudian dibangun oleh pengarang dalam kisah Ainul Mardhiah.
Pengarang menceritakan arwah seorang pria yang mati syahid berjalan di sebuah telaga yang diberi nama dengan “Krueng ie laban” dan melihat beberapa wanita sedang mandi ditepi-tepi telaga.
Kemudian disambut oleh Ainul Mardhiah, sambil mengganding tangannya Ainul Mardhiah mengajak untuk duduk bersama di atas singgasana.
Alhamdulillah troeh ban hajat
(Alhamdulillah seperti yang sudah di hadjatkan)
Wahe daulat mainan kamoe
(Wahai Lelaki mainan kami)
Tuanku tamong keuno leugat
(Tuanku cepatkan langkah menuju kesini)
Jak duek sapat ateuh
(Duduk bersama diatas singgasana)
Di sisi lain Ainul Mardhiah juga merayu pria tersebut untuk bermalam dan berbuka puasa di singgasananya.
Ainul Mardhiah ingin menjadikan pria itu sebagai suaminya.
Entrek malam ta eh sapat (Malam ini kita tidur bersama), Meutjhen loen that keusuami (Sudah lama saya mendambakan suami).
Buka puasa entrek keunoe (Buka puasa nanti disini), Sajan kamoe ateuh kursi! (Bersama kami di singgasana!).
James T Siegel, dalam bukunya “The Rope of God” mengatakan bahwa surga adalah gagasan penting bagi ulama bukan hanya secara teologis, tetapi juga karena dalam teori perjalanan mereka, hambatan mendasarnya adalah hawa nafsu.
Tetapi karena hawa nafsu adalah bagian dari sifat manusia, salah satu dari dua bagian, dan bukan atribut dari masyarakat atau dari sesuatu yang objektif, itu membutuhkan gambaran untuk dikenal.
Tgk Chiek Pante Kulu menawarkan Hikayat Prang Sabi sebagai dorongan dari hawa nafsu tersebut.
Ia menanamkan hasrat seksual dalam kisah Ainul Mardhiah dimaksudkan untuk membangkitkan hawa nafsu sehingga menimbulkan semangat berperang melawan musuh.
Mereka akan bertempur dalam Perang Suci dengan alasan yang sama, yaitu untuk mendapatkan pahala yang akan membantu mereka mencapai Surga dan Bidadari.
Secara universal seks adalah dorongan paling kuat dalam diri manusia. Artinya secara keseluruhan terdapat dorongan seks dalam diri masing-masing seseorang.
Dalam konteks ini, Hikayat Prang Sabi secara aktif mengeksploitasi seksualitas untuk memanipulasi psikologis pemuda Aceh untuk berperang melawan Belanda.
Menurut penulis, bukan tanpa sebab Tgk Chiek Pante Kulu mengangkat tema seksual dalam lembaran Hikayatnya.
Gambaran imbalan bidadari seperti Ainul Mardhiah, diangkat dengan tujuan pertama untuk memotivasi pemuda Aceh yang tidak mau berperang karena sudah mempunyai Istri dan kedua bagi pemuda yang tidak mau berperang dengan alasan belum menikah.
Tengku Chiek Pante Kulu merupakan seorang ulama karismatik Aceh, rakyat Aceh akan percaya pada apa yang ia sampaikan.
Penggunaan dan pemilihan kata-kata tertentu dapat mempengaruhi psikologis seseorang, ia berguna sebagai upaya propaganda dengan tujuan tertentu.
Sehingga, tema seksual menjadi strategi untuk menanamkan semangat perang melawan penjajah.
Pada akhirnya kita menyadari bahwa masih banyak hal yang harus kita telusuri dalam karya sastra legendaris ini.
Jika dulu Tengku Chiek Pante Kulu telah menyumbang sebuah hikayat untuk membangkitkan semangat perang, kini saatnya kita yang membangkitkan kesadaran untuk mengenang karya sastra legendaris ini. (*)
PENULIS adalah Alumnus Ilmu Hadis UIN Sunan Kalijaga
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
BACA TULISAN KUPI BEUNGOH LAINNYA
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Arifin-soal-perang-sabil.jpg)