Kupi Beungoh
Melawat Muslim Minoritas Khmer
Muslim Kamboja yang terdiri dari suku Cham dan Khmer, menyebar hampir di seluruh provinsi di Kamboja dan kota Phnom Penh yang banyak populasi Muslim.
Oleh: Teuku Azhar Ibrahim
Mendengar kata Kamboja, akan terasa bulu kuduk berdiri, tapi itu dulu, ketika Pol Pot masih ganas ingin menguasai Kamboja dengan membantai sekitar dua juta bangsanya sendiri.
Namun hari ini Kamboja sudah jauh berbeda.
Mereka hidup lebih aman, nyaman dan damai, umat Islam mendapat tempat di hati rakyat dan pemerintah walau jumlahnya minoritas hanya sekitar tiga persen dari total penduduk Kamboja 16,59 juta jiwa.
Muslim Kamboja yang terdiri dari suku Cham dan Khmer, menyebar hampir di seluruh provinsi di Kamboja dan kota Phnom Penh yang banyak populasi Muslim, setidaknya ada lima masjid di Phnom Penh dan yang paling besar adalah masjid As Sirkal dengan Sungai Mekong yang mengalir melintasi Kota Phnom Penh.
Sepanjang sungai Mekong kita temukan lebih banyak Muslim dibandingkan yang berada di pesisir.
Hal menarik dari Muslim Kamboja, perbedaan ras Kamboja terutama yang Muslim tidak memisahkan mereka dalam melihat antara satu dengan lain.
Satu pernyataan dari Nuruddin teman saya yang juga pernah belajar di Al-Azhar untuk mendalami Al-Quran.
Nuruddin mengatakan, walaupun dia bukan orang Cham, tapi dia merasa diri sebagai orang Cham.
Masyarakat Muslim Kamboja memiliki jumlah intelektual terhitung banyak, ada pesantren- pesantren seperti al Khairat yang terus mencetak kader tokoh muslim yang melanjutkan studi ke Timur Tengah dan pulang memimpin dan menjadi penggerak dakwah di seluruh Kamboja.
Seperti para alumni Al Azhar Kairo, mereka punya program pembinaan masyarakat Muslim Cham di kampong Champ yang jaraknya 200 km dari Phnom Penh.
Saat ini ada lima puluhan lebih lulusan Al Azhar di Phnom Penh dan delapan puluhan sedang belajar di Al Azhar.
Tidak hanya ke Mesir tapi juga negara lain di Timur Tengah, dan yang paling banyak Muslim Kamboja belajar Islam ke Malaysia atas beasiswa pemerintah dan warga Malaysia.
Mereka para alumni banyak yang menulis buku dan menerjemah literatur Islam.
Menarik untuk dicatat, sejarah kehidupan bangsa Kamboja yang mayoritas beragama Buddha, memiliki historis yang ramah dengan umat Islam sejak dahulu, hanya pada masa krisis politik Pol Pot yang penderitaan bukan saja umat Islam tapi derita umum bagi bangsa Kamboja.
| Perang dan Damai - Bagian 9, Perjalanan Ke Manado Kota Toleransi |
|
|---|
| Prabowo, Doli, dan Mualem di Balik Perpanjangan Otsus Aceh |
|
|---|
| Sosok Ismail Rasyid, Pengusaha Asal Aceh yang Menembus Batas-batas Kemungkinan |
|
|---|
| Traffic Light dan Karakter Kita: Renungan Umur Manusia |
|
|---|
| Peusijuk: Dari Warisan Budaya ke Katalisator Pendidikan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Teuku-Azhar-Ibrahim-Mahasiswa-KPI-UIN-Ar-Raniry.jpg)