Opini
Puasa Melahirkan Lisan Mulia
Di era media sosial dewasa ini, tidak jarang kita juga menyaksikan ada orang yang masuk penjara karena lisannya yang diwujudkan dalam ungkapan status
Dr Teuku Zulkhairi, Komisioner pada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Aceh dan Sekjend Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD)
BANYAK masalah dalam kehidupan manusia munculnya berawal dari lisan (lidah). Masalah-masalah besar tidak jarang berawal dari sepatah kata yang keluar dari lisan seseorang. Pertengkaran antara dua individu, keributan dalam hubungan bermasyarakat bahkan hingga konflik dan perang tidak jarang berawal dari sepatah kata dari lisan seseorang.
Di era media sosial dewasa ini, tidak jarang kita juga menyaksikan ada orang yang masuk penjara karena lisannya yang diwujudkan dalam ungkapan status atau postingan di media sosial. Media sosial yang mestinya menjadi ladang dakwah malah sebaliknya menjadi ladang fitnah. Maka lisan manusia ini mendapat perhatian besar dalam ajaran Islam. Banyak ayat dan hadis yang berbicara tentang lisan.
Pada intinya, Islam menekankan agar lisan-lisan kita bisa terjaga. Bahkan Rasulullah Saw mengatakan bahwa keselamatan manusia itu sangat tergantung pada kemampuannya menjaga lisan. Jika ia mampu menjaga lisannya, maka ia akan selamat di dunia maupun di akhirat. Jika di dunia ia mampu menjaga lisannya, maka ia akan menjadi bintang dalam pergaulan. Disukai oleh orang banyak. Sebab, tak ada hati yang terluka karena lisannya. Ketika tidak ada hati yang terluka karena lisannya, maka Allah pun akan meridhainya.
Orang-orang yang beriman itu akan berpikir dulu sebelum berbicara. Jika kata-kata yang akan keluar dari mulutnya memiliki nilai-nilai kebaikan, maka ia akan mengeluarkannya. Jika tidak, maka ia tidak akan berbicara. Sebab, ia paham betul peringatan dari Rasulullah Saw, bahwa, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau lebih baik diam (jika tidak mampu berkata baik)".
Oleh sebab itu, puasa Ramadhan yang saban tahun kita kerjakan sesungguhnya mendorong kita untuk konsisten menjaga lisan. Puasa Ramadhan mendidik kita mampu untuk mengontrol lisan. Karena kita berpuasa, maka kita wajib menahan diri dari kata-kata yang tidak bermanfaat.
Sebab, tanpa menjaga lisan ini, maka kita tidak akan mendapatkan keagungan pahala puasa Ramadhan yang dijanjikan oleh Allah Swt kepada kita. Rasulullah Saw mengingatkan kita bahwa, “Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dosa, maka tiada pahala yang didapatkannya dengan meninggalkan makanan dan minumannya”.
Jika kita gagal meninggalkan perkataan yang sia-sia dan berdosa dari lisan kita, maka tidak akan ada pahala dari puasa yang kita kerjakan. Jadi, bisa dikatakan bahwa lisan kita ini menjadi kunci kita untuk mendapatkan pahala puasa Ramadhan.
Tegasnya, Rasulullah saw meminta kita untuk menjaga lisan sampai-sampai beliau memberikan kita rumusan sikap untuk bisa menjaga lisan, dimana Rasulullah saw mengingatkan kita bahwa ketika kita sedang berpuasa maka janganlah kita berkata jorok maupun berbantah-bantahan. Jika ada orang yang mencaci maki atau mengajak kita bertengkar, maka Rasulullah saw menyuruh kita untuk berkata: “Sesungguhnya aku sedang berpuasa”.
Membawa mudarat
Oleh karena itu, di sini kita memahami bahwa lisan ini menjadi kunci dalam kita mendapatkan pahala puasa Ramadhan. Jika kita mampu menjaga lisan kita, maka kita akan mendapatkan pahala puasa Ramadhan yang sangat besar dari Allah Swt. Dan sebaliknya, jika kita gagal menjaga lisan kita, maka tiada apa pun yang bisa kita dapatkan dari puasa kita itu kecuali lapar dan dahaga.
Padahal, di sisi lainnya, Rasulullah saw dalam suatu hadisnya mengatakan bahwa surga itu rindu kepada empat golongan. Salah satunya yaitu orang-orang yang menjaga lisannya.
Surga rindu kepada orang-orang yang hanya mengatakan kata-kata yang baik-baik saja. Surga rindu kepada orang-orang yang menghindarkan diri dari perkataan keji dan kotor baik berupa ghibah, fitnah, namimah dan apa pun lainnya yang menyebabkan kerusakan di tengah manusia.
Andai puasa Ramadhan yang kita jalani betul-betul dapat kita mendidik kita untuk mengontrol lisan, tidak akan berbicara kecuali kebaikan. Maka sungguh puasa Ramadhan ini melahirkan lisan-lisan manusia mulia pembangun peradaban, lisan-lisan yang membuat dunia dan masyarakat kita senantiasa damai.
Coba bayangkan jika kita yang saban tahun berpuasa mampu menjaga lisan kita baik di bulan Ramadhan sampai seterusnya, maka lisan-lisan kita akan menjadi lisan-lisan mulia manusia yang membuat dunia menjadi lebih indah sesuai dengan cita-cita ajaran Islam.
| Masa Depan Pertanian Aceh Pascabanjir |
|
|---|
| Transformasi Digital dan Stabilitas Makroekonomi Mesin Penggerak Pertumbuhan Ekonomi |
|
|---|
| Polri sebagai Penopang Harapan di Tengah Bencana |
|
|---|
| Belajar Sabar dari Aceh yang Terluka |
|
|---|
| Saat Pemimpin tak Hadir di Tengah Bencana: Dilema Etika Antara Hak Personal & Tanggung Jawab Publik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Teuku-Zulkhairi-MA-kita-semua-pendosa.jpg)