Opini
Puasa Melahirkan Lisan Mulia
Di era media sosial dewasa ini, tidak jarang kita juga menyaksikan ada orang yang masuk penjara karena lisannya yang diwujudkan dalam ungkapan status
Maka Ramadhan ini mengajarkan kita agar sebelum mengucapkan sesuatu maka hendaknya kita melaungkan waktu sejenak untuk merenung. Apakah perkataan yang akan kita keluarkan atau kita tulis di media sosial itu akan membawa manfaat atau justru membawa mudarat misalnya menyebabkan orang lain tersakiti, menyulut perdebatan hingga permusuhan.
Maka puasa Ramadhan ini mengajarkan kita untuk melatih kesabaran termasuk dalam perkataan, yaitu kendali diri untuk mengontrol lisan. Puasa Ramadhan melatih kita untuk bersabar dalam menghadapi situasi-situasi yang menantang tanpa cepat bereaksi mengeluarkan perkataan-perkataan yang tidak diinginkan. Bahkan mungkin juga kita sendiri tidak menginginkannya.
Selain itu, ketika Rasulullah saw mengajarkan kita untuk mengatakan, “Saya berpuasa” tatkala dihadapkan pada kondisi dimana kita dicaci maki atau dihina seperti dijelaskan di awal, maka itu maknanya bahwa puasa Ramadhan hendak mendorong kita untuk dapat menghindari situasi yang memicu emosi negatif.
Jika kita menyadari bahwa kita rentan terharap penggunaan lisan yang kurang baik dari orang lain, maka kita diminta untuk menghindari atau meminimalisir interaksi dengan orang-orang atau perkara yang dapat menggoda lisan kita ke arah berbicara negatif.
Sungguh masalah-masalah dalam kehidupan manusia akan berkurang dan bahkan selesai sama sekali apabila kita semua mau dan mampu menjaga lisan kita. Jadi, mari kita pahami kewajiban untuk menjaga lisan yang mengiringi kewajiban puasa Ramadhan kita. Tak akan ada pahala puasa jika kita tidak menjaga lisan.
Maka dengan kesadaran seperti ini, kita akan memahami bahwa puasa Ramadhan ini bukan saja menjanjikan segudang pahala besar bagi orang-orang yang berpuasa seperti sering kita dengar dalam ceramah-ceramah para khatib dan penceramah di mimbar-mimbar masjid. Tapi juga puasa Ramadhan bermaksud untuk melahirkan lisan-lisan mulia manusia pembangun peradaban Islam.
Kita memahami bahwa sesungguhnya peradaban Islam dibangun berawal dari kalimat-kalimat mulia yang keluar dari lisan mulia umat Islam. Semakin banyak kalimat-kalimat kebaikan yang keluar dari lisan mulia, maka dunia akan menjadi lebih baik. Karena semakin banyak kalimat-kalimat kebaikan yang keluar dari lisan mulia, maka seiring itu pula kalimat-kalimat buruk akan semakin jarang.
Coba bayangkan sebuah tatanan dunia dimana manusia hanya mengatakan yang baik-baik saja atau mereka diam. Itu adalah dunia tanpa caci maki, tanpa hoaks, tanpa fitnah, tanpa kalimat-kalimat yang memecah belah. Itula tatanan dunia yang beradab yang dicita-citakan oleh Islam. Dan puasa Ramadhan ini sesungguhnya sedang mendidik kita ke arah tersebut. Wallahu a’lam bishshswab.
| Masa Depan Pertanian Aceh Pascabanjir |
|
|---|
| Transformasi Digital dan Stabilitas Makroekonomi Mesin Penggerak Pertumbuhan Ekonomi |
|
|---|
| Polri sebagai Penopang Harapan di Tengah Bencana |
|
|---|
| Belajar Sabar dari Aceh yang Terluka |
|
|---|
| Saat Pemimpin tak Hadir di Tengah Bencana: Dilema Etika Antara Hak Personal & Tanggung Jawab Publik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Teuku-Zulkhairi-MA-kita-semua-pendosa.jpg)