Jurnalisme Warga

Liburan Idulfitri yang Menyenangkan

Merayakan Idulfitri tidak harus dengan baju baru, sepatu baru, bahkan perlengkapan rumah tangga pun biasanya kaum ibu menginginkan yang baru. Namun, k

Editor: Ansari Hasyim
For Serambinews.com
Chairul Bariah  

Oleh: Chairul Bariah, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki) dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Banda Aceh

SETELAH berpuasa di bulan Ramadan, tiba saatnya merayakan hari kemenangan Idulfitri 1445 Hijriah. Hari kita untuk saling memaafkan, melupakan kisah-kisah sedih dan luka yang mungkin sempat tergores di hati, karena manusia tidak ada yang sempurna. Untuk itu, mari saling berjabat tangan dan terus menjalin serta menjaga tali silaturahmi di antara sesama.

Merayakan Idulfitri tidak harus dengan baju baru, sepatu baru, bahkan perlengkapan rumah tangga pun biasanya kaum ibu menginginkan yang baru. Namun, karena faktor ekonomi momen Lebaran kali ini berbeda dari sebelumnya. Pada umumnya masyarakat hanya membeli barang-barang yang dibutuhkan saja, bukan yang diinginkan.

Dari sekian deretan catatan untuk merayakan Idulfitri yang intinya tentulah menjalin tali silaturahmi, yang biasanya mereka yang jauh pergi merantau akan kembali ke kampung halaman, maka tidak heran kalau suasana di kota pada saat Lebaran terasa sepi, karena pada umumnya penduduk kota adalah pendatang dari berbagai daerah.

Baca juga: 79.000 Kendaraan Lintasi Jalan Tol Sigli-Banda Aceh Selama Arus Mudik Lebaran

Libur hari raya tahun ini berlangsung lama karena sesuai dengan keputusan bersama Pemerintah Republik Indonesia tentang cuti bersama bagi aparatur sipil negara (ASN), termasuk juga karyawan BUMN dan swasta.

Kesempatan liburan ini benar-benar saya dan keluarga manfaatkan dengan baik untuk saling berkunjung dalam rangka silaturahmi Idulfitri.

Setelah berkunjung ke rumah tetangga di seputaran tempat tinggal, kami menyusun rencana berlibur sambal mengunjungi saudara-saudara yang berada di Kota Banda Aceh. Kebetulan adik saya yang tinggal di Batam pulang kampung untuk merayakan Idulfitri bersama.

Kami bergerak dari Matangglupang Dua pada pagi hari pukul 06.30 WIB. Sengaja kami pilih waktu pagi agar tidak terjebak kemacetan di jalan nasional Medan-Banda Aceh. Iring-iringan dua unit kendaraan roda empat kami perlahan meninggalkan kota Bireuen menuju Banda Aceh.

Di sepanjang jalan yang kami lalui selau berpasapsan dengan kendaraan yang datang dari berlawan arah. Kmi pikir pagi-pagi belum ramai kendaraan di jalan, tetapi prediksi itu ternyata salah. Terpaksa beriringan juga dengan pengendara yang lain, sesekali kendaraan kami menyalip untuk mendahului.

Kesabaran dalam mengendarai kendaraan benar-benar diuji, kalau tidak maka akan tersenggol oleh kendaraan lainnya. Sudah hampir satu jam perjalanan, tepatnya memasuki Kabupaten Pidie Jaya perut mulai terasa lapar. Rencana kami singgah di SPBU Ulee Gle, tetapi karena susah untuk menyeberang akhirnya kami putuskan sarapan pagi di Tringgadeng, Pidie Jaya, saja.

Kemudian kami lanjutkan perjalanan menuju Banda Aceh. Karena membawa tamu dari Batam kami berhenti di SPBU Beujaya Bereueneun untuk melihat ikan raksasa Arapaima yang asli didatangakan dari Sungai Amazon. Ikan ini tergolong ikan berbahaya, maka setiap pengunjung diminta untuk tidak terlalu mendekat dan juga tidak dibenarkan melemparkan makanan ke dalam kolam.

Ketika sampai di Desa Lamtamot, Aceh Besar, kami lanjutkan perjalanan melalui Tol Sibanceh menuju Baitussalam sekaligus ganti sopir dua yang membawa kendaraan. Suasana di tol tergolong sepi karena tidak terlalu banyak kendaraan yang melintas, tetapi tetap harus berhati-hati.

Kendaraan harus melaju dengan kecepatan yang telah ditentukan antara 60 km dan 100 km/jam. Jalur kanan hanya digunakan untuk mendahului.

Kendaraan pemantau arus lalu lintas siaga di sisi jalan tol. Tujuannya, apabila terjadi insiden akan cepat teratasi, apalagi pada saat liburan Idulfitri ini arus lalu lintas yang menggunakan jalur tol meningkat sebagaimana tahun 2023 yang lebih 2.000 kendaraan menggunakan jalan tol per hari.

Kami melihat di sisi kanan dan kiri sedang dibangun ‘rest area’ sebagai tempat beristirahat. Tersedia juga musala tempat shalat, juga tempat kendaraan mengisi bahan bakar minyak (BBM), serta berbagai fasilitas penunjang, seperti toilet, ATM, dan lainnya.

Tanpa terasa kami telah tiba di pintu Tol Baitussalam dengan jarak tempuh ± 74 km dari Lamtamot. Penggunaan jalur tol sangat menghemat waktu tempuh, sesuai dengan tujuan pembangunan jalan tol itu sendiri, yakni untuk memperlancar arus lalu lintas di daerah berkembang.

Juga untuk meningkatkan pelayanan distribusi barang dan jasa, serta menunjang pertumbuhan ekonomi, di samping meringkankan beban dana pemerintah melalui partisipasi pengguna jalan dengan membayar biaya tol.

Untuk kendaraan pribadi dikenakan biaya Rp42.000 dari pintu Tol Lamtamot menuju Tol Baitussalam.

Kegiatan selama di Banda Aceh kami isi dengan kunjungan silaturahmi ke tempat saudara. Selain itu, kami sempatkan diri untuk mengunjungi tempat wisata Pantai Lhoknga di Aceh Besar.

Suasana di pantai ini panas menyengat, tetapi kendaraan pengunjung terus berdatangan memenuhi area parkir yang disediakan.

Memandang laut luas yang indah sambil menikmati kuliner yang ditawarkan oleh pemilik kafe yang berada di sisi pantai adalah sesuatu yang tidak kita dapatkan di tempat yang lain. Pantai Aceh memang masih tergolong asri karena kita masih dapat menyentuh air pantai yang mengalir di dekat tempat kita bersantai.

Pantai ini airnya jernih serta tidak banyak bebatuan di pinggir pantainay. Menuju lokasi ini kita harus menempuh perjalanan ± 20 menit dengan jarak ± 22 km dari Banda Aceh.

Setelah menikmati angin yang sepoi-sepoi di pinggir Pantai, kami bergegas bergerak meninggalkan Lhoknga dan kembali ke Kota Banda Aceh.

Dalam perjalan kembali ke Banda Aceh kami singgah di Desa Lampisang yang dikenal sebagai sentra oleh-oleh makanan khas Aceh. Kami beli bebrapa untuk dibawa pulang ke Batam. Di antaranya kue Bakpia Sabang, meusekat, dan dodol khas Aceh dengan aneka ragam rasa. Mata saya tertuju pada bungkusan unik yang paling kecil berisi dodol yang dibungkus dengan pelepah daun pinang, mirip dengan dodol Tanjungpura Medan.

Makanan khas Aceh yang tidak boleh tertinggal juga adalah ‘wajeb’ (wajik), terbuat dari ketan putih yang dibubuhi gula merah atau gula putih, pisang selai, keukarah, dan kue ade. Semua oleh-oleh yang dijual di sepanjag jalan Lhoknga ini adalah produksi dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masyarakat sekitaranya dan juga dari Sabang.

Setelah berbelanja, kami keliling Pasar Aceh, rencana mau berbelanja, tapi sayangnya pasar tutup karena libur Idulfitri. Para pedagang semuanya pulang kampung, sebagaimana yang disampaikan seorang tukang parkir.

Hanya satu malam menginap di Banda Aceh kami putuskan pulang ke Bireuen melalui jalan umum. Banyaknya iringan kendaraan ke arah Medan membuat suasana jalan semakin ramai dan sedikit macet.

Puncak kemacetannya justru ketika kami sampai di Kota Bireuen, mulai dari Simpag Adam Batre sampai dengan depan pintu masuk terminal lama. Target waktu hanya perlu 20 menit sampai di rumah, ternyata hampir satu jam baru sampai. Kenangan liburan Idulfitri yang tak terlupakan.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved