Opini

Aceh Darurat Judi Online

Belum lagi dengan bekingan di balik perjudian tersebut, sangat banyak kepentingan dalam bisnis haram tersebut. Oleh karena itu butuh sinergisitas anta

Editor: mufti
FOR SERAMBINEWS.COM
Wakil Ketua IKAT Aceh Bidang Dakwah dan Penguatan Ummat, Ustaz  Mujtahid Lc MA 

Dampak psikologis

Pada dasarnya semua manusia di dunia ini tergerak untuk melakukan sesuatu oleh tiga faktor. Perasaan ingin tahu, perasaan ingin bertahan hidup, dan perasaan ingin menggapai sesuatu. Yang paling dominan dari ketiga hal tersebut adalah kuriositas, berupa rasa ingin tahu seseorang.

Pada dasarnya rasa ingin tahu ini dimanfaatkan oleh para ilmuan dalam penelitian ilmiah untuk menemukan hal-hal baru di dunia keilmuan, baik teori-teori atau teknologi terkini. Begitu juga dengan para pemodal judi mereka ikut memanfaatkan pendekatan psikologi dalam menciptakan permainan judi online.

Seperti judi slot, para penciptanya mengeksploitasi rasa ingin tahu yang terdapat dalam benak seseorang dengan memberikan kemenangan bagi para pemain di awal permainan. Terlebih jika diberikan kemenangan besar, pemain merasa sangat bahagia.

Kemudian pemain akan penasaran dengan hadiah yang akan didapatkan selanjutnya. Secara tidak sadar, ia telah ketagihan dengan permainan tersebut.

Judi online juga mengeksploitasi rasa takut seseorang. Di awal, para pemain melakukan deposit dengan jumlah yang sedikit kemudian berlanjut dengan jumlah yang semakin besar. Di setiap deposit tersebut pastinya pemain dihantui oleh rasa takut.

Maka secara psikologis pemainnya terpancing untuk kecanduan dengan judi online, karena di setiap kalah rasa takut akan semakin meningkat dan secara otomatis rasa ingin tahu juga akan meningkat. Karena keingintahuan tersebut seseorang sudah tidak sadar telah melakukan jumlah deposit dalam jumlah yang besar.

Pemain yang awalnya masih takut melakukan deposit dengan jumlah sedikit, pada akhirnya sudah tidak bermasalah dengan jumlah yang dikeluarkan karena dikalahkan dengan sifat ingin tahunya yang sudah memuncak. Tidak mengherankan jika uang ratusan juta bisa hilang begitu saja di tangan pejudi karena rasa ingin tahunya berhasil dieksploitasi oleh aplikasi judi.

Psikologi pemain judi akan terus dieksploitasi jika ia tidak berhenti bermain. Karena ketika pemain judi menang secara otomatis ia akan ketagihan dan ketika kalah pemainnya merasa penasaran. Baik kalah atau menang sama-sama terjebak dalam kecanduan terhadap rasa ingin menang judi.

Bahkan ketika kalah semangat ingin melunasi kekalahan akan terus menghantui. Sehingga rasa dalam diri yang berhasil dieksploitasi tersebut pada akhirnya berdampak dalam perilaku sehari hari. Tiba-tiba emosinya tidak stabil, menjadi pemarah, sensitif, menjadi pemurung dan tidak sedikit yang sampai pada tahap bunuh diri.

Judi online bukan sekadar permainan, tapi perbuatan dosa yang merusak psikologi manusia dan melahirkan permusuhan sesama manusia. Atas dasar tersebut Islam melarang permainan judi. Yang paling menyedihkan dari semua fakta perjudian di Aceh adalah orang-orang tua yang tidak memiliki smartphone juga ikut terlibat dalam perjudian online.

Fenomena yang bisa ditemukan di warkop-warkop di pedesaan. Di mana mereka para pekerja serabutan dengan penghasilan di bawah seratus ribu per hari kemudian memanfaatkan penghasilan hariannya melalui teman-temannya yang bermain judi slot.

Lalu kenapa judi berkembang pesat di Aceh, apa karena judi sudah menjadi kultur yang sangat mengakar dalam masyarakat Aceh atau karena faktor ekonomi? Jawabannya hanya ada pada diri kita masing-masing.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved