Kisah Inspiratif

Kisah Sukses Azmi, Penjual Mie Sop Legend Takengon, Raup Cuan Jutaan hingga Berdayakan 10 Karyawan

Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Begitu kata Ichwanul Azmi, penjual mie sop daging di Jalan Abdul Wahab, Kota Takengon, Aceh. 

Penulis: Firdha Ustin | Editor: Agus Ramadhan
SERAMBINEWS.COM/FIRDHA USTIN
Seorang karyawan wanita di warung mie sop daging sedang memperlihatkan QR Barcode pembayaran digital QRIS di kedai 'Salmalero Cantino' Takengon, Selasa (21/5/2024). 

Seiring berjalannya waktu, Azmi kemudian menyadari dengan menerapkan sistem pembayaraan QRIS justru memudahkan pelaku UMKM dan juga pembeli. Ia kemudian menyediakan QRIS dari Bank Aceh dan Bank Syariah Indonesia (BSI).

Dari sisi pelaku UMKM, Azmi mengakui jika dirinya tak perlu repot setor uang ke bank, keuangan pun semakin terjadwal.

Seorang pembeli sedang melakukan scan QR code untuk melakukan pembayaran uang digital melalui QRIS di warung mie sop daging 'Salmalero Cantino', Takengon.
Seorang pembeli sedang melakukan scan QR code untuk melakukan pembayaran uang digital melalui QRIS di warung mie sop daging 'Salmalero Cantino', Takengon. (SERAMBINEWS.COM)

Sementara dari sisi pembeli lanjut Azmi, wisatawan lebih praktis cukup dengan scan barcode lalu uang pun masuk ke rekening pedagang.

"Alasan menggunakan QRIS karena memudahkan kami selaku UMKM, transaksi lebih mudah, kami menyimpan uangnya juga gak susah-susah kali, uangnya masuk ke rekening jadi kami gak perlu setor ke bank. Kalau untuk pembeli, mereka kan maunya praktis, jadi mereka cukup scan, uangnya langsung masuk ke kami," tambahnya.

Jika dilihat dari persenan perbandingannya, Azmi mengatakan mayoritas yang menggunakan pembayaran digital rata-rata dari wisatawan luar Takengon.

"Kalau untuk transaksi melalui QRIS banyak, apalagi kalau untuk weekend, tamu-tamu dari luar daerah itu mereka lebih mudah menggunakan QRIS nampaknya," sambung Azmi.

Kemudahan usai menerapkan sistem pembayaraan QRIS ini tampak jauh berbeda dari sebelum menerapkan QRIS

Dimana dulunya setiap hari Azmi harus menyetor uang ke bank dari hasil penjualan, namun setelah ada QRIS dia tak perlu repot lagi melakukannya. Artinya, uang yang masuk melalui QRIS otomatis langsung masuk ke rekening.

Sementara pembayaran uang cash dari pembeli bisa digunakan untuk belanja kebutuhan kedai pada keesokan harinya. 

Salah satu pembeli mie sop daging, Muhammad Fiqram Ramadhan, wisatawan asal Neusu Banda Aceh mengatakan, makan mie sop di warung Salmalero Cantino sangat membantu bagi para pembeli yang enggan membawa uang cash.

"Bagi kami yang jarang bawa uang cash sangat terbantu untuk pembayaran melalui QRIS, kalau aku tadi scan pakai Shopee pay aja," ucap Fiqram.

Harapan untuk QRIS

Di balik banyaknya kemudahan yang ditawarkan QRIS untuk pelaku usaha dan juga pembeli, tak dipungkiri Azmi ternyata menaruh harapan besar terutama dalam sistem pemotongan Merchant Discount Rate (MDR) bagi pelaku UMKM.

Ia berharap, pemotongan MDR tersebut seharusnya lebih diperkecil lagi, selain itu Azmi juga menginginkan pemotongan cukup dilakukan per hari bukan per transaksi. 

"Harapannya maunya potongannya dikecilkan lagi lah, saya kurang tau persenannya berapa tapi sedikit agak lebih besar. Kalau kita mau menggunakan sistem transefr saja, kita lebih diuntungkan, cuma konsumen gak mau ribet, mereka sukanya pakai QRIS aja. Makanya harapan saya untuk QRIS pemotongan pajaknya diperkecil dan pemotongannya maunya per hari, berapa transaksi dalam satu hari itu dipotongnya sekali aja, bukan per transaksi," pungkas Azmi. 

(Serambinews.com/Firdha Ustin)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved