Jurnalisme Warga

Menikmati Sunset dari Atas Bukit Cinta Santewan Indah

Saat memandang ke arah barat dari pukul 18.00 sampai pukul18.30 WIB terlihat keindahan ‘sunset’ pelan-pelan masuk ke Bumi. Ini menambah keimanan hamba

Editor: mufti
IST
M. ZUBAIR, S.H., M.H., warga Gampong Geulanggang Gampong, Kecamatan Kota Juang, melaporkan dari Bireuen 

M. ZUBAIR, S.H., M.H., warga Gampong Geulanggang Gampong, Kecamatan Kota Juang, melaporkan dari Bireuen

Pada minggu kedua bulan Mei ini dua orang penyair asal Aceh yang bermukim di Jakarta, yaitu Fikar W. Eda dan Mustafa Ismail, ditemani Redaktur Harian Serambi Indonesia dan Prohaba, Yarmen Dinamika, berkunjung ke lokasi objek wisata baru di Bireuen. Ketika tiba di lokasi wisata Desa Geulanggang Gampong, Kecamatan Kota Juang, Kabupaten Bireuen mereka takjub dengan keindahan objek wisata yang sedang dibangun itu.

Mereka disambut dengan keramahan oleh keuchik setempat, Teuku Saifuna, di lokasi yang indah itu.

Saat memandang ke arah barat dari pukul 18.00 sampai pukul18.30 WIB terlihat keindahan ‘sunset’ pelan-pelan masuk ke Bumi. Ini menambah keimanan hamba terhadap kekuasaan Allah, Sang Pencipta langit dan Bumi.

Banyak pengujung  dari luar Desa Geulanggang Gampong dan Kecamatan Kota Juang datang pada sore hari untuk melihat indahnya sunset dari atas Bukit Cinta sambil menikmati  jajanan yang disediakan pada kios-kios yang telah dibangun di lokasi tersebut. Lokasinya,  berhadapan langsung dengan payau “ Paya Santewan” yang juga telah disulap menjadi objek wisata air.

Pada umumnya pengunjung berupaya mengambil foto sunset yang memang tidak lama munculnya untuk diabadikan melalui kamera. Sementara, bila magrib tiba karena menunggu waktu sunset muncul para pengunjung dapat melaksanakan shalat Magrib pada gazebo besar yang disediakan di lokasi itu.

Para pengunjung yang datang ke objek wisata tersebut, termasuk tiga orang tamu dari luar daerah tadi, mengetahui ada lokasi wisata baru di Bireuen melalui tulisan warga yang dipublikasi pada rubrik Jurnalisme Warga Harian Serambi Indonesia. Di sini terlihat sangat berperannya jurnalisme warga dalam membangun desa melalui tulisan, karena wargalah yang lebih mengetahui potensi desanya masing-masing untuk dipublikasi sehingga diketahui publik.

Jurnalis warga bukanlah jurnalis profesional, tetapi dapat melakukan pencarian, pengumpulan, dan penyusunan fakta menjadi sebuah informasi atau berita dengan gaya penulisannya sendiri, tetapi dapat dipahami.

Untuk Aceh, sarana publikasi potensi-potensi desa dapat dilakukan melalui website gampong.id yang telah disediakan oleh pemerintah atau sarana-sarana lainnya. 

Berkat reportase warga Geulanggang Gampong itu telah banyak mendatangkan pengunjung ke desa ini dan tamu dari Jakarta yang datang pada tanggal 8 Mei lalu juga mengabadikan keindahan sunset dari atas Bukit Cinta serta telah ditayangkan pada Harian Prohaba edisi 17 Mei.

Lokasi yang pada awalnya semak belukar itu berkat kegigihan dan kreativitas Keuchik Teuku Saifuna bersama masayarakatnya telah berhasil dibangun sebuah lokasi wisata primadona di Bireuen yang suatu saat akan mendatangkan benefit  besar bagi desa ini, seperti desa-desa wisata  lainnya di luar Aceh.

Teuku Saifuna juga selalu siaga di lokasi dan siap menjadi ‘guide’ bagi tamu-tamu penting dan luar daerah yang hadir ke sana. Kepiawaian Keuchik Pon—demikian  panggilan akrabnya—dalam mejelaskan historis pembagunan objek tersebut telah berhasil menarik perhatian para pejabat penting untuk membantu pembangunan lokasi tersebut.

Jelas terlihat keindahan sunset karena keberadaan Bukit Cinta di dataran tinggi. Dari atas ini juga dapat dipandang indahnya laut Selat Malaka di arah utara serta payau Paya Santewan di bawah Bukit Cinta. Dari atas Bukit Cinta juga dapat dilihat  Kota Bireuen serta di ufuk timur dapat dinikmati indahnya matahari pagi (sunrise). Sungguh menakjubkan lokasi yang diletakkan oleh Allah Swt di Desa Geulanggang Gampong. Tinggal masyarakatnya saja perlu melestarikan dengan berbagai macam cara agar menghasilkan.

Kekaguman terhadap objek wisata ini  juga dinyatakan Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT), Dr A. Halim Iskandar pada saat peletakan batu pertama pembangunan lokasi wisata Bukit Cinta Santewan Indah.

“Matahari terbenam adalah kesempatan bagus bagi kita untuk menghargai semua hal luar biasa yang diberikan matahari kepada kita,” demikian ungkapan Mehmet Muara Lidah terhadap indahnya sunset. Oleh sebab itu, orang-orang yang rela mencari momen sunset pun dikenal dengan istilah “pemburu senja” karena hanya untuk menikmati indahnya senja dari secercah cahaya matahari memerah mulai meredup.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved