Opini
Kerja Cerdas, Kerja Ikhlas
Tulisan ini mencoba memaknakan kalimat Gubernur tersebut dengan harapan agar semua kita dapat memosisikan diri sebagai muslim yang tentunya harus beke
Dr Munawar A Djalil MA, Pegiat Dakwah dan Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh
TULISAN ini terinspirasi oleh pernyataan Pj Gubernur Aceh Bustami Hamzah saat memimpin Rapat Panitia Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI 2024 yaitu tiga hari setelah dilantik menjadi PJ Gubernur Aceh tepatnya 16 Maret 2024 yang saya kutip dari website Pemerintah Aceh.Saat itu Beliau mengatakan untuk menyukseskan PON Aceh-Sumut kita harus mengabdi dan bekerja dengan ikhlas.
Tulisan ini mencoba memaknakan kalimat Gubernur tersebut dengan harapan agar semua kita dapat memosisikan diri sebagai muslim yang tentunya harus bekerja dengan karakter dan nuansa islami.
Prolog di atas sebagai landasan pijak bahwa manusia dan kerja dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Bahkan menurut Islam keadaan dan keberadaan manusia ditentukan oleh aktivitas kerjanya, sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubah apa yang ada pada dirinya” (Ar-ra'du ayat 11). Berangkat dari petunjuk Allah tersebut maka sangat relevan kalau Islam berbicara tentang semangat kerja bagi seorang muslim.
Dalam Islam didapati ada suatu “nuktah” yang sangat fundamental menyangkut semangat kerja itu yaitu bahwa kerja atau amal adalah bentuk keberadaan (mode of existence) manusia artinya manusia ada karena ada kerja dan kerja itulah yang membuat atau mengisi eksistensi kemanusiaan.
Karenanya sungguh sangat beralasan Nabi menjelaskan bahwa Allah mencintai hambanya yang bekerja. Allah sendiri menuntun manusia agar senantiasa bekerja, malah setelah selesai dengan pekerjaan yang satu mesti dilanjutkan dengan pekerjaan yang lain (Al-Insyirah ayat 7). Ini bermakna bahwa manusia dituntut agar terus menerus bekerja tidak berpangku tangan dan bermalas-malasan dalam menempuh kehidupan dunia.
Syahdan, seorang ulama sufi pernah menemui tiga orang tukang batu. Ia bertanya kepada ketiga orang tukang batu tersebut. Apa yang tengah Anda kerjakan? “Saya sedang memecah batu,” kata orang pertama. Pertanyaan yang serupa diajukan kepada tukang batu kedua, dan dia menjawab: “Saya sedang bekerja untuk memenuhi kebutuhan diri dan keluarga saya.” Adapun tukang batu terakhir menjawab dengan: “Saya sedang mendirikan masjid yang megah.”
Kisah ini dapat digunakan untuk mempersepsi bidang tugas yang dijalani seorang muslim dan jawaban yang diberikannya menjadi ukuran bagi sasaran dan tujuan yang ingin dicapai. Apakah kita bekerja untuk kerja itu atau untuk kepentingan kita dan keluarga atau untuk tujuan yang lebih besar. Gambaran dan tujuan yang ingin dicapai ini punya peranan yang sangat signifikan terhadap sikap, perilaku, prestasi dan gaya hidup.
Kerja cerdas
Dalam hal kerja perlu diingat bahwa Allah hanya akan menerima kerja hambanya bila dikerjakan dengan cerdas dan ikhlas yaitu dengan mengharap ridha Allah. Nabi Muhammad saw mengingatkan agar umatnya bekerja dengan sepenuh hati, memiliki sasaran masa depan yang jelas dan mengejar kesempurnaan (perfectness).
Allah mencintai hamba yang memiliki kesempurnaan dalam bekerja (kerja cerdas) dan memiliki tujuan ke depan (kerja ikhlas). Karena Islam adalah sebuah agama di samping mementingkan kesadaran sejarah (masa lalu) juga menekankan agar para penganutnya memandang masa depan, seraya melakukan persiapan-persiapan untuk menghadapinya.
Sehubungan dengan kerja cerdas dan ikhlas terdapat tiga konsep Islam dalam menyikapi masa depan. Pertama, petunjuk Allah agar manusia beriman dan bersiap untuk menghadapi masa depan (Al-hasyr; 18). Kedua, konsep dunia (dekat/taktis) dan akhirat (jauh/strategis) dan penegasan bahwa kehidupan masa depan lebih penting dan strategis (Adh-dhuha ayat 4).
Ketiga, petunjuk bahwa hidup seseorang harus lebih baik di masa depan dibanding masa kini dan masa yang lewat. Sebagai konsekuensi dari keyakinan bahwa hidup seorang muslim harus dipandu oleh agamanya. Maka kita haruslah memiliki pandangan jauh ke depan, terutama berkaitan dengan penanganan tugas-tugasnya.
Hari-hari ini ketika Aceh telah dipercayakan sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI tahun 2024 menuntut kita terutama para stakeholders dengan segenap kemampuan mesti berada di garda terdepan untuk menyukseskan event tersebut. Sebagaimana yang pernah disebutkan oleh Gubernur Aceh Bustami Hamzah sebuah kebahagiaan dan kebanggaan bagi Aceh bila Aceh sukses menyelenggarakan event PON ini.
Bahkan menurut Beliau even ini menjadi pertaruhan bagi Aceh yang menurut penulis bagaimana kemudian Presiden Jokowi dapat tersenyum di Aceh menjelang masa akhir jabatannya, Maka bagi yang memiliki pikiran yang jauh ke depan akan penuh semangat dan optimis serta menempatkan “kerja sukses bersama PON Aceh” bukan hanya untuk kepentingan kerja itu melainkan bagian dari upaya mencari ridha Allah swt. Itulah yang dimaksudkan Gubernur Bustami seperti dalam prolog di atas ketika mengatakan “mengabdi dan bekerja dengan ikhlas”.
Opini Hari Ini
Penulis Opini
Kerja Cerdas Kerja Ikhlas
Dr Munawar A Djalil
PON 2024
PON Aceh-Sumut 2024
| Transformasi Digital dan Stabilitas Makroekonomi Mesin Penggerak Pertumbuhan Ekonomi |
|
|---|
| Polri sebagai Penopang Harapan di Tengah Bencana |
|
|---|
| Belajar Sabar dari Aceh yang Terluka |
|
|---|
| Saat Pemimpin tak Hadir di Tengah Bencana: Dilema Etika Antara Hak Personal & Tanggung Jawab Publik |
|
|---|
| Aceh sebagai Pintu Gerbang Perdagangan Internasional, Mengaspirasi Pembangunan Dubai |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Munawar-A-Djalil-MA-Baru-Bgt.jpg)