Opini

Fiilosofi Haji

SEORANG Teungku pimpinan dayah berkata, Saya khawatir ada bercampur rezeki dengan sesuatu yang syubhat, makanya saya tunda menunaikan Haji

|
Editor: mufti
IST
Syah Reza, Pengkaji filsafat dan peradaban di Islamic Institute of Aceh 

Syah Reza, Pengkaji filsafat dan peradaban di Islamic Institute of Aceh

SEORANG Teungku pimpinan dayah Salafiyah yang cukup dikenal di Aceh Besar pernah mengutarakan alasannya kenapa tidak menunaikan ibadah haji, padahal usianya tergolong sudah tua. Di hadapan muridnya ia mengatakan, “Lon shok meucampu raseuki ngen atra syubhat, hana lon ek haji ilei.” (Saya khawatir ada bercampur rezeki dengan sesuatu yang syubhat, makanya saya tunda menunaikan Haji). Kurang lebih demikian penuturan beliau yang aktivitasnya hanya mengajarkan ilmu agama di dalam dayah.

Dari aktivitas kesehariannya itu bisa dipastikan bahwa sumber rezekinya berasal dari yang halal. Namun sikap wara’ (kehati-hatian) dalam persoalan dunia, melekat pada prinsip hidup ketika menyentuh persoalan ibadah. Sebagaimana Haji adalah perjalanan suci, maka bagi orang yang paham hakikat dari setiap ibadah, ia akan membersihkan dan menyucikan jiwanya dan fisiknya terlebih dahulu. Dalam hal fisik, materi yang dipakai sangat dipertimbangkan. Karena kualitas haji yang diperoleh, mabrur atau tidak, sangat ditemukan oleh kedua hal tersebut.

Baitullah

Haji adalah rukun Islam terakhir yang memiliki esensi dan nilai cukup dalam. Ibadah haji esensinya sebuah perjalanan pulang kepada Allah. Perjalanan menuju tempat paling mulia di dunia yaitu Baitullah atau ‘Rumah’ Allah. ‘Rumah’ Allah di sini sekalipun telah disebutkan dalam riwayat, tetapi tidak bermakna bahwa Tuhan bertempat. Istilah tersebut hanya bahasa metafora secara simbolik sebagai sentral ibadah umat Islam di dunia, dimana melaksanakan haji diperintahkan oleh Allah sendiri dalam Kalam-Nya (QS. Ali Imran:97 / Al-Hajj:27).

Selain itu, secara filosofis, ‘Rumah’ Allah juga bermakna bahwa Tuhan dekat dengan Manusia (imanensi). Jika terjemahan kata ‘Rumah Allah’ terlintas dalam imajinasi (tasawwur) seperti gambar rumah yang didiami manusia, maka penggunaan redaksi aslinya, baitullah jauh lebih selamat. Menjaga pikiran agar tidak terjebak dalam antropomorfisme (menyerupakan Tuhan dengan makhluk).

Menuju Baitulllah dalam rangka menunaikan haji, kita harus menanggalkan semua atribut dunia. Meninggalkan keluarga di kampung halaman, orang-orang tercinta, harta kekayaan, jabatan elite, pekerjaan, pakaian mewah, kendaraan dan seluruh aktivitas dunia yang dibanggakan.

Perjalanan ini hakikatnya adalah perjalanan ruh di dunia, sebelum benar-benar menuju alam kematian. Ruh karena diciptakan dari alam kemuliaan (alam uluwwiy), maka kebutuhannya bersifat ilahiyah, yaitu hanya ingin dekat dengan Tuhan. Maka, perjalanan haji tidak akan bernilai jika memiliki orientasi selain untuk dekat (baca: Ibadah) kepada-Nya secara totalitas.

Hakikat haji

Ibadah haji dikenal salah satu ibadah sakral yang dilakukan pada bulan Dzulhijah. Kesakralannya bukan hanya pada bentuk ibadahnya, tetapi juga tampak dari penghormatan masyarakat terhadap mereka yang akan menunaikan ibadah haji. Penghormatannya dalam berbagai bentuk mewarnai tradisi umat Islam di dunia, yang sebagiannya mengakar secara turun temurun. Misal di Aceh, mereka yang akan berangkat haji, akan dipeusijuek (tepung tawar), mengadakan kenduri, dan bersalam-salaman dengan masyarakat kampung.

Tak hanya itu, tradisi mengantarkan orang yang akan berangkat haji dilakukan secara beramai-ramai, baik dari keluarga inti hingga masyarakat kampung menuju tempat pelepasan utama masih melekat pada masyarakat kampung. Sama halnya seperti mengantarkan jenazah menuju pemakaman. Ada perasaan akan berpisah selamanya.
Maka, sudah menjadi kebiasaan, beberapa waktu sebelum berangkat haji, hutang dilunaskan, harta warisan diwasiatkan pada keluarga, dan segala yang terkait dengan manusia diselesaikan.

Melaksanakan haji termasuk ibadah yang sangat tinggi kedudukannya dalam Islam. Sampai Umar ibn Khattab mengecam orang yang tidak melakukan ibadah suci, katanya, “Siapa yang mampu melaksanakan haji dan dia tidak berangkat haji, sama saja, dia mati yahudi atau mati nasrani.” Status disamakan dengan non muslim adalah sebuah penekanan bahwa haji bukanlah perkara ibadah yang remeh. Orang yang cinta pada dunia akan berat melaksanakan ibadah haji. Dalihnya bermacam model, “terlalu banyak dosa,” masih ada tanggungjawab lain,” lebih parah lagi alasan “belum dapat panggilan dari Tuhan.” Sungguh Ironis.

Ada beberapa aturan (rukun) yang wajib diperhatikan. Mulai dari pakaian hingga tahapan ibadah. Di Miqat, mengawali ibadah haji, semua manusia harus melepaskan segala pakaian ‘dunia’ yang biasanya ia gunakan sehari-hari, menggantikan dengan memakai 2 helai kain putih panjang dengan bahan sederhana (kafan), tidak dijahit. Satu helai dipakai di bahu, dan satunya lagi dililitkan menutupi badan hingga di atas mata kaki, yang disebut pakaian Ihram.

Perempuan menggunakan pakaian putih yang menutupi seluruh tubuh, kecuali telapak tangan dan muka. Tidak ada perbedaan pakaian dalam menunaikan haji yang kriterianya telah dibahas oleh ulama dalam kitab-kitab fiqh. Apa maksud melepaskan pakaian yang biasa digunakan lalu diganti dengan kain putih?

Ali Syariati dalam karyanya Haji mengatakan bahwa pakaian itu membuat perbedaan dan sekat-sekat sosial. Katanya, ”Pakaian melambangkan pola, preferensi, status, dan perbedaan-perbedaan tertentu. Pakaian menciptakan “batas” palsu yang menyebabkan “perpecahan” di antara umat manusia. dan hampir semua perpecahan itu melahirkan “diskriminasi.”

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved