Opini

Fiilosofi Haji

SEORANG Teungku pimpinan dayah berkata, Saya khawatir ada bercampur rezeki dengan sesuatu yang syubhat, makanya saya tunda menunaikan Haji

|
Editor: mufti
IST
Syah Reza, Pengkaji filsafat dan peradaban di Islamic Institute of Aceh 

Selanjutnya dari “perpecahan” itu timbul konsep ‘aku’, bukan ‘kami, kita, aku’ dipergunakan di dalam konteks-konteks seperti: Rasku, kelasku, sukuku, kelompokku, kedudukanku, keluargaku, nilai-nilai dan bukan “Aku” sebagai manusia.
Pakaian ihram mengandung esensi akan keinginan Tuhan mempersatukan manusia saat menuju pada-Nya. Pakaian kehormatan dan kemewahan dengan merek tertentu yang biasa dikenakan sebagai atribut pembeda antara seorang manusia dengan orang lain harus ditanggalkan.

Di sini mengandung aspek ajaran Islam telah menghapus kelas sosial, kasta manusia, jenis kelamin, ego dan jabatan dunia. Semuanya egaliter di sisi Allah, yang membedakan adalah kualitas penghambaan (Baca: Taqwa). Semua muslim mengenakan pakaian ihram melambangkan kesamaan status sebagai hamba di hadapan Tuhan.
Setelah Ihram di Miqat, kita menyaksikan gelombang manusia berjalan melewati padang pasir tandus, seperti gambaran di padang mahsyar. Kemudian melaksanakan wukuf di Arafah, thawaf ifadhah, melakukan sa’i, dan tahallul. Tahapan tersebut dilakukan secara berurutan dan tertib sebagai syarat sahnya ibadah haji.

Haji mabrur

Banyak orang yang melakukan ibadah haji, namun sedikit yang membawa bekas bahwa ia benar-benar telah beribadah pada-Nya. Sama halnya dengan ibadah shalat, yang mestinya membawa efek bagi perilakunya, namun tidak didapatkan. Karena ibadah yang dilakukan hanya sebatas ritual simbolik semata, tanpa ruh berupa kusyu’.
Dalam haji juga demikian, ia hanya melakukan tahapan haji untuk menggugurkan tanggungjawabnya secara syariat, tapi dirinya sama seperti sebelumnya, tidak ada yang berubah, kecuali bertambah gelar “haji” di depan namanya.

Maka, Al-Hujwiri (w. 1063 M) seorang guru sufi asal Afghanistan dalam karyanya Kasyful Mahjub  mengategorikan haji ada 2 macam; pertama, haji yang kosong hati dari Tuhan (haji zahir), yaitu mereka yang menunaikan haji secara zahir syariat saja, sehingga tidak mendapat kedekatan dengan-Nya. Kedua, haji yang hadir hati bersama Tuhan (haji hakiki), yang menyebabkan seseorang mengalami perubahan spiritual dan haji merevolusi pribadinya menuju pribadi yang shaleh, sehingga mendapat derajat sebagai muqarrabin (hamba yang dekat dengan-Nya). Kategori terakhir ini harapan bagi semua muslim yaitu haji mabrur.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved