Opini

Menikmati Perjalanan Ibadah Haji

Melaksanakan ibadah haji merupakan bentuk ketaatan dan pengabdian kepada Sang Pencipta yang harus dijalankan dengan penuh keikhlasan dan ketundukan.

Editor: mufti
IST
M ZUBAIR CR 

M Zubair SH MH, Jamaah  Haji Kolter 2 BTJ asal Bireuen

KEBERANGKATAN jamaah calon haji Indonesia sudah dimulai sejak tanggal 11 Mei lalu, dan khusus untuk daerah Aceh kloter 1 mulai masuk Asrama Haji pada tanggal 28 Mei dan berangkat tanggal 29 Mei serta dilanjutkan dengan kloter-kloter berikutnya sampai berakhir kloter 12 pada tanggal 10 Juni. Persiapan pelaksanaan ibadah haji tahun 1445 H/2024 M ini sudah lama berlangsung dan saat ini puncak proses pemberangkatan dengan pelayanan yang lebih bagus dari tahun lalu.

Setiap manusia yang menyatakan dirinya muslim serta telah mampu, dapat dipastikan mempunyai hasrat dan cita-cita yang sama yaitu dapat melaksanakan rukun Islam kelima dengan menunaikan ibadah haji. Qur’an surah Ali Imran: 96 menyebutkan “Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia, ialah (Baitullah) yang berada di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan petunjuk bagi seluruh alam.

Selanjutnya ayat 97 surah yang sama menjelaskan, “di sana terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barang siapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia, dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah maha karya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.

Walaupun perjalanan ibadah haji melelahkan namun menyenangkan karena telah dapat berkunjung ke Baitullah tempat mustajabah doa-doa bagi umat Islam yang ikhlas menunaikan ibadah haji. Minat dan hasrat umat Islam di dunia termasuk di Indonesia dari tahun ke tahun semakin meningkat walau beriring waktu musim haji biaya perjalanan ibadah haji (BPIH) yang cenderung selalu meningkat.

Tingginya minat kaum muslim untuk menunaikan ibadah haji sehingga terkesan berjubel dan berduyun-duyun walaupun harus setia menunggu giliran yang cukup lama, mengindikasikan semakin tingginya pemahaman dan kesadaran serta kemampuan finansial umat Islam itu sendiri.

Dengan tingginya minat kaum muslimin untuk menunaikan rukun Islam kelima itu maka Pemerintah pun terus berupaya memperbaiki kualitas pelayanan di segala bidang baik pelayanan bagi jamaah calon haji yang masih berada di tanah air maupun setelah berada di Saudi Arabiah.

Ibadah istimewa

Perbaikan pelayanan tersebut adalah sebagai pengimplementasian pasal 2 undang-undang nomor 13 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji yang menegaskan, “Penyelenggaraan Ibadah haji dilaksanakan berdasarkan asas keadilan, profesionalitas dan akuntabilitas dengan prinsip nirlaba”. Pasal ini sangat kuat dan mengikat bagi semua stakeholder  pelaksana ibadah haji sampai kepada aplikasi di lapangan.

Perjalanan ibadah haji yang melelahkan mulai dari tanah air sampai puncak pelaksanaan kegiatan di Armuna (Arafah, Muzdalifah dan Mina) akan terasa nikmat bila dijalankan dengan ikhlas dan menghayati nilai-nilai spiritualnya. Hal itu karena ibadah haji adalah salah satu rukun Islam yang memiliki kedudukan sangat istimewa dalam agama Islam, dimana setiap tahun jutaan ummat muslim dari berbagai belahan dunia berkumpul di Tanah Suci Mekkah untuk menjalankan ibadah yang penuh makna ini.

Setidaknya ada empat poin yang bisa dirasakan kenikmatan dalam menjalankan ibadah haji sebagai perjalanan menyenangkan untuk menyelami makna haji dalam Islam.  Pertama, nilai spiritual dalam ibadah haji, Ibadah haji memiliki banyak nilai spiritual yang menjadi landasan bagi penghayatan ummat muslim, yaitu haji merupakan perintah langsung dari Allah swt kepada ummat muslim yang mampu secara fisik dan finansial.

Melaksanakan ibadah haji merupakan bentuk ketaatan dan pengabdian kepada Sang Pencipta yang harus dijalankan dengan penuh keikhlasan dan ketundukan. Selain itu, ibadah haji juga mengajarkan nilai-nilai kesederhanaan dan persaudaraan yang bisa tergambarkan saat melaksanakan ibadah haji, semua jamaah haji mengenakan pakaian ihram yang sederhana dan seragam, tanpa memandang perbedaan status sosial atau kekayaan. Ini mengingatkan setiap orang akan kesetaraan di hadapan Allah swt dan pentingnya sikap persaudaraan di antara sesama manusia.

Kedua, mendalami makna ritus-ritus haji, melaksanakan ibadah haji juga merupakan kesempatan untuk mendalami makna setiap ritual yang dilaksanakan selama ibadah tersebut. Misalnya, tawaf di sekitar Ka’bah dapat mengajarkan kepada setiap muslim tentang keberanian untuk menghadapkan diri sepenuhnya kepada Allah swt.

Kemudian Sa’i antara  Bukit Shafa dan Marwah mengingatkan kita akan kesetiaan dan ketekunan Nabi Ibrahim dan Hajar dalam menghadapi cobaan Allah swt. Ketiga, transformasi spiritual dan penyucian diri, perjalanan ibadah haji juga merupakan waktu yang sangat tepat untuk melakukan introspeksi diri dan perubahan spiritual.

Selama ibadah haji, setiap individu dihadapkan pada momen-momen menggetarkan hati, seperti wukuf di Arafah yang merupakan puncak dari ibadah haji. Saat itu ummat muslim berdiri di bawah terik matahari, menghadapkan diri kepada Allah swt memohon ampunan, dan melakukan refleksi mendalam atas dosa-dosa dan kesalahan yang telah dilakukan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved