Jurnalisme Warga
Lika-liku Menjadi Guru Penggerak
Terdapat perjalanan panjang yang harus dilalui dengan serangkain proses penting dalam setiap tahapannya yang berguna untuk menguatkan nilai dan peran
AZWAR ANAS, Guru Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe, Guru Penggerak Angkatan 9 Kota Lhokseumawe, dan Pegiat FAMe, melaporkan dari Lhokseumawe
Balai Guru Penggerak (BGP) Provinsi Aceh secara resmi telah menutup rangkaian program Pendidikan Guru Penggerak (PGP) Angkatan 9 pada Selasa (28/5/2024). Kegiatan ini dilaksanakan secara virtual dan dihadiri oleh seluruh calon guru penggerak (CGP), pengajar praktik (PP), serta fasilitator yang selama ini ikut andil dalam menyukseskan kegiatan PGP.
Dalam pertemuan maya ini, Kepala BGP Aceh, Teti Wahyuni, secara resmi menutup program PGP dan menyatakan harapannya ke depan agar para guru penggerak yang telah menyelesaikan pendidikannya ini mampu menjadi pemimpin pembelajaran yang akan memajukan pendidikan di Indonesia.
Seiring dengan penutupan PGP tersebut pula, seluruh CGP angkatan 9 yang telah menyelesaikan pendidikan sejak April lalu, kini resmi menyandang status sebagai guru penggerak. Hal ini juga ikut dibuktikan dengan diterbitkannya Surat Tanda Tamat Pendidikan yang dikeluarkan oleh Kemdikbudristek dan dapat diunduh oleh para guru penggerak melalui akun SIMPKB masing-masing.
Status baru sebagai guru penggerak tentunya akan menguatkan peran mereka sebagai pemimpin pembelajaran yang akan mendorong tumbuh kembang murid, serta aktif berkolaborasi dengan pendidik lain untuk mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid guna terciptanya murid dengan profil pelajar Pancasila.
Menjadi guru penggerak tentunya akan memberikan keleluasaan bagi pendidik untuk berperan aktif dalam melakukan transformasi pendidikan. Hal ini dikarenakan guru penggerak telah memiliki bekal yang cukup baik dalam memahami pelaksanaan proses pendidikan yang ideal melalui serangkaian pembelajaran yang telah dilaluinya. Jika dilihat kembali berdasarkan kilas balik yang telah saya lalui, untuk menjadi seorang guru penggerak tidaklah instan.
Terdapat perjalanan panjang yang harus dilalui dengan serangkain proses penting dalam setiap tahapannya yang berguna untuk menguatkan nilai dan peran guru penggerak sendiri.
Langkah awal untuk menjadi guru penggerak adalah dengan mengikuti seleksi guru penggerak yang terdiri atas beberapa tahapan. Tahap pertama adalah registrasi pada laman yang telah disediakan oleh Kemdikbudristek. Pada tahap ini, CGP akan mengisi biodata diri serta dokumen pendukung lain seperti KTP, surat dukungan dari kepala sekolah, surat referensi, serta SK pembagian tugas mengajar. Pada tahap awal ini juga CGP diminta untuk mengunggah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang nantinya akan digunakan untuk simulasi mengajar jika telah melewati seleksi tahap pertama, serta menjawab beberapa pertanyaan yang diberikan dan dituangkan dalam bentuk esai.
Selesai melewati seleksi tahap pertama, jika CGP dinyatakan lolos maka akan masuk ke seleksi tahap selanjutnya, yaitu simulasi mengajar dan wawancara. Pada seleksi simulasi mengajar, CGP melakukan praktik mengajar dengan durasi waktu yang telah ditentukan serta ikut disimak oleh penilai yang dilakukan melalui konferensi video.
Simulasi dilakukan di ruangan tanpa murid, tetapi CGP harus mempraktikkan proses pembelajaran seolah-olah sedang mengajar langsung di depan para murid.
Selanjutnya setelah melewati tahapan ini, CGP memasuki tahap wawancara yang juga dilakukan melalui konferensi video. Tahap ini dilaksanakan sekitar satu jam dan dipandu oleh dua pewawancara dengan pertanyaan seputar pengalaman CGP dan keterlibatannya selama ini dalam dunia pendidikan.
Jika berhasil melewati berbagai seleksi tersebut, CGP kemudian akan mengikuti masa pendidikan yang diselenggarakan selama enam bulan. Dalam masa pendidikan ini, CGP mengikuti serangkaian kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan secara virtual menggunakan Learning Management System (LMS) khusus yang telah disiapkan oleh Kemdikbudristek. Agar memudahkan para CGP dalam menyelesaikan setiap tahapan pendidikan, alur pembelajaran pada LMS ini diatur menggunakan format M-E-R-D-E-K-A, yaitu mulai dari diri, eksplorasi konsep, ruang kolaborasi, demonstrasi kontekstual, elaborasi pemahaman, koneksi antarmateri, serta aksi nyata.
Pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan alur tersebut mampu mewujudkan proses pembelajaran mandiri yang menguatkan nilai para CGP.
Pada alur mulai dari diri, CGP akan mempelajari gambaran singkat mengenai topik pembahasan serta tujuan dan latar belakang topik tersebut. Di sini juga biasanya akan diberikan berbagai situasi atau pertanyaan reflektif untuk menggali pemahaman dasar CGP mengenai topik yang dibahas.
Begitu pula dengan alur eksplorasi konsep yang memaparkan konsep-konsep terkait topik yang dipelajari CGP serta adanya kolom refleksi untuk memperdalam pemahaman mereka.
| Langkahan Pascabanjir: Kesaksian dari Tanah yang Dihantam Bah dan Kayu |
|
|---|
| TKA Aceh di Peringkat 31: Apa yang Salah dengan Pendidikan Kita? |
|
|---|
| Kokurikuler sebagai Jalan Menuju Sekolah Aman Bencana di SMAN 1 Matangkuli |
|
|---|
| Pendidikan Aceh: Sinergi dan Optimis Pascabencana |
|
|---|
| ‘Makjun’ Warisan Leluhur Aceh Patut Mendapat Pengakuan WHO dan UNESCO |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/AZWAR-ANAS-SPd-Pegiat-FAMe-Chapter-Lhokseumawe-dan-Wakil-Kepala.jpg)