Jurnalisme Warga
Tradisi Lebaran: Antara Patani-Thailand dan Aceh
Tradisi lebaran alias hari raya adalah hari-hari dimana umat Islam merayakan sesuai dengan adat dan budaya di negerinya masing-masing.
Laporan : Irfan Sa-u
Dalam setahun terdapat dua momentum lebaran bagi umat Islam, yaitu Lebaran Idul Fitri (Hari Raya Puasa) dan Lebaran Idul Adha (Hari Raya Haji).
Selain mengumandangkan takbir, umat Islam merayakan lebaran dengan tradisi yang berbeda-beda, sesuai kearifan lokal masing-masing.
Tradisi lebaran alias hari raya adalah hari-hari dimana umat Islam merayakan sesuai dengan adat dan budaya di negerinya masing-masing. Berbeda-beda namun mempunyai tujuan yang sama, yaitu memeriahkan syiar agama Islam.
Perayaan lebaran di kampung saya, yaitu Provinsi Yala di Kawasan Patani, Thailand, agak berbeda dengan cara orang Aceh, Indonesia, merayakannya. Inilah namanya budaya dan tradisi. Tentu saja ini dibenarkan dalam agama Islam.
Patani adalah wilayah mayoritas Islam di Thailand. Patani meliputi Provinsi Pattani, Yala, Narathiwat, Songkhla dan Satun. Provinsi songkhla dan Yala berdekatan dengan Negeri Kedah, Malaysia.
Di Negeri Kedah terdapat beberapa gerbang masuk ke Thailand, termasuk yang paling terkenal yaitu Bukit Kayu Hitam. Pengunjung tinggal cap paspor di gerbang ini dan dapat berjalan kaki ke Kota Danok, Provinsi Songkla.
Penduduk dari kalangan etnik Melayu di kawasan Patani mempunyai adat dan budaya tersendiri, yaitu budaya Melayu Patani.
Lebaran di Patani, Thailand
Tradisi merayakan hari raya di Patani, Thailand, tentu saja beda dengan di Aceh. Di Patani, menjelang bulan Ramadhan atau 10 malam akhir Ramadhan para pemuda/i dan penduduk kampung membangun "Pintu Gerbang" di jalan utama masuk masjid pada setiap kampung, perbatasan kampung, dan di area terbuka (padang luas).
Ini dilakukan hampir setiap kampung yang berada di selatan Thailand. Pemandangan ini dilakukan setiap tahun, sebagai satu jalan untuk membangun jiwa pengkhidmatan dan kesatuan dalam persatuan kampung.
Selanjutnya, setelah shalat Idil Fitri di masjid, masyarakat kampung itu berfoto ramai-ramai depan "Pintu Gerbang" yang telah mereka bangun selama bulan puasa.
Rasanya belum sah lebaran kalau belum ada foto diri atau bersama keluarga di gerbang yang telah dihiasi itu. Foto diabadikan bersama keluarga, kerabat, pribadi maupun persatuan pemuda/i kampung.
Bahkan jika ada kampung yang membangun "Pintu Gerbang" yang unik atau menarik dipandang mata, maka masyarakat luar pun ikut datang untuk mengambil memory yang indah itu di pagi hari raya itu.
Sementara perayaan Idul Adha agak biasa-biasa saja di Patani. Ini tentu agak beda dengan yang terjadi di Aceh. Saya beruntung dapat menyaksikan hal-hal yang beda di Aceh.
Tradisi Lebaran di Aceh
Tradisi lebaran di Aceh sangat meriah, baik Idul Fitri maupun Idul Adha. Ini luar biasa, menunjukkan Aceh kaya akan budaya dan harta untuk digunakan pada hari raya.
Di Aceh ada tradisi "meugang" atau “makmeugang”, yaitu tradisi penyembelihan lembu atau kerbau untuk disantap pada hari raya.
Terdapat tiga momen meugang dalam setahun, yaitu meugang puasa, meugang hari raya puasa dan meugang hari raya haji. Daging segar dijual di setiap pasar dan jalan raya.
Warga pun membeli daging, walau harga mahal. Makanya di Aceh di hari meugang pasar-pasar penuh sesak.
Tradisi meugang ini tidak ada di Patani. Ini menjadi pengetahuan dan pengalaman baru bagi kami sebagai mahasiswa asal Patani di Aceh.
Kami dapat melakukan kontak sosial dengan penduduk setempat di Aceh di hari meugang. Kami mempelajari keistimewaan hari meugang dan dapat berkhidmat menikmati daging yang diberikan oleh penduduk setempat.
Pada hari pertama lebaran Idul Adha 2024, kami dari komunitas pelajar Thailand di Aceh berkunjung dan silaturahmi ke rumah dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Hasan Basri M Nur.
Beberapa orang dari kami yang datang dari Thailand berstatus mahasiswa. Sebagian lagi adalah santri di Dayah Darul Ihsan, Dayah Babul Maghfirah Cot Keu-eung dan Dayah Oemar Diyan Indrapuri. Terdapat seorang santriwati asal Thailand dan dia tinggal bersama keluarga Pak Hasan selama liburan.
Kepada kami dihidangkan makanan yang tidak pernah kami makan, bahkan tidak ada di Patani, yaitu lontong daging rendang dan kue timphan.
"Kue ini tidak ada di tempat lain di dunia, hanya ada di Aceh saja. Namanya timphan," ujar Hasan Basri M Nur saat menjamu kami.
Memang kue itu rasanya enak, manis dan lembut. Baru kali ini kami menikmati "timphan asoe kaya".
Selain itu, kami juga menikmati lontong dengan lauk daging meugang yang dibeli sebelum hari raya Idul Adha. Lontong juga tidak terdapat di Patani.
Lontong itu enak dan mengenyangkan. Lontong terbuat dari beras/nasi yang dibuat dalam bentuk batangan bulat. Disajikan dengan kuah sayur bersantan serta daging rendang.
Hari itu, dua kawan kami terpaksa cepat pulang karena kami lupa mematikan kompor di rumah kos. Kebetulan kami mendapat daging kurban di tempat kami tinggal di Darussalam.
Menariknya, kepada kawan kami yang cepat pulang itu turut dibungkus lontong agar keduanya dapat merasakan bagian tradisi lebaran di Aceh, yaitu makan lontong.
Selain itu, dalam amatan kami tradisi lebaran di Aceh setiap rumah menyediakan aneka makanan untuk tamu seperti kacang, kue seupet kuwet, keukarah, sie reuboh, dan kue bawang hingga aneka bolu.
Terdapat satu hal lain yang berbeda, yaitu saat tamu terutama dari kalangan anak-anak dan pelajar berkunjung ke rumah tertentu, ikut diberikan uang jajanan atau “salam tempel”.
“Wah, seru juga kami ikut disalami dengan cara tempel,” hati saya berbisik.
Pada momen Lebaran Idul Adha 2024 kami juga bertemu dengan Pak Zainal Arifin M Nur di rumah Pak Hasan.
Pak Zainal yang merupakan Pimpinan Redaksi Serambi Indonesia terlihat sangat ramah, berbagi cerita dengan kami terkait tradisi lebaran di dua negara. Pak Zainal bersama keluarga mengaku hendak ke Patani dalam waktu dekat.
Begitulah perayaan lebaran dalam dua tradisi dan budaya yang berbeda, antara Patani dan Thailand.
Kami mengharapkan terjadi jalinan ikatan persaudaraan yang lebih erat lagi antara Aceh dan Patani, Insya Allah.
Banda Aceh, 24 Juni 2024
Irfan Sa-u adalah mahasiswa asal Thailand di Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG) Banda Aceh, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, email: ppangttao@gmail.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Irfan-Sau-kanan-berbincang-dengan-Zainal-Arifin-M-Nur.jpg)