Citizen Reporter
Perjalanan Seorang Pendidik, dari Caleu ke California
Saya merasa beruntung mendapatkan penempatan di California karena konon kota-kota di negara bagian ini semisal San Francisco dan Los Angeles merupakan
MARTHUNIS, M.A., Direktur Sekolah Sukma Bangsa Pidie dan Anggota FAMe Chapter Pidie, melaporkan dari California, Amerika Serikat
Berdomisili di Caleu, Pidie, sejak tahun 2012 sebagai guru di Sekolah Sukma Bangsa Pidie, saya sering bergurau jika ditanyai tinggal di mana, jawabannya adalah di "Caleufornia".
Kadarullah, ternyata gurauan tersebut benar-benar mengantarkan saya ke California, Amerika Serikat (AS), tahun ini. Saya lolos menjadi satu-satunya wakil Indonesia dalam program pertukaran Study of the U.S. Institute (SUSI) for Secondary Educators 2024. Sebuah program pertukaran guru, pendidik, dan para pimpinan sekolah dari seluruh dunia yang didanai penuh oleh Departemen Luar Negeri AS, Bidang Pendidikan dan Kebudayaan.
Program SUSI for Secondary Educators 2024 ini membawa serta 60 orang guru, pendidik, dan para pimpinan sekolah dari 60 negara berbeda yang dikelompokkan pada tiga penempatan yang berbeda pula: The University of Montana (UM) di Missoula sebanyak 20 orang, The Institute for Training and Development (ITD), Amherst, Massachusetts, sebanyak 20 orang, dan 20 lainnya di California State University, Chico.
Saya termasuk ke dalam rombongan yang ditempatkan di Kota Chico, California.
Saya merasa beruntung mendapatkan penempatan di California karena konon kota-kota di negara bagian ini semisal San Francisco dan Los Angeles merupakan dua dari beberapa kota di AS yang terkenal ramah terhadap muslim selain New York, New Jersey, Chicago, Houston, Dallas, dan Philadelphia.
Penempatan saya tidak persis di Kota San Francisco, melainkan di Kota Chico yang berjarak sekitar tiga jam perjalanan darat dari San Francisco. Kota ini merupakan kota kecil di utara California yang dihuni oleh banyak imigran dari Meksiko, Tiongkok, Taiwan, dan sebagian kecil dari Timur Tengah sehingga Chico juga ramah bagi pendatang dari berbagai belahan dunia, termasuk muslim.
Meskipun komunitas muslim di kota ini terbilang kecil, tetapi terdapat sebuah masjid yang telah berdiri sejak tahun 1979 bernama Islamic Center of Chico (ICC) yang menjadi pusat kegiatan muslim di kota tersebut.
Dalam salah satu sesi perkuliahan yang diselenggarakan oleh program SUSI 2024, kami dipertemukan dengan para imigran dari beberapa negara yang telah menetap di Chico selama belasan hingga puluhan tahun. Sebagian besar di antara mereka bahkan telah menjadi warga negara AS. Mereka bercerita tentang pengalaman serta perjalanan sebagai imigran hingga akhirnya secara resmi mendapatkan kewarganegaraan AS.
Dalam sesi itu saya juga bertemu dengan salah seorang mahasiswi asal Palestina yang mengenakan cadar, ikut membagikan ceritanya sebagai imigran di AS. Dia telah tinggal di AS selama belasan tahun. Awalnya tidak mudah baginya ketika pindah dari Palestina ke AS. Menemui banyak ‘culture shock’ dan ragam penyesuaian yang harus dilakukan. Perlahan tapi pasti, karena Konstitusi AS menjamin kebebasan dan keberagaman dengan sangat baik, dia tidak perlu canggung menunjukkan identitasnya sebagai muslimah di hadapan publik.
Sejauh ini dia merasa sangat aman dan nyaman berhijab dan bercadar di AS. Meskipun tetap saja ada oknum-oknum yang, menurutnya, rasis. Namun, secara kolektif masyarakat AS sangat menghargai perbedaan dan keberagaman, seperti halnya di Kota Chico.
Oleh karena itu, selama beberapa pekan terakhir saya berada di kota ini, orang-orang yang saya temui sangatlah ramah dan tidak sulit bagi saya menemukan makanan halal di sini. Terdapat juga restoran-restoran Asia dengan harga yang masih tergolong miring.
Kemudian, selama berada di California, selain Kota Chico, saya berkesempatan mengunjungi dua kota lainnya: San Francisco dan Sacramento. Ketiga kota ini memiliki keunikan masing-masing. Chico dikenal sebagai "kota pohon", karena kota ini memiliki banyak sekali pohon rindang di sepanjang jalanan kota. Sehingga, dengan musim panas seperti saat ini di California yang bisa mencapai 40 derajat Celsius, banyaknya pepohonan rindang sangat membantu pejalan kaki menghindari matahari yang menyengat.
Kota ini juga terkenal dengan sektor pertaniannya, khususnya tanaman almond dan walnut yang diekspor ke negara-negara Uni Eropa, Cina, dan India.
Berbeda dengan Chico yang relatif sepi dan tenang, San Fransisco adalah kota yang sibuk dan ramai karena kota ini memang menjadi salah satu primadona tujuan wisata di AS. Terdapat banyak sekali objek wisata di kota ini, selain Jembatan Golden Gate, Lombard Street, Twin Peaks.
Citizen Reporter
Penulis CR
Penulis Citizen Reporter
Perjalanan Seorang Pendidik dari Caleu ke Californ
MARTHUNIS MA
| Rahasia di Balik Kemajuan dan Keteraturan Singapura |
|
|---|
| Indonesia Kaya SDA, Tapi Mengapa Rakyat Miskin dan Bodoh? |
|
|---|
| Student Exchange UIN Ar-Raniry Kunjungi Masjid Jame' Asr Hassanil Bolkiah, Brunei Darussalam |
|
|---|
| Jemput Ilmu dan Jaringan Internasional: 13 Mahasiswa UIN Ar-Raniry Terbang ke Brunei Darussalam |
|
|---|
| 13 Mahasiswa UIN Ar-Raniry Lulus Program Student Exchange ke Brunei Darussalam 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/MARTHUNIS-M-A-OKE.jpg)