Kupi Beungoh

Aku Bertuhan, Maka Bertahan

Apabila mendapat anugerah sakit, kita tidak boleh berdiam diri tanpa usaha untuk sembuh, tetapi kita dituntut untuk ikhtiar semaksimal mungkin.

Editor: Agus Ramadhan
FOR SERAMBINEWS.COM
Tgk Mukhlisuddin, Ketua PD IPARI Pidie dan Pengurus DPP ISAD Aceh 

*) Oleh Tgk. Mukhlisuddin

SENIN, 8 Mei 2017 itu telah merubah harapan dan arah hidupku, siang harinya sepulang kerja di KUA Bandar Dua, kenormalam berjalan dan bergerak telah berubah.

Kondisi kesehatan terjun bebas serasa malaikat Izrail datang dan menunaikan janjinya.

Mulai siang itu keceriaan telah berubah, semangat menjadi patah hanya ucapan zikir, istihfar disertai cucuran air mata yang mebasahi, seolah harapan dan cita-cita yang sempat tertata hancur semua.

Langkah awal siang itu yaitu mencoba juice seledri untuk menurunkan hipertensi dan air kelapa muda untuk meringankan kondisi panik, hingga malam itu dibawa ke tempat kusuk saraf di Matang Glumpang Dua sebagai ikhtiar untuk langkah pertama penyembuhan.

Kondisi belum berubah, malamnya seperti benar berakhir kehidupan ini, semua anggota tubuh sudah tidak bisa digerakkan dan kepanikan terus membuncah di kala keluarga sudah hadir ke tempat kami di Samalanga malam itu, hingga akhirnya besok ke IGD RSUD Fauziah Bireuen dan terdiagnosa Stroke dan harus dirawat.

Singkat cerita, rawatan di Bireuen tidak sanggup berbuat banyak dan harus dirujuk ke RS Zainal Abidin Banda Aceh.

Tahapan rawatan di Banda Aceh berjalan baik dan disampaikan bahwa pasien diserang Stroke Iskemix berupa penyumpatan di sel otak sisi kanan dan bakal mengalami kerusakan motorik dalam beberapa waktu.

Stroke iskemik, atau stroke penyumbatan, memang memiliki harapan hidup yang lebih baik daripada stroke hemoragik.

Pada 30 hari pertama setelah stroke, angka kematian untuk stroke iskemik adalah 28 persen, dan angka bertahan hidup selama 1 tahun adalah 77 % .

Namun, tingkat kecacatan pada stroke iskemik bisa lebih berat karena kerusakan neuron-neuron yang terkena iskemik.

Setelah rawatan di RSUZA, akhirnya diberikan izin pulang untuk rawat jalan, dan seiring waktu terus berobat dengan kondisi yang terus membaik dari sebelumnya lumpuh total hingga hanya tersisa beberapa organ yang masih sulit untuk diajak kerjasama.

Beragam ikhtiar terus dilakukan, rutin konsul dengan dokter, ikuti teraphy stroke, ke tempat kusuk stroke, berolahraga ringan, bersauna uap, mengatur pola makan sehat, mengkonsumsi madu dan aneka herbal, membangun semangat spiritual dengan mengikuti kajian agama, membangun kepercayaan diri, memperbaiki hati dalam menjalani hari sebagai takdir serta menata hati bahwa sakit adalah ujian.

Keseharian harus dibantu istri segala hal butuh bantuan hingga untuk hal terkecil sekalipun harus dibantu tentu membuat hari-hari menjadi suram dan hampir saja harapan bangkit itu pupus, di usia yang masih muda (30 tahun) harus menerima kenyataan didera stroke, seandainya tidak sadar bahwa segala sesuatu yang terjadi atas takdir Allah mungkin tidak sanggup bertahan hingga sekarang ini.

Hari demi hari, bulan berganti, sudah lebih 7 tahun stroke mendera, dari awalnya tidak berani hadir kembali dalam keramaian, dalam beraktifitas karena kondisi cacat motorik yang belum pulih sempurna, rasa malu untuk berinteraksi, rasa prustasi yang masih menghinggapi, pelan-pelan sudah bisa melewati itu semua, dukungan istri, keluarga, sahabat, doa para guru-guru hingga akhirnya saya mencoba hidup normal walau kondisi belum normal sempurna.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved