Jurnalisme Warga
Babusshalihin, Masjid Pertama di Simeulue yang Tercerabut dari Literatur Sejarah
Teungku Banurullah atau Syekh Nurullah ini memang tidak terlalu familier di masyarakat luas, tetapi jasa-jasanya dalam mengembangkan syiar Islam
Rahmi Putri Ramadani, S.Hum., Alumnus Prodi Sejarah dan Kebudayaan Islam, Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry melaporkan dari Simeulue
SUATU hari di bulan Maret tahun ini, penulis bersama ayahanda sengaja datang ke Desa Salur, Kecamatan Teupah Barat, Simeulue. Perjalanan dari pusat Kota Sinabang menuju masjid tersebut berjarak sekitar 26 Km atau 42 menit menggunakan sepeda motor. Penulis datang langsung ke sana untuk mencari tahu bagaimana detailnya sejarah Babusshalihin, masjid pertama sekaligus tertua yang dibangun di pulau salah satu kabupaten terluar di Aceh ini.
Sejarah tentang masjid pertama atau tertua di setiap daerah selalu menarik diulas dan diceritakan dari generasi ke generasi. Namun mirisnya, minim sekali literatur yang menulis secara mendalam tentang sejarah masjid tertua di Simeulue ini secara akademis, baik dalam berbentuk buku maupun jurnal bereputasi. Menurut hemat penulis, kondisi ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Harus ditulis dan dipublikasikan sebanyak-banyaknya agar tidak tercerabut dari literatur sejarah seperti judul tulisan di atas.
Dalam wawancara sekitar satu jam lebih bersama marbut (orang yang menjaga dan mengurus) masjid, aparatur desa hingga guru-guru di sana, hampir semuanya sepakat kalau Babusshalihin merupakan masjid pertama dan tertua di Pulau Simeulue. Walau beberapa pihak tidak setuju mengingat hampir setiap literatur menyebut Islam masuk pertama dibawa oleh Khalilullah atau Teungku Diujung yang makamnya berada di Kecamatan Simeulue Cut, berjarak mencapai 44 km dari kedua tempat tersebut, tetapi pihak yang tidak setuju itu tak memiliki argumen yang kuat soal masjid mana yang pertama sekali dibangun di sana.
Sejarah Masjid Pertama di Simeulue
Hasil wawancara dengan sejumlah tokoh masyarakat dan orang-orang tua di sana menyebutkan, dalam sejarahnya, pendirian masjid ini berkaitan dengan sosok ulama karismatik yang juga membawa ajaran Islam ke Pulau Simeulue. Adalah Teungke Bakudo Batu, pemilik nama lengkap Teungku Banurullah atau Syekh Nurullah ini memang tidak terlalu familier di masyarakat luas, tetapi jasa-jasanya dalam mengembangkan syiar Islam di ‘Bumi Devayan’ sebutan khususnya untuk wilayah Teupah meliputi Teupah Barat, Teupah Tengah, Teupah Timur, dan Teupah Selatan sangatlah besar.
Bermakam tepat 100 meter di sebelah utara Masjid Babusshalihin, jauh sebelum masa penjajahan atau masyarakat setempat masih terhitung primitif, ulama itu masuk dan menjalin komunikasi untuk membentuk komunitas muslim. Pembentukan ini pula yang mengawali berdirinya masjid di Simeulue, tepatnya di Desa Salur. Awalnya, pada masa itu Kerajaan Aceh Darussalam di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607-1636) mengizinkan pembangunan masjid tersebut serta diberikannya delapan keping batu persegi berukuran 50x50x30 cm untuk tumpuan atau fondasi tiang masjid yang akan dibangun.
Batu ini disebut masyarakat setempat sebagai ‘Sandi Salapan’ yang artinya delapan buah sendi, dikenal juga sebagai batu alas (fondasi) atau pengganjal tiang rumah. Dari delapan sendi tersebut, enam utamanya masih terpasang di tiang utama Masjid Babusshalihin Desa Salur. Meskipun sudah beberapa kali direnovasi dari bangunan panggung menjadi lantai keramik, sebuah sendi disimpan sebagai bahan pajangan, sedangkan satunya lagi telah hanyut akibat tragedi smong (tsunami) 1907 silam.
Sementara dalam literatur lain disebutkan, pembangunan masjid ini dimulai usai Teungku Banurullah menugaskan tujuh orang kepala suku dan seorang juru bicara memohon doa restu ke Sultan Mahmudsyah II yang memerintah Kerajaan Aceh pada tahun 1767-1787. Setelah utusan kembali dari Aceh, mereka membawa delapan buah sendi batu yang merupakan hadiah dari Sultan Aceh dan disebut dengan Sandi Salapan, berfungsi sebagai surat izin untuk membangun masjid pertama di Simeulue (Kemendikbud, 2015)
Meski sudah berabad-abad, masjid tersebut tetap kokoh dan masih dipakai untuk tempat beribadah masyarakat setempat hingga saat ini. Walau terlihat sederhana, masjid ini tetap menjadi salah satu tempat ibadah yang unik dan penuh sejarah. Secara historikal layak menjadi pengetahuan bagi generasi selanjutnya, serta layak diperlakukan berbeda oleh pemerintah dan masyarakat setempat agar menjadi situs yang dapat dikenang sepanjang masa dan bisa dimanfaatkan oleh para peneliti untuk kepentingan pengembangan riset-riset selanjutnya.
Perbanyak literatur dan publikasi
Selama ini, kisah tentang pendirian masjid pertama di Simeulue hanya diceritakan dari generasi ke generasi dalam bentuk bertutur atau cerita rakyat. Masih minim sekali literatur yang membahas secara mendalam sejarah masjid tertua di pulau terluar provinsi paling barat Indonesia ini. Padahal setiap daerah memiliki ikon atau simbol, termasuk berkaitan dengan unsur sejarah di dalamnya. Salah satu fungsi sejarah pada hakikatnya adalah untuk meningkatkan pemahaman yang mendalam dan lebih baik tentang masa lampau dan masa sekarang dalam interelasinya dengan masa yang akan datang.
Dari peristiwa smong di Simeulue tahun 1907 yang kemudian menjadi peringatan dini paling ampuh menekan jumlah korban jiwa saat tsunami Aceh 2004, kita belajar bahwasanya sejarah sangat penting untuk sebuah daerah. Selain penting untuk pengambilan keputusan, pemahaman tentang masa lalu di Pulau Simeulue mesti harus terus dikembangkan agar ke depannya tidak berpotensi hilang dari catatan modern sebuah peradaban, khususnya sejarah di daerah untuk dikenang masyarakat setempat maupun pembelajaran bagi masyarakat luar.
Sejarah juga menjadi salah satu ciri khas bagi sebuah daerah karena hal tersebut dapat membedakan antara satu daerah dengan daerah lainnya. Sebagai generasi yang saat ini masih hidup dan seterusnya, sudah semestinya penulis dan anak-anak muda di Simeulue bersemangat mengembangkan dan mengabadikan setiap fragmen-fragmen peristiwa masa lalu menjadi untaian sejarah yang terdokumentasi karena sejatinya sejarah tidak hanya digunakan sebagai bentuk informasi, tetapi juga bisa menjadi inspirasi dan instruksi agar manusia dapat menjalani kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.