Citizen Reporter
Mengapa Pelabuhan di Aceh Belum Berkembang?
harapan untuk mendongkrat ekonomi Aceh dengan aktivitas pelabuhan dan pariwisata serta didukung perdagangan dengan industri turunannya
Fauzi Umar, Ketua Devisi Kemitraan ICMI Orwil Aceh/Pengurus MES Aceh melaporkan dari Singapura
***
Saya berkesempatan kesempatan mengikuti Training Tourist Marketing and Port Management dari Pemerintah Singapura melalui kerjasama Lembaga Peningkatan Sumber Daya Manusia (LPSDM) dengan Singapura Coorporation Programme (SCP) di Singapura.
Pelaksanaan pelatihan yang dibiayai Pemerintah Singapura melalui Kementerian Luar Negeri Singapura ini dipandu oleh Capten TA. Kumar dan Mr. Zulkhairi dari STET Maritim Pte. Ltd membahas berbagai tema-tema, seperti memperkenalkan pelabuhan dan sejarah perkembangan pelabuhan Singapura, organisasi dan fungsi pelabuhan, tantangan pelabuhan, sistem transportasi dan perdagangan internasional serta pengembangan sumberdaya manusia.
Pada setiap sesi materi yang dipandu Capten TA Kumar selalu dilaksanakan presentasi dan diskusi group untuk membahas dan mengkaji persoalan dan perbandingan antara Singapura dan Aceh.
Selain itu juga dilaksanakan kunjungan lapangan ke terminal-terminal yang di kelola PSA (Port Singapura Authority).
Menurut penjelasan Kapten Kumar trainer berkebangsaan India mengatakan kondisi pelabuhan Aceh saat ini sama persis dengan kondisi pelabuhan Singapura 30-40 tahun lalu.
Pelabuhan Singapura yang awalnya dikelola Temasik Holding pada mulanya masih melayani sistem tranportasi seperti yang terjadi di Aceh saat ini dengan mengandalkan kapal-kapal kayu untuk pengangkutan barang-barang serta rempah-rempah untuk di ekspor ke berbagai negara.
Kini Pelabuhan Singapura maju pesat berada pada posisi kedua di dunia setelah Pelabuhan Shanghai di China, walaupun negeri Singa ini tidak memiliki sumberdaya alam, seperti di Aceh saat ini.
Baca juga: Gerai USK Store, Oleh-oleh Khas Olahan Nilam Jadi Pilihan Baru di Pelabuhan Balohan Sabang
Pelabuhan Singapura rata-rata setiap harinya melayani 60 kapal dengan rata-rata waktu tunggu untuk clearencenya 2 - 3 jam dengan sistem komputerisasi yang membawa 91.000 kontainer setiap hari atau setara dengan 33.5 juta kontainer setiap tahunnya.
Pelabuhan Singapura akan melakukan ekspansi dengan pengembangan Pelabuhan Mega Hub Tuas Port dan diharapkan mampu melayani 91 juta kontainer pada tahun 2030 untuk mengantisipasi perkembangan perdagangan dan sistem transportasi global.
Keberhasilan pembangunan Pelabuhan Singapura ini telah memberikan kontribusi ekonomi yang sangat besar untuk kemakmuran negara.
Kunci keberhasilan Singapura tidak terlepas dari peran mantan PM Lee Kuan Yew yang telah mengelola negara dengan pendekatan yang berorientasi bisnis (business oriented) serta mengutamakan pada kepuasan konsumen (constumer statisfaction).
Demikian juga pengembangan pelabuhan, tujuan utama adalah biaya pengangkutan menjadi murah serta dapat menambah nilai produk (added value) melalui proses pengolahan lebih lanjut dari produk yang diangkut dari negara asalnya (re-eksport).
Pemerintah Singapura telah menjadikan pelabuhan sebagai sentral aktivitas bisnis dengan dukungan sektor-sektor lain yang berorientasi pada tourist oriented.
| Obat-Obatan Masa Depan, dari Molekul Kimia Menjadi Harapan Baru bagi Pasien |
|
|---|
| Menulis Artikel tentang Dominasi Perempuan di Gereja Katolik, Mahasiswi UIN Ar-Raniry Diapresiasi |
|
|---|
| Liburan ke Sumatera Selatan, Dari Teluk Betung Hingga Palembang, Banyak Tradisi Banyak Pula Cerita |
|
|---|
| Dari Pertemuan FKUB: Perempuan di Garda Terdepan Pemulihan Pasca-Bencana Aceh |
|
|---|
| Aceh, Kisahku: Dari Luka ke Pengabdian |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Fauzi-Umar_Ketua-Devisi-Kemitraan-ICMI-Orwil-Aceh_Pengurus-MES-Aceh.jpg)