Opini
Fenomena Mama Ghufron dalam Perspektif Teologi
Seorang pria gondrong di Jawa Timur yang mengaku memiliki kemampuan supranatural yang musykil; mengakui mampu berkomunikasi dengan bahasa semut dan bi
Prof Dr Lukman Hakim A Wahab MAg, Guru Besar Teologi Islam pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry dan Pengurus Pusat Kajian Pendidikan dan Masyarakat (PKPM) Aceh
MEDIA sosial Indonesia kembali digemparkan oleh sebuah berita viral tentang keberadaan Mama Ghufron yang kontroversial. Seorang pria gondrong di Jawa Timur yang mengaku memiliki kemampuan supranatural yang musykil; mengakui mampu berkomunikasi dengan bahasa semut dan binatang melata.
Lebih lanjut Mama Ghufron juga mengakui dapat berkomunikasi dan bertatap muka langsung dengan malaikat maut (Izrail) melalui video call. Lebih parahnya lagi beliau mengemukakan bahwa dirinya mampu melakukan lobi spiritual agar para santri dibebaskan dari pertanyaan Malaikat Munkar Nakir di alam kubur, tidak hanya sampai di situ Mama Ghufron juga mengatakan mampu menguasai bahasa Suryani dan telah menuliskan lebih dari 500 buah kitab dalam bahasa Suryani.
Pengakuan unik, irrasional, nyeleneh, dan bahkan “gila” dari Mama Ghufran ini ditanggapi secara beragam oleh masyarakat Indonesia yang heterogen secara kemampuan penalaran dan kemampuan agama. Bagi sebagian orang fenomena ini adalah lelucon yang tidak perlu ditanggapi. Tapi bagi kalangan agamawan fenomena ini adalah sebuah kasus yang mesti diluruskan mengingat tidak sedikit masyarakat yang mempercayai keyakinan dan bahkan menjadi pengikut setia Mama Ghufron.
Tulisan ini ingin membedah dari perspektif teologi Islam bagaimana fenomena Mama Ghufron atau yang dikenal dengan nama Iyus Sugiman, sosok yang kini viral di berbagai platform media sosial karena pengakuannya yang di luar nalar.
Fenomena luar biasa
Dalam kajian keislaman fenomena yang terjadi di alam ini dibagi kepada dua kategori. Pertama fenomena natural alamiah, kejadian natural alamiah ini adalah kejadian yang biasa yang terjadi melalui proses alamiah yang logis dan saintific. Fenomena alamiah yang saintifikal ini biasanya berhubungan hukum alam, sunatullah dan hukum kausalitas.
Misalnya ada fenomena seorang anak yang karena begitu rajin belajar tilawah kemudian dia menjadi juara musabaqah level internasional yang fenomenal. Karena masih bisa dirunut hukum sebab akibatnya maka walaupun anak ini menjadi juara yang fenomenal maka dia masih dalam kategori natural alamiah.
Kedua, Fenomena supranatural yang luar biasa (miracle) yaitu kejadian yang terjadi dalam alam ini yang terjadi di luar logika, dan tidak saintific. Fenomena jenis kedua ini tidak mengenal hukum sebab akibat dan tidak dapat diselidiki keberadaannya secara saintific. Misalnya ada seorang anak yang diyakini memiliki kemampuan mengobati beragam penyakit hanya dengan menggunakan air liurnya atau dengan sebuah batu ajaib yang dia temukan berdasarkan isyarat mimpi. Karena sama sekali tidak dapat melibatkan hukum alam secara lazim, maka kemampuan anak ini disebut fenomena luar biasa (miracle phenomena).
Jika kita mencermati fenomena Mama Ghufron ini maka ia lebih masuk dalam kategori fenomena supranatural luar biasa yang tidak dapat diukur kebenarannya secara saintifik. Karena sangat sulit dicerna secara teori kausalitas orang yang hidup di Jawa tiba-tiba memiliki kemampuan menulis ratusan kitab dalam bahasa Suryani. Belum lagi pengakuannya tentang kemampuan berkomunikasi melalui video call dengan malaikat maut (Izrail) yang immateri.
Dalam kajian keislaman, fenomena luar biasa yang bersifat supranatural ini memiliki beberapa istilah sesuai dengan pada siapa fenomena itu terjadi. Pertama, mukjizat yang dipahami sebagai sebuah kejadian luar biasa yang terjadi pada diri para rasul Allah sebagai bukti kerasulan mereka. Mukjizat ini seperti kemampuan Nabi Sulaiman As memahami bahasa semut, kemampuan Nabi Idris As berkomunikasi dengan malaikat maut dan lain-lain.
Dengan demikian, jika kemudian Mama Ghufron mengakui dirinya mampu memahami bahasa semut dan bertatap muka melalui video call dengan malaikat maut, maka secara tidak langsung ia telah memitoskan dirinya selevel dengan para nabiullah. Bahkan telah menempatkan dirinya melampau martabat pada nabi karena kalau biasanya para nabi menyampaikan risalah dengan bahasa kaumnya, Mama Ghufron justru mengakui mampu berbahasa Suryani, bahasa kuno yang hampir punah yang hanya digunakan sebagai bahasa ritual di Syiria pedalaman.
Kedua, Irhas yaitu kemampuan luar biasanya terjadi pada diri calon rasul Allah swt. Fenomena irhas ini misalnya saat awan selalu melindungi diri Muhammad dari sengatan sinar matahari saat Rasullah saw masih remaja. Kemungkinan Irhas ini juga tidak mungkin dikaitkan pada Mama Ghufron karena terlalu tua dan pangangkatan nabi-nabi juga sudah khatam pada diri Nabi Muhammad saw.
Ketiga, Karamah yaitu kejadian luar biasa yang terjadi pada diri waliullah yang memiliki kedekatan spiritual dengan sang khalik. Kemungkinan Karamah ini juga agak berat dilekatkan pada fenomena Mama Ghufran, karena biasanya para waliullah atau ulama khasyaf itu lebih memilihi kehidupan dalam kesunyian yang jauh dari keinginan ketenaran dan hiruk-pikuk duniawi.
Keempat, Maunah adalah kejadian yang luar biasa yang terjadi pada orang biasa atas kehendak Allah swt dalam sekali waktu dan biasanya tidak beragam dan berkelanjutan. Fenomena maunah ini misalnya dalam sebuah kecelakaan jatuh pesawat terbang, saat semua penumpang lainnya meninggal, tiba-tiba ditemukan penumpang seorang anak kecil justru selamat. Maunah ini biasanya terjadi dalam sebuah kasus khusus bukan sebuah kejadian luar biasa yang beragam sebagaimana pengakuan Mama Ghufran.
Kelima, Sihir yang merupakan kejadian luar biasa pada diri manusia atas bantuan makhluk halus seperti jin dan syaitan. Fenomena sihir ini seperti sihir pengikut Firaun yang melempar tali temali menjadi ular-ular kecil saat melawan mukjizat tongkat Musa As yang menjelma menjadi ular raksasa. Fenomena Mama Ghufron juga tidak mungkin sihir sebab biasanya sihir dilakukan oleh orang-yang jauh dari tuntunan agama.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Lukman-Hakim-A-Wahab-MAg-Dosen-Teologi-Islam-pada-Fakultas-Ushuluddin.jpg)