Opini

Belajar dari Ibu Menyusui di Gaza, Renungan Pekan Menyusui Dunia 2024

Saat kesenjangan-kesenjangan yang kita hadapi di Indonesia kebanyakan adalah sesuatu yang

|
Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS.COM
dr Nuril Annissa Niswanto MSi, Dokter, Konsultan Nutrition in Emergency (NiE)/Gizi Kebencanaan, Konselor Menyusui dan Wakil Ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia Daerah Aceh 

Oleh: dr Nuril Annissa Niswanto MSi, Konsultan Nutrition in Emergency (NiE)/Gizi Kebencanaan, Konselor Menyusui dan Wakil Ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia Daerah Aceh

WORLD Breastfeeding Week atau Pekan Menyusui Dunia diperingati setiap pekan pertama bulan Agustus setiap tahun. Tahun ini, tema yang diangkat adalah Close the Gap; Breastfeeding Support for All. Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia menerjemahkan tema ini secara kontekstual menjadi “Memperkecil Kesenjangan; Dukungan Menyusui untuk Semua”.

Tema tahun ini berfokus pada kelangsungan hidup, kesehatan, dan kesejahteraan. Dukungan penuh terhadap praktik menyusui sangat dibutuhkan untuk memperkecil kesenjangan yang ada di seluruh dunia. Kesenjangan yang dimaksud juga mencakup segala kondisi krisis dan situasi darurat. Misalnya kondisi para penyintas sebuah bencana – termasuk bencana kemanusiaan yang sudah dan masih terjadi dalam 10 bulan terakhir di Gaza, Palestina.

Kesenjangan

Menyusui, selayaknya kebaikan lain di dunia ini, tentu bukan tanpa rintangan. Misalnya, masyarakat yang sering “tenggelam” oleh terlalu banyak informasi yang bercampur antara yang benar dengan yang “asal bunyi”. Harus kita akui, perbedaan tingkat literasi masyarakat dalam memahami sebuah informasi sangat variatif. Ini adalah salah satu kesenjangan yang kadang “menghalangi” perjuangan seorang ibu dalam memperjuangkan menyusui.

Baca juga: Ibu Menyusui Wajib Tahu, Ini Resep untuk Booster ASI, Bisa juga untuk Buang Lemak, Cek Cara Sajinya

Bahkan jika seorang ibu mendapatkan informasi ASI yang salah, ia bukan tersangka utama. Bisa jadi, ia memang tak pernah terpapar kontak dengan konselor menyusui selama kehamilan. Sehingga tidak pernah mendapatkan ilmu yang memadai dalam menyambut sang buah hati.

Padahal, WHO menganjurkan setidaknya seorang ibu hamil menjumpai konselor menyusui dua kali selama masa kehamilan. Sayangnya, belum semua Puskesmas di Indonesia memiliki konselor menyusui. Kondisi ini adalah salah satu kesenjangan yang masih menghantui praktik menyusui di Indonesia.
Atau bisa jadi, semua fasilitas dan konselor menyusui tersedia.

Namun, ada sejumlah ibu hamil/menyusui disabilitas (keterbatasan anggota gerak, disabilitas netra/rungu, dan lain-lain) yang tidak bisa mengakses semua fasilitas tersebut. Kesenjangan yang mereka alami bisa berupa kesulitan mengakses Posyandu sebab tidak bisa dilalui kursi roda, tidak bisanya ibu disabilitas netra melihat poster edukasi “high-visual”, atau tidak bisanya ibu tuli memahami edukasi oleh bidan desa sebab tidak diiringi interpretasi bahasa isyarat, dan sebagainya.


Keteguhan ibu di Gaza


Saat kesenjangan-kesenjangan yang kita hadapi di Indonesia kebanyakan adalah sesuatu yang sebenarnya bisa diuraikan dalam keadaan yang-- secara harfiah-- damai, tidak demikian kasusnya dengan kesenjangan yang dihadapi oleh para ibu hamil dan ibu menyusui di Gaza. Sudah sepuluh bulan kini mereka dibombardir dan dikepung dari segala arah oleh entitas pendudukan ilegal Israel.

Kasus malnutrisi kronis kini ditemui di mana-mana berdampak hebat baik pada ibu maupun anaknya. Kelangkaan bahan pangan karena pemblokiran di perbatasan oleh Israel membuat kondisi semakin mematikan. Jangankan memastikan praktik menyusui berjalan optimal, ada banyak bayi yang berstatus Wounded Children with No Surviving Family (WCWNSF) atau anak-anak terluka tanpa ada keluarga yang bertahan hidup, konon lagi ibu kandungnya sendiri.

Pada Mei 2024 International Baby Food Action Network (IBFAN) chapter Arab mengadakan sebuah webinar bertajuk Call to Action; Solidarity with Gaza untuk membahas hal ini. Saat itu, mereka menampilkan banyak sekali kondisi riil mengenai lumpuhnya sistem pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak di sana. Seorang dokter relawan, dr Asil Jallad SpOG dari Yordania, yang pernah bertugas di Gaza bercerita meskipun para ibu harus melahirkan beramai-ramai tanpa privasi dalam ruang melahirkan darurat dari tenda rumah sakit lapangan, mereka sangat teguh dalam meminta Inisiasi Menyusu Dini segera setelah melahirkan.

Mereka ingin berjuang menyusui bayinya, dan minta dibantu untuk itu. Jika ada satu saja tenaga kesehatan yang menyebutkan pemberian susu formula, ibu-ibu tersebut bisa marah besar. Bayangkan, kesakitan tanpa antinyeri yang memadai (karena blokade obat-obatan oleh Israel), tanpa rumah nyaman untuk kembali dan harus terus bergerak berpindah tempat tinggal bahkan 2-3 jam setelah melahirkan, dengan tubuh yang mungkin sudah lemah kekurangan makanan berbulan-bulan, mereka tetap berpegang teguh pada ibadah menyusui ini. Sungguh, segala tantangan yang kita hadapi di sini tidak ada apa-apanya.


Memperjuangkan menyusui


Salah satu tantangan praktik menyusui di Indonesia adalah beberapa mitos terkait menyusui yang membuat kita seperti tikus kelaparan di tengah lumbung padi. Misalnya ibu menyusui tidak boleh makan ikan atau jenis protein hewani lain, sebab khawatir ASI akan berbau amis. Padahal, baik secara agama maupun bukti ilmiah, hal ini tidak berdasar.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved