Kupi Beungoh
Paes, Timnas, dan Dukungan Kita
penonton memberi tepuk tangan ketika Justin Hubner memotong dan membuang bola demi menggagalkan serangan cepat dari Australia.
Oleh: Bung Alkaf
SERAMBINEWS.COM - Di menit lima puluh, penonton memberi tepuk tangan ketika Justin Hubner memotong dan membuang bola demi menggagalkan serangan cepat dari Australia.
Tepuk tangan bukan saja dari penonton di GBK, tetapi juga di Corner Kopi, di Langsa.
Saya, bersama adik ipar dan keponakan, memilih untuk menonton bersama di tempat itu. Tepuk tangan untuk Hubner panjang dan bergemuruh.
Tidak hanya untuknya, tetapi juga untuk Martin Paes. Kiper asal Kediri ini kembali bermain apik. Dia seperti benteng yang kokoh.
Membayangkan tanpanya, gawang Indonesia bisa berkali-kali dicabik oleh pemain-pemain Australia.
Sebelum pertandingan melawan Australia, perasaan saya tiba-tiba masygul mengenai proyek mendatangkan pemain Indonesia yang tumbuh di Eropa.
Saya lebih senang menggunakan frasa itu, "Permain Indonesia yang tumbuh di Eropa," daripada frasa pemain keturunan; pemain diaspora; apalagi "pemain naturalisasi."
Frasa itu, bagi saya, seperti menghentikan debat tentang keabsahan mereka menggunakan jersey tim nasional sepak bola kita.
Baca juga: Keblinger!
Apalagi, saat saya melihat video pendek ketika Jay Izdes memberikan motivasi kepada para pemain sebelum melawan Arab Saudi pada pertandingan pertama Kualifikasi Piala Dunia Rounde 3 ini.
Hal yang membuat saya sedikit mempertanyakan proyek mendatangkan pemain Indonesia yang tumbuh di Eropa itu saat pidato singkat Jay itu disampaikan dalam bahasa Inggris.
Pidato yang tentu saja membakar semangat. Pidato yang menggugah alam kesadaran para pesepak bola tim nasional Indonesia itu tentang mengapa mereka memakain jersey dengan lambang Garuda itu. Tetapi, pidato yang menggunakan bahasa Inggris agak sedikit menganggu perasaan mengenai rasa kebangsaan.
Perasaan yang sebenarnya dapat dijawab dengan satu hal, bahwa sebagai sebuah medium verbal, bahasa dapat dipelajari.
Yang terpenting adalah jiwa yang berada di setiap dada para punggawa tim nasional itu. Apakah mereka memilih mati di atas lapangan untuk Indonesia, atau sebaliknya.
Apa yang kita lihat, baik sejak proyek memanggil pulang pemain Indonesia yang tumbuh ke luar negeri sampai dua pertandingan di babak ketiga Kualifikasi Piala Dunia ini adalah tentang rasa cinta tanah air.
| Framming Negatif JKA, Strawman Fallacy Paling Telanjang |
|
|---|
| Dedy Tabrani di Mata Aktivis HMI: Polisi Masa Depan yang Menjaga dengan Ilmu dan Iman |
|
|---|
| Membangun Sistem Pengelolaan Sampah Sehat, Dari Masjid Gerakan Perubahan Dimulai - Bagian IV |
|
|---|
| Kesaksian dari Muraya: Ketika Solidaritas Fiskal Lampaui Batas Provinsi - Cerita Mendagri di APEKSI |
|
|---|
| Perang dan Damai – Bagian 11, Pertemuan Islamabad Jilid Dua, Menuju Perdamian |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Alkaf1109241.jpg)