Kupi Beungoh
Paes, Timnas, dan Dukungan Kita
penonton memberi tepuk tangan ketika Justin Hubner memotong dan membuang bola demi menggagalkan serangan cepat dari Australia.
Pemain yang kita lihat agak berbeda warna kulit dan postur badan ternyata memiliki ikatan yang kuat dengan negeri asalnya. Lihat saja, yang dilakukan oleh Ragnar setelah membawa Indonesia lolos ke babak ketiga Kualifikasi Piala Dunia.
Dia memilih pulang untuk menjenguk tanah kelahirannya di Maluku. Di sana, Ragnar menjadi orang Maluku secara otentik. Artinya, dia menjadi orang Indonesia tanpa embel-embel lain.
Satu kali, saya bertanya kepada beberapa teman, mengapa kita mendukung proyek memanggil pulang pesepak bola Indonesia di luar negeri? Mengapa kita tidak terusik perasaan "kepribumian" ketika melihat pesepak bola berkulit sawo matang mulai kehilangan posisinya.
Dalam dua pertandingan kualifikasi ini, STY hanya memasang dua pemain yang tumbuh di Indonesia dalam starting line up: Witan dan Rizki Ridho ketika melawan Arab Saudi, Marcelino dan Rizki Ridho sewaktu melawan Australia.
Pertanyaan saya itu dijawab dengan lugas, bahwa kecintaan kita terhadap sepak bola Indonesia, terutama tim nasional, mengalahkan perasaan sentimental demikian. Ditambah, berkali-kali pula, kekecewaan acapkali menonton tim nasional.
Menonton tim nasional, ibarat kita mendorong batu ke gunung -- seperti dalam mitologi Sisipus -- yang kemudian turun lagi ke bawah secara terus menerus. Seperti Mitologi Sisipus itu pula, kita menerima absurditas menjadi fan Tim Nasional Indonesia dengan tidak hanya menerima itu sebagai sebuah takdir, bahkan juga memikul itu sebagai sebuah tanggung jawab. (*)
*) Muhammad Alkaf, atau lebih dikenal dengan Bung Alkaf, adalah seorang esais
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggungjawab penulis.
| Framming Negatif JKA, Strawman Fallacy Paling Telanjang |
|
|---|
| Dedy Tabrani di Mata Aktivis HMI: Polisi Masa Depan yang Menjaga dengan Ilmu dan Iman |
|
|---|
| Membangun Sistem Pengelolaan Sampah Sehat, Dari Masjid Gerakan Perubahan Dimulai - Bagian IV |
|
|---|
| Kesaksian dari Muraya: Ketika Solidaritas Fiskal Lampaui Batas Provinsi - Cerita Mendagri di APEKSI |
|
|---|
| Perang dan Damai – Bagian 11, Pertemuan Islamabad Jilid Dua, Menuju Perdamian |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Alkaf1109241.jpg)