Kamis, 9 April 2026

Jurnalisme Warga

Mengantisipasi Henti Jantung Saat Berolahraga

Semoga atlet PON XXI Aceh-Sumut dapat memberikan prestasi terbaik dan terlindungi dari cedera berat dan henti jantung. Salam Jantung Sehat!!

|
Editor: mufti
fk.usk.ac.id
Dr. dr. MUHAMMAD RIDWAN, MAppSc, AIFO-K, Sp.JP (K), Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Kepala Unit Prevensi dan Rehabilitasi Jantung RSUDZA, dan Ketua Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Provinsi Aceh, melaporkan dari Banda Aceh 

Dr. dr. MUHAMMAD RIDWAN, MAppSc, AIFO-K, Sp.JP (K), Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Kepala Unit Prevensi dan Rehabilitasi Jantung RSUDZA, dan Ketua Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Provinsi Aceh, melaporkan dari Banda Aceh

Pada 30 Juni 2024, dunia bulutangkis dikejutkan oleh kematian tragis atlet muda asal Cina, Zhang Zhi Jie, yang mengalami henti jantung mendadak saat bertanding di ajang Asia Junior Championships (AJC) di Yogyakarta. Meskipun upaya penyelamatan segera dilakukan di lapangan, nyawa Zhang tidak tertolong.

Insiden ini menambah daftar panjang atlet yang meninggal dunia akibat henti jantung saat berolahraga.

Di Indonesia, kasus serupa juga pernah terjadi, termasuk kematian pemain sepak bola  Choirul Huda pada 2017, yang meninggal akibat henti jantung setelah benturan dalam pertandingan. Juga Markis Kido, atlet bulutangkis Indonesia, peraih medali Olimpiade di nomor ganda putra, yang meninggal saat bermain bulutangkis pada tahun 2021.

Di level internasional, kasus henti jantung Christian Eriksen (pesepak bola Denmark) pada saat pertandingan Euro 2020 yang diundur ke 2021 dan kasus pingsannya Fabrice Muamba, mantan pemain sepak bola klub Bolton Wanderers Inggris, pada tahun 2012 di lapangan akibat henti jantung mendadak saat bertanding melawan Tottenham Hotspur, menunjukkan betapa kritisnya penanganan cepat dan pencegahan dini melalui skrining kesehatan jantung bagi para atlet.

Selain terjadi pada atlet top, kejadian henti jantung juga banyak terjadi di berbagai komunitas olahraga seperti komunitas futsal, sepeda, bulutangkis, tenis lapangan, sepeda motor, dan lain-lain yang kejadiannya sering dibagikan di media sosial, dan tidak masuk ke berita resmi media cetak nasional.

Dalam kondisi penyelenggaraan PON XXI di Aceh dan Sumatera Utara pada tanggal 9-20 September 2024 ini, peristiwa kelam di dunia olahraga kita dan juga dunia itu haruslah menjadi pelajaran agar kejadian serupa tidak terjadi lagi.

Mengapa terjadi?

Henti jantung mendadak adalah kondisi yang ditandai dengan berhentinya fungsi jantung secara tiba-tiba dan tanpa peringatan, yang mengakibatkan aliran darah ke otak dan organ vital lainnya terhenti.

Jika tidak ditangani dengan cepat, kondisi ini dapat berujung pada kematian dalam hitungan menit.

Pada atlet, aktivitas fisik yang berat dapat memicu risiko aritmia jantung atau ketidakteraturan irama jantung yang menjadi penyebab utama henti jantung.

Olahraga yang intens dapat meningkatkan tekanan pada sistem kardiovaskular, terutama pada mereka yang memiliki kondisi jantung yang tidak terdiagnosis sebelumnya. Beberapa kondisi yang berkontribusi pada henti jantung pada atlet meliputi kardiomiopati hipertrofik, anomalie arteri koroner, dan aritmia ventrikular. Kondisi-kondisi ini sering kali tidak menunjukkan gejala pada fase awal, yang membuat mereka sulit terdeteksi tanpa skrining jantung yang tepat.

Pentingnya skrining kardiovaskular

Untuk mengurangi risiko henti jantung mendadak, skrining kesehatan kardiovaskular rutin adalah langkah yang sangat penting bagi atlet.

Skrining ini bertujuan untuk mendeteksi kelainan jantung yang mungkin tidak menimbulkan gejala awal, tetapi bisa memicu henti jantung saat melakukan aktivitas fisik berat.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved