Citizen Reporter
Petualangan Magang Internasional di Thailand
Kesempatan ini tidak ingin saya sia-siakan, karena saya percaya bahwa pengalaman ini akan menjadi kombinasi sempurna antara belajar dan berpetualang.
Pada hari pertama mengajar, saya sedikit khawatir karena perbedaan bahasa. Namun, ternyata semuanya jauh dari dugaan saya. Dengan bahasa Indonesia yang sesekali dicampur bahasa Inggris, mereka dapat mengerti dan memahami maksud saya.
Di sini, bukan hanya mereka yang belajar dari saya, tetapi saya juga belajar dari mereka. Mereka selalu bersemangat memberi tahu saya tentang bahasa sehari-hari yang mereka gunakan, sehingga hal itu memudahkan proses belajar- mengajar.
Saya sangat bersyukur karena melalui program ini saya bisa bertemu dengan anak-anak yang ramah, baik, sopan, pintar, dan lucu. Mereka benar-benar tahu bagaimana menghargai orang yang lebih tua. Kasih sayang dan tingkah laku mereka menjadi alasan saya terkesan dan jatuh cinta pada Thailand.
Bahasa yang mereka gunakan untuk menyebut seorang guru adalah “kru”. Saya sering mendapatkan hadiah dari murid-murid pintar itu. Tak jarang, hadiah itu diberikan saat proses belajar dengan meminta izin saya terlebih dahulu, maupun di saat jam pelajaran sudah selesai. Mereka berulang kali mengatakan,“Kru, semoga aku punya kesempatan untuk belajar di Indonesia.” Ucapan ini menunjukkan ketertarikan mereka terhadap tanah air kita.
Para murid di Muslimeen Suksa School yang rumahnya jauh dari lokasi sekolah diwajibkan untuk tinggal di asrama. Di depan asrama putri terdapat asrama guru yang kami tempati. Mereka bersekolah dari hari Senin hingga Jumat, dengan jadwal dimulai pada pukul 07.30 hingga 16.00 sore. Setelah shalat Asar berjemaah, mereka diperbolehkan pulang. Begitu pula dengan murid TK, hanya saja setelah shaat Zuhur mereka dijadwalkan tidur siang hingga waktu asar.
Menjelajahi Hatyai
Selama waktu luang, pihak sekolah mengajak kami melihat tempat wisata di Hatyai. Kebetulan, sekolah kami letaknya tidak jauh dari kota dan merupakan destinasi wisata. Pada minggu pertama, kami pergi ke The Central Mosque of Songkhla, sebuah bangunan yang struktur bangunannya mirip dengan Taj Mahal di India.
Masjid ini merupakan masjid terbesar di Hatyai, dengan struktur bangunan menakjubkan dan halaman luas, membuatnya menjadi tempat indah untuk dikunjungi saat matahari terbenam.
Pada kesempatan lain, pihak sekolah juga mengajak kami ke Samila Beach, yang memiliki pasir halus dan bersih. Banyak orang mengambil foto bersama patung putri duyung yang terkenal di sana. Kami juga mengunjungi Museum Hatyai, yang memiliki peninggalan sejarah unik dan indah. Tak lupa, kami melewati jembatan terpanjang di Thailand dan menyeberang laut dengan penuh kebahagiaan. Setiap pengalaman ini menambah rasa syukur saya terhadap keindahan dan keragaman yang ada.
Pengalaman unik
Salah satu hal yang paling mengesankan selama saya magang di Thailand ini adalah tradisi 'wai', yaitu cara orang Thailand menyapa dan menghormati satu sama lain dengan menempatkan kedua telapak tangan di depan dada dan membungkukkan badan sedikit.
Saya pernah berjalan-jalan sore, lalu warga menyapa kami dengan tradisi 'wai'. Hal ini membuat saya marasa diterima di daerah mereka.
Tidak hanya memperkaya perjalanan magang kami, tetapi juga memberikan pelajaran berharga tentang budaya, persahabatan, dan lain-lain.
Perpisahan mengharukan
Waktu terus berjalan, dan tak terasa kami sudah sampai di ujung program magang kami. Di hari terakhir, kami meminta maaf atas kesilapan yang mungkin kami lakukan dan mengucapkan salam perpisahan kepada para guru yang luar biasa baiknya, serta anak-anak pintar itu.
Tak dapat dipungkiri, hati dan pikiran kami telah menyatu di kota ini, yang kemudian menyebabkan air mata tak terbendung. Pelukan hangat anak-anak di hari itu menjadi momen tak terlupakan. Kasih sayang yang mereka berikan mampu membuat saya jatuh cinta beribu-ribu kali kepada mereka.
Program ini sangat berharga dan membantu saya dalam belajar, serta mengubah pola pikir saya menjadi lebih baik. Saya tidak tahu kapan saya akan kembali ke negara ini, tetapi saya berharap ada jalan yang membawa saya kembali menginjakkan kaki di sana. Amin.
Citizen Reporter
Penulis Citizen Reporter
Penulis CR
Petualangan Magang Internasional di Thailand
AYUNI RIZKI
| Student Exchange Ke Brunei: Melihat Langsung Negara yang Religius, Tertib, dan Lestarikan Hutan |
|
|---|
| Rahasia di Balik Kemajuan dan Keteraturan Singapura |
|
|---|
| Indonesia Kaya SDA, Tapi Mengapa Rakyat Miskin dan Bodoh? |
|
|---|
| Student Exchange UIN Ar-Raniry Kunjungi Masjid Jame' Asr Hassanil Bolkiah, Brunei Darussalam |
|
|---|
| Jemput Ilmu dan Jaringan Internasional: 13 Mahasiswa UIN Ar-Raniry Terbang ke Brunei Darussalam |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/AYUNI-RIZKI-OKE.jpg)