Jurnalisme Warga
Semarak Pengabdian Mahasiswa pada Musim Durian
Hampir saban hari lalu lintas wilayah barat Aceh menggeliat padat dari biasanya karena para “pemburu” (hunter) durian kompak menyasar kawasan ini.
MUHAMMAD HEIKAL DAUDY, Kepala Bapel KKN Universitas Muhammadiyah Aceh, melaporkan dari Lhoong, Aceh Besar
Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar, merupakan primadona bagi para pencinta durian. Hampir saban hari lalu lintas wilayah barat Aceh menggeliat padat dari biasanya karena para “pemburu” (hunter) durian kompak menyasar kawasan ini.
Secara administratif, kecamatan ini terdiri atas empat kemukiman dengan 28 gampong yang posisi geografisnya pada satu sisi berada di antara pegunungan dan perbukitan dengan hamparan laut di sisi yang lain.
Jarak Lhoong dengan Banda Aceh sebagai ibu kota provinsi berkisar tidak kurang dari 54 km.
Jika diamati, daerah ini memang tampil sebagai lokasi tujuan agrowisata, yaitu destinasi wisata dengan fokus kepada potensi wisata pertanian dan perkebunan. Untuk tujuan tersebut, Lhoong dikenal sebagai daerah penghasil durian (Durio zibethinus) di Aceh.
Hampir mayoritas warga kecamatan ini pada saat musim panen durian beralih profesi menjadi pekebun, walaupun sejatinya warga Lhoong terdiri atas beragam profesi.
Nama-nama gampong seperti Lamsujen, Pudeng, Geunteuet, dan beberapa lainnya menjadi sangat familier saat ini sebagai tujuan utama para wisatawan yang didominasi oleh warga Kota Banda Aceh, Aceh Besar, dan sekitarnya yang tumpah ruah ke sejumlah lokasi kala akhir pekan, untuk menikmati legitnya rasa buah “termahal di dunia” itu.
Harga buah durian yang dijajakan di kedai-kedai musiman berkonstruksi papan maupun di kebun-kebun yang ditawarkan oleh para penjual pun bervariasi, mulai dari Rp20.000 hingga Rp80.000 per buah, tergantung ukuran.
Bahkan, ada di antara penjual yang membanderol dengan harga Rp120.000, tapi makan sepuasnya di tempat untuk satu orang pembeli.
Wisata durian Lhoong merupakan potensi alam wisata unggulan yang seyogianya diikuti dengan penataan, pembangunan, pengembangan, dan manajemen ekosistem wisata warga sekitar yang lebih matang melalui konsep ekowisata yang lebih terarah dan ‘visible’.
Potensi ini pula yang pada akhirnya dilirik oleh Universitas Muhammadiyah (Unmuha) Aceh, guna menjadikan Lhoong sebagai lokasi tujuan kuliah kerja nyata (KKN) di pengujung akhir semester genap tahun ajaran 2023/2024 ini.
“Sekali mendayung dua-tiga pulau terlampaui,” demikian kiranya kegiatan KKN Unmuha terlaksana di kecamatan “surga durian” ini sejak 8 Juli lalu hingga 8 Agustus 2024.
Adalah Badan Pelaksana (Bapel) KKN Unmuha yang saban tahun menginisiasi kegiatan KKN mahasiswa tersebut sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Maka, pada kesempatan ini bersamaan dengan musim panen durian di beberapa lokasi dalam Kecamatan Lhoong, KKN pun digelar.
Bukan tanpa alasan, harapannya pengabdian kepada masyarakat ini dapat menjembatani disiplin keilmuan yang telah diperoleh para mahasiswa di bangku kuliah, mampu diimplementasikandi lapangan.
Setidak-tidaknya, dengan terjalinnya interaksi langsung antara mahasiswa dengan masyarakat di lokasi, para mahasiswa memperoleh pengalaman baru dan nyata (empirikal) mengenai keadaan keseharian dengan suasana pedesaan masyarakat yang sesungguhnya.
Adapun pengabdian masyarakat dalam bentuk kegiatan KKN sendiri merupakan manifestasi dari pengejawantahan dari tridarma perguruan tinggi (baca: Catur Dharma Perguruan Tinggi Muhammadiyah) dan menjadi agenda utama secara rutin sebagaimana dilakoni oleh Bapel KKN Unmuha yang telah melangsungkan kegiatan ini selama belasan kali.
Secara terencana, kegiatan KKN Unmuha dirangkai melalui tahapan, antara lain, a) prakegiatan dengan pelaksanaan survei awal dan pemilihan calon lokasi hingga pembekalan (coaching) peserta, lalu dilanjutkan dengan b) tahapan saat berlangsungnya kegiatan di mana agenda-agenda yang telah disusun dan dimatangkan mulai diimplementasikan di tempat melalui pendampingan dari para dosen yang ditunjuk, dan terakhir 3) tahapan pascakegiatan, yakni pendokumentasian hasil kegiatan dalam bentuk laporan akhir, disajikan menurut pedoman yang telah disosialisasikan kepada para peserta sebelumnya.
Untuk mencapai hasil maksimal—sebagaimana diharapkan dari setiap tahapan penyelenggaraan KKN Unmuha tersebut—sosialisasi dan pelaksanaan seluruh tahapan kegiatan KKN senantiasa memperoleh pengawasan (supervisi) berikut pula pendampingan (asistensi) langsung dari segenap pimpinan universitas, para dosen hingga para pemangku kebijakan terkait. Mulai dari pimpinan pemerintahan daerah kabupaten/kota sampai kepada struktur pemerintahan di tingkat kecamatan hingga gampong.
Bagi Unmuha sendiri, peran aktif Rektor Dr Aslam Nur, Wakil Rektor Bidang Akademik Prof Asnawi Abdullah PhD., turut disertai oleh Bapel KKN berikut sejumlah dosen pendamping lapangan (DPL), pada saat melepas dan mengantarkan secara langsung seluruh peserta KKN Unmuha Angkatan XIV ke lokasi pada Juli lalu. Mendapat sambutan hangat dan apresiasi yang tinggi dari unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), karena menilai bahwa pimpinan universitas bersama seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan KKN pada kesempatan ini dinilai serius dan peduli dengan keadaan masyarakat di tempat tersebut. Demikian gambaran kesimpulan dari arahan-arahan yang disampaikan langsung oleh Plt Camat Lhoong, Adi Dharma MPd.
Tak cukup sampai di situ, dalam arahannya Camat Lhoong mengharapkan dengan kehadiran para mahasiswa peserta KKN Unmuha Angkatan XIV, selain dapat belajar dan menimba pengalaman secara langsung dari masyarakat, para mahasiswa juga dapat menggali potensi yang selama ini ada dan bersemanyam di alam pegunungan, daratan hingga lautan Lhoong, guna mampu diidentifikasi dan diangkat ke permukaan.
Oleh karena, jika diamati secara kasatmata dan komprehensif potensi di wilayah Lhoong sangat lengkap, baik di darat maupun di laut yang selama ini masih belum maksimal diintensifkan pengelolaannya demi peningkatan kesejahteraan masyarakat Lhoong itu sendiri.
Harapan sebagaimana diungkapkan oleh Camat Lhoong tersebut tak ayal telah memantik energi positif segenap mahasiswa peserta KKN Unmuha Angkatan XIV 2024 untuk berbuat yang terbaik, tulus ikhlas, dan sepenuh hati melaksanakan seluruh agenda kegiatannya sebagai bentuk pangabdian dalam arti yang sesungguhnya kepada masyarakat di lokasi.
Alhamdulillah, sampai masa KKN berakhir, keberadaan para peserta KKN Unmuha di Kecamatan Lhoong digambarkan sangat antusias, responsive, dan komunikatif dalam menjalin interaksi bersama warga.
Keberadaan para mahasiswa di lokasi pengabdian, khususnya masyarakat pedesaan, memiliki arti khusus dan kedudukan tersendiri di hati masyarakat setempat. Rutinitas kegiatan dan keseharian kehidupan yang dijalani masyarakat menjadi lebih bernilai dan berbeda dari biasanya.
Lhoong telah menjadi perekat bagi para penimba ilmu, wisatawan, para begawan hingga sejarawan. Pesona Lhoong tidak semata karena panorama alamnya yang indah bak permata, atau manis legit rasa buah durian yang memanjakan lidah para penikmatnya. Lhoong adalah wilayah dengan puluhan bahkan ratusan situs purba yang mendunia. Ada bukti sejarah bahwa gempa dan tsunami pernah terjadi sejak dahulu kala di kawasan ini. Jejak tsunami purba itu terekam di dasar Guha Ek Luntie, Loong, Aceh Besar.
Besar harapan banyak pihak yang menginginkan KKN di mana pun kegiatan pengabdian masyarakat tersebut diselenggarakan di seluruh pelosok Nusantara oleh perguruan tinggi, dapat menepis sekaligus mengikis adanya anggapan yang menyatakan bahwa keberadaan kampus selama ini jangan lagi “bak menara gading”. Sebuah stigma yang sama halnya memosisikan kampus tidak tersentuh oleh problematika kehidupan masyarakat. Nah!
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.