Sabtu, 30 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Kebiasaan PNS, Warung Kopi, dan Orientasi Kerja

Polanya selalu saja sama. Masuk sebentar ke kantor untuk ‘finger print’ sebagai bukti kehadiran, lantas para PNS itu balik lagi ke seputaran jalan lay

Tayang:
Editor: mufti
For Serambinews.com
EDI MISWAR MUSTAFA, Guru SMAN 1 Meureudu, Koordinator FAMe Pidie Jaya, dan salah seorang pendiri Komunitas Kanot Bu di Banda Aceh, melaporkan dari Meureudu 

Guru Gembul mengungkapkan bahwa di negara maju, abdi negara bekerja dalam sehari hanya beberapa jam, tapi hasilnya luar biasa kreatif.

Bagaimana dengan guru? Indikator apa yang dapat dilihat menunjukkan guru itu berprestasi? Guru yang berprestasi itu bukan hanya seorang guru yang 'one man show’, melainkan guru yang maju semua hebat bersama.

Guru yang keren itu adalah yang jago mengajar, ikhlas mendidik, dan kompak dengan guru-guru lainnya alias guru-guru kolaboratif membangun pendidikan di sekolahnya. Jika sudah begini: tentu sekolahnya menghasilkan siswa yang jago akademik dan nonakademik.

Negara atau masyarakat tinggal buat tolok ukur bahwa prestasi di tingkat SMA, semisal, siswanya banyak yang kuliah dan kuliahnya di perguruan tinggi-perguruan tinggi ternama, baik dalam maupun luar negeri.

Tentu saja pola kerja yang berorientasi prestasi ini harus dibahas di tingkat nasional. Saya tidak tahu, apakah sebuah kabupaten, misalnya Kabupaten Pidie Jaya dapat membuat kebijakan pemberian gaji tambahan atau upah tambahan kepada pegawainya yang berprestasi? Mungkin, jika DPRK sepakat, tinjauan eksekutif Pidie Jaya pada orientasi kerja abdi negara bisa saja menjadi 'contoh' untuk Aceh atau untuk nasional.

Tinjauan eksekutif tentang pola orientasi kerja PNS atau ASN atau abdi kabupaten, tentu saja akan lebih bisa berjalan jika eselon I, II, dan eselon III, direkrut berdasarkan kemampuan, berdasarkan profesionalitas atau meritokrasi. Bukan berdasarkan 'saboh lorong' ataupun 'saboh mukim' atau 'saboh chik', atau 'sapat teuh watee masa konflik'.

Namun, jika eselon I, II, III masih orang-orang dekat atau orang-orang pintar menjadi bunglon, orientasi kerja pola prestasi, saya rasa, berharap PNS atau ASN tidak lagi keluyuran bahkan berleha-leha di warkop, tentu semua itu hanyalah keniscayaan. Semua itu hanya omong kosong. Isapan jempol doang.  (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved