Jurnalisme Warga
Teuku Markam, ‘Crazy Rich’ Aceh Masa Orde Lama yang Dikhianati Negara
Istilah ‘crazy rich’ sedang sangat populer diucapkan orang-orang. Kata itu berasal dari bahasa Inggris yang merujuk pada julukan terhadap orang superk
SITI RAFIDHAH HANUM, Mahasiswi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Anggota UKM Jurnalistik UBBG Banda Aceh, serta novelis, melaporkan dari Banda Aceh
Istilah ‘crazy rich’ sedang sangat populer diucapkan orang-orang. Kata itu berasal dari bahasa Inggris yang merujuk pada julukan terhadap orang superkaya.
Namun, meskipun baru populer sekarang, sebenarnya sudah banyak orang yang kaya sejak lahir dengan harta tak habis tujuh turunan. Bahkan, ia turut menyumbangkan harta pribadinya kepada negara sebagai bentuk rasa cintanya terhadap bangsa.
Mereka adalah orang-orang yang hidup sembari menyaksikan langsung perjuangan Indonesia untuk bangkit. Terutama setelah Indonesia merdeka, pembangunan sedang gencar-gencarnya dilakukan. Salah satunya ialah Monumen Nasional (Monas) yang berada di ibu kota Negara Republik Indonesia, yakni Jakarta.
Menurut sumber dari situs Kementerian dan Kebudayaan RI, Monas dibangun pada 17 Agustus 1961, enam belas tahun setelah Indonesia merdeka. Monas merupakan lambing kebangkitan, semangat Indonesia untuk maju dan berkembang. Maka, rancangannya dianggap sebagai sebuah ikon perubahan.
Kala itu, Presiden Soekarno masih menjabat Kepala Negara. Saat bangunan yang dirancang oleh arsitek Soedarsono, Ir. Rooseno, dan Frederich Silaban sudah hampir rampung, bagian puncaknya direncanakan untuk dilapisi emas.
Ada 38 kilogram emas yang digunakan dan 28 kilogram di antaranya merupakan hasil sumbangan seorang ‘crazy rich’ asal Aceh.
Meskipun masih menjadi perdebatan publik, fakta dari sejarah menunjukkan bukti tak terbantahkan. Dia adalah Teuku Markam, sosok yang lahir pada tahun 12 Maret 1925 di Alue Campli, Seunuddon, Aceh Utara, Aceh.
Ayahnya bernama Teuku Marhaban, seorang uleebalang (hulubalang). Di usianya yang kesembilan tahun, ayahnya meninggal dunia. Ia kemudian diasuh oleh sang kakak, Cut Nyak Putroe.
Pendidikannya hanya sampai kelas empat di sekolah rakyat (sekarang SD). Setelah itu, di usia remaja, ia mengenyam pendidikan militer di Koetaradja (kini Banda Aeh), lalu lulus dengan pangkat letnan satu.
Tanpa membuang waktu, ia langsung terjun ke pertempuran bersama Jenderal Bejo, Kaharuddin Nasution, dan Bustanil Ariffin di Tembung, Sumatera Utara. Saking aktifnya di berbagai pertempuran, Teuku Markam diutus ke Bandung untuk menjadi ajudan Gatot Soebroto sampai atasannya itu meninggal.
Hidup sebagai anak yatim di usia belia membuat Teuku Markam merasa harus tumbuh menjadi sosok yang berhasil berdiri di atas kedua kakinya sendiri. Maka, pada usia 20 tahun, ia memutuskan ikut angkat senjata melawan Belanda yang menjajah bangsa Indonesia selama ratusan tahun. Perannya terbilang sangat berisiko, yakni menjadi penyelundup senjata dari Singapura.
Rupanya, Teuku Markam memiliki kecakapan di dunia bisnis. Maka pada tahun 1957, ia keluar dari dunia militer untuk mendirikan bisnis. Namanya PT. Karkam, singkatan dari Kulit Aceh Raya Kapten Markam. Perusahaan ini bergerak di bidang ekspor karet dari Sumatera Selatan ke Singapura dan Malaysia yang menjadi satu-satunya pemegang hak eksklusif selama masa konfrontasi.
Kepiawaiannya di dunia bisnis membuat Teuku Markam juga memegang lisensi proyek besar negara yang bergerak di bidang otomotif, yakni Jeep dan semen dari Jepang. Tak hanya itu, ia juga menjadi pengimpor besi baja, plat beton, dan senjata.
Statusnya seketika dikenal sebagai pebisnis sukses yang mampu mendulang harta melalui tangannya. Setiap usaha yang digelutinya pasti berujung sukses. Hasil usahanya bahkan menjadi salah satu sumber APBN.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Siti-Rafidhah-Hanum-OKEEEH.jpg)