Jurnalisme Warga
Teuku Markam, ‘Crazy Rich’ Aceh Masa Orde Lama yang Dikhianati Negara
Istilah ‘crazy rich’ sedang sangat populer diucapkan orang-orang. Kata itu berasal dari bahasa Inggris yang merujuk pada julukan terhadap orang superk
Teuku Markam, seorang putra Aceh, mampu mendongkrak dirinya naik ke level atas tanpa menjatuhkan siapa pun.
Pada tahun 1961, pembangunan Monas baru dirancang oleh Presiden pertama Republik Indonesia, yakni Soekarno. Hubungan Teuku Markam dengan Soekarno dan para dewan pemerintahan Orde Lama terbilang cukup dekat. Segala hal ia ketahui. Termasuk kebutuhan material untuk mendirikan Monas.
Indonesia sebagai negara yang baru terlepas dari cengkeraman penjajah, berusaha bangkit dengan berbenah diri. Sayang sekali, semangat tanpa dana menjadi penghalang sehingga Soekarno mencari bantuan berupa sumbangan dari rakyat Indonesia. Boleh berbentuk uang ataupun bahan material.
Selaku sosok yang mendapat harta titipan berlimpah, tanpa berpikir panjang Teuku Markam ikut menyumbang. Tidak tanggung-tanggung, ia menyanggupi memberikan emas sebesar 28 kilogram untuk diletakkan di lambang obor, tepatnya di puncak Monas.
Jika emas 28 kilogram diuangkan, berdasarkan beberapa sumber, maka jumlahnya mencapai 1 miliar rupiah saat itu. Padahal tahun 1961, uang lima ribu saja sudah sangat banyak, apalagi emas 28 kilogram. Namun, demi Indonesia, Teuku Markam tak mau perhitungan. Ia gelontorkan uangnya begitu saja demi membuktikan rasa cintanya.
Namun, saat pemerintahan Orde Lama runtuh lalu digantikan Orde Baru, hidup Teuku Markam berubah pahit. Ia dituduh terlibat G30S/PKI. Tuduhan lain berupa koruptor dan Soekarnoisme turut mengekori di belakang.
Teuku Markam bersusah payah mengumpulkan uang sendiri, tetapi dituduh memakan uang negara. Kekagumannya pada Soekarno juga dianggap sebagai sebuah pembelotan oleh rezim baru.
Sejak tahun 1966, Teuku Markam dipenjara tanpa menjalani proses hukum. Dua tahun kemudian, ia dibebaskan tanpa kompensasi. Lalu seluruh aset disita dan kepemilikannya diubah atas nama Pemerintah Indonesia. Pelakunya ialah Soeharto yang menjadi Ketua Presidium Kabinet Ampera. Ia menyerahkan bisnis-bisnis itu ke tangan Suhardiman untuk dikelola.
Dengan kesadaran penuh, Soeharto mengeluarkan Keppres Nomor 31 Tahun 1974 yang isinya, antara lain, menegaskan bahwa status harta kekayaan eks PT Karkam/PT Aslam/PT Sinar Pagi yang diambil alih pemerintahan RI tahun 1966 berstatus pinjaman. Nilainya sebesar Rp 411.314.924 sebagai modal negara di PT PP Berdikari.
Kejadian itu tak ubah layaknya sebuah pengkhianatan. Setelah apa yang Teuku Markam berikan untuk negara, hidupnya diremukkan begitu saja.
Teuku Markam tak berkecil hati. Ia berusaha bangkit kembali dengan mendirikan usaha baru bernama PT. Marjaya. Fokusnya ialah menggarap proyek besar dari Bank Dunia dengan memperhatikan dan menggarap pembangunan infrastruktur Aceh dan Jawa.
Akan tetapi, pemerintahan Orde Baru tak mau meresmikan proyek tersebut hingga Teuku Markam merasa kecewa.
Meski telah kehilangan segalanya, Teuku Markam mendapat penghargaan berupa Bintang Mahaputra Adipradana tahun 1975 atas jasa sumbangannya terhadap pembangunan Monas, karena turut berjasa dalam bidang politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan, dan kesejahteraan rakyat.
Disusul tahun 1980, empat tahun sebelum meninggal dunia, Pemerintah Aceh juga memberikan penghargaan kepadanya berupa gelar adat Keuchik Leumiek.
Pria yang telah dikhianati negara itu meninggal pada tahun 1984 di RS Husada Jakarta karena komplikasi penyakit gula dan liver. Ia berpulang di usia 59 tahun, dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata sembari membawa serta rasa kecewanya.
Pemerintah Aceh diharapkan terus memberi dukungan pada pihak-pihak yang menyediakan informasi terkait para tokoh dan pahlawan asal Bumi Serambi Makkah. Tujuannya supaya remaja Aceh, bahkan orang-orang dewasa tahu betul sejarahnya sehingga tetap terkenang di dalam jiwa. (*)
| Progres Menggembirakan Koperasi Desa Merah Putih di Aceh Barat |
|
|---|
| Bermain Ular Tangga Sambil Kelola Emosi di Pesantren Baitul Arqam Muhammadiyah |
|
|---|
| Green Jihad, Menanam Harapan di Tanah Pernah Tenggelam |
|
|---|
| Ketika Manusia Mengagungkan AI, Terjadilah Pergeseran Nilai Agama dan Sosial |
|
|---|
| Lima Tahun UBBG, Kampus Bermutu dan Maju, Refleksi Dies Natalis Ke-5 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Siti-Rafidhah-Hanum-OKEEEH.jpg)