Opini

Barakallah Fii Umrik Ke-61 UIN Ar-Raniry 

Sebagai pusat pendidikan tinggi Islam, UIN Ar-Raniry memiliki peran strategis dalam mencetak generasi intelektual yang tidak hanya menguasai ilmu agam

Editor: Ansari Hasyim
IST
Dr Abd Wahid MAg, Dosen Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh 

Oleh: Dr Abd Wahid MAg, dosen Prodi Ilmu Hadis UIN Ar-Raniry

BESOK Kamis 31 Oktober, kita merayakan Milad ke-61 Universitas Islam Negeri (UIN), sebuah momentum penting dalam perjalanan panjang lembaga pendidikan ini. 

Sejak berdirinya, UIN telah mengalami banyak transformasi, dari awalnya beranjak sebagai salah satu cabang fakultas dari IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dilanjutkan sebagai Institut Agama Islam, kini menjadi sebuah Universitas yang terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. 

Sebagai pusat pendidikan tinggi Islam, UIN Ar-Raniry memiliki peran strategis dalam mencetak generasi intelektual yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga siap bersaing di tingkat global.

Selama enam dekade lebih, UIN telah berhasil mengintegrasikan kajian keislaman dengan sains modern, menjadikannya sebagai simbol kemajuan dan keterbukaan dalam pendidikan Islam. 

Keberhasilan ini tercermin dari alumninya yang tersebar di berbagai sektor—mulai dari akademisi, pemerintahan, hingga dunia profesional. 

Baca juga: Irjen Kemenag RI Tinjau Pembangunan Gedung RKT UIN Ar-Raniry

Mereka bukan hanya berkiprah di tingkat lokal, tetapi sudah nasional dan bahkan internasional. 

Ini membuktikan bahwa UIN mampu menghasilkan sumber daya manusia yang berintegritas, berkualitas, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat masa kini.

Ke depan, tantangan yang dihadapi UIN tidak semakin mudah. 

Tuntutan untuk terus mengembangkan inovasi dalam kurikulum, meningkatkan kualitas riset, serta menjaga nilai-nilai keislaman di tengah arus globalisasi harus dijawab dengan langkah-langkah nyata. 

Semoga di usia yang ke-61 ini, UIN semakin berkontribusi dalam mencerdaskan anak bangsa dan menjadi pelopor kemajuan pendidikan Islam di Indonesia, sesuai dengan simbol yang baru digagas “Sinergi Kebangsaan, Energi membangun Negeri”.

Di usia 61 tahun, Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry bukanlah lembaga yang baru berdiri, melainkan sebuah institusi yang telah melewati berbagai dinamika, tantangan, dan cobaan yang beragam, termasuk menjadi korban musibah besar tsunami tahun 2004. 

Selama lebih dari enam dekade, UIN telah menjadi salah satu pusat pendidikan tinggi Islam yang terkemuka di Indonesia, menghasilkan ribuan lulusan yang berkontribusi di berbagai lini. 

Namun, usia yang matang ini juga membawa tanggung jawab yang semakin besar. 

Rakyat Indonesia, terutama umat Islam, menaruh harapan agar UIN terus berinovasi dan beradaptasi dengan perkembangan zaman, sekaligus menjaga nilai-nilai keislaman yang menjadi fondasinya.

Salah satu harapan besar yang sedang dinantikan adalah rencana pendirian Fakultas Kedokteran di UIN. 

Ini bukan sekadar ambisi akademik, melainkan langkah strategis untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga sejalan dengan nilai-nilai Islam. 

Di tengah era globalisasi dan digitalisasi yang pesat, pendekatan Islami dalam pendidikan kedokteran sangat relevan disiapkan untuk membentuk tenaga medis yang tidak hanya ahli secara teknis, tetapi juga memiliki etika dan moral yang kuat, sesuai dengan nilai-nilai Alquran dan sunnah.

Mendirikan Fakultas Kedokteran di UIN Ar-Raniry bukanlah perkara mudah. 

Selain membutuhkan infrastruktur yang memadai, UIN juga perlu memastikan bahwa kurikulum yang ditawarkan mampu bersaing dengan fakultas kedokteran di universitas lain. 

Namun, dengan pengalaman panjang UIN dalam mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu modern, tantangan ini tentu bukan hal yang mustahil untuk dihadapi. 

Apalagi, visi UIN yang mengusung pendidikan kesehatan yang Islami memberikan keunikan tersendiri yang dapat menjadi nilai tambah bagi calon mahasiswa. 

Kehadiran Fakultas Kedokteran di UIN diharapkan dapat melahirkan dokter-dokter yang memahami dan menerapkan prinsip-prinsip Islam dalam praktik keseharian mereka. 

Dalam konteks medis, ini bisa berarti pengambilan keputusan yang bijak dalam menghadapi dilema etika, pelayanan yang penuh empati, dan komitmen untuk menjaga kesehatan masyarakat berdasarkan kaidah-kaidah syariah. 

Jika terwujud, fakultas ini akan menjadi simbol bahwa ilmu kesehatan dan agama bukanlah dua hal yang terpisah, melainkan saling melengkapi dalam mewujudkan kesejahteraan umat. 

Oleh karena itu, di usia yang ke-61 ini, UIN diharapkan tidak hanya mempertahankan prestasi yang telah dicapai, tetapi juga terus “menyalakan api inovasi” untuk menghadirkan karya-karya besar. 

Masyarakat menunggu dengan antusias kontribusi UIN dalam mencetak tenaga medis Islami melalui Fakultas Kedokteran, yang kelak akan menjadi salah satu pilar penting dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang holistik dan berlandaskan nilai-nilai agama.

Keberhasilan UIN dalam Mewujudkan Kampus Berkelas

Dalam beberapa tahun terakhir, Universitas Islam Negeri (UIN) telah mencatat berbagai pencapaian luar biasa yang membuktikan kapasitasnya sebagai salah satu Perguruan Tinggi Islam terdepan di Indonesia. 

Salah satu pencapaian yang paling membanggakan adalah perolehan predikat akreditasi Unggul. 

Predikat ini tidak hanya menjadi pengakuan atas kualitas akademik, manajemen, dan pelayanan yang dimiliki UIN, tetapi juga menjadi landasan kuat bagi perkembangan kampus ke arah yang lebih baik. 

Di samping itu, hampir 75 persen program studi (prodi) di UIN juga telah memperoleh akreditasi Unggul, sebuah pencapaian yang mencerminkan upaya terus-menerus untuk menjaga standar pendidikan yang tinggi di seluruh fakultas di lingkungan UIN Ar-Raniry.

Keberhasilan UIN tidak hanya terlihat dari akreditasi kampus dan Prodi, tetapi juga dalam bidang publikasi ilmiah. 

UIN Ar-Raniry telah berhasil menerbitkan karya-karya ilmiah yang terindeks Scopus, platform yang diakui secara global untuk publikasi penelitian berkualitas. 

Ini merupakan bukti nyata bahwa UIN tidak hanya unggul dalam kajian keislaman, tetapi juga dalam riset-riset ilmiah yang berkontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan secara umum. 

Selain itu, beberapa jurnal akademik UIN telah terindeks Sinta 2, Sinta 3 dan seterusnya, sebuah pengakuan dari pemerintah Indonesia atas kualitas jurnal yang memenuhi standar tinggi dalam publikasi ilmiah nasional.

Jumlah profesor di UIN juga meningkat secara signifikan dalam dua tahun terakhir, menandakan pertumbuhan yang sehat dari sisi tenaga pengajar. 

Para profesor ini memainkan peran kunci dalam membangun reputasi akademik UIN, baik di tingkat nasional maupun internasional. 

Mereka tidak hanya aktif mengajar, tetapi juga terlibat dalam penelitian dan proyek-proyek kolaboratif yang berdampak luas. 

Kehadiran profesor yang lebih banyak ini memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan kualitas pendidikan dan riset di UIN, sekaligus memperkuat daya saingnya di kancah global.

Selain peningkatan kualitas akademik, UIN juga mengalami pertumbuhan jumlah mahasiswa yang cukup pesat. 

Peningkatan ini merupakan cerminan kepercayaan masyarakat terhadap UIN sebagai lembaga pendidikan tinggi yang mampu menyediakan pendidikan berkualitas dengan nilai-nilai keislaman. 

Dengan semakin banyaknya mahasiswa yang tertarik untuk belajar di UIN, kampus ini semakin berkembang menjadi pusat pendidikan yang inklusif dan multikultural, di mana para mahasiswa dari berbagai latar belakang bisa belajar dan berkembang.

Kerja sama internasional UIN juga terus meningkat, menunjukkan orientasi global yang kuat. 

UIN telah menjalin hubungan kemitraan dengan berbagai institusi pendidikan tinggi di luar negeri, baik dalam bentuk pertukaran pelajar, kolaborasi riset, maupun program-program akademik lainnya. 

Dengan terus memperluas jaringan globalnya, UIN semakin mampu membawa visinya sebagai kampus Islam yang berwawasan internasional, menjadikannya sebagai salah satu Perguruan Tinggi terdepan dalam mencetak lulusan yang siap bersaing di dunia global tanpa meninggalkan identitas keislaman yang kuat.

Tantangan Pengembangan Bisnis Kreatif Akademis

UIN dapat melihat potensi besar dalam pengembangan bisnis kampus yang berkelanjutan dengan memanfaatkan tren usaha kekinian dan sumber daya lokal yang melimpah. 

Salah satu ide kreatif adalah membuka kafe atau restoran dengan konsep modern yang menyajikan kuliner khas Aceh dan kopi lokal, mengingat popularitas kopi Aceh yang mendunia. 

Mengintegrasikan bisnis kuliner ini dengan kegiatan mahasiswa, seperti menjadikannya tempat diskusi akademik atau komunitas, juga bisa memperkuat interaksi sosial dan menciptakan ekosistem bisnis yang dekat dengan dunia pendidikan. 

Selain itu, UIN dapat menjalin kerja sama dengan pebisnis ternama atau perusahaan multinasional dalam mendirikan pabrik yang memanfaatkan potensi sumber daya alam daerah. 

Misalnya, dengan mendirikan pabrik minyak goreng di Aceh yang kaya akan perkebunan kelapa sawit, UIN tidak hanya mendukung perekonomian lokal, tetapi juga dapat membuka peluang bagi mahasiswa untuk terlibat dalam riset dan pengembangan bisnis. 

Pabrik-pabrik ini juga bisa menjadi pusat penelitian terapan, di mana mahasiswa bisa belajar langsung tentang manajemen, teknologi produksi, dan inovasi industri.

Lebih jauh lagi, UIN dapat mempertimbangkan pendirian pabrik pengolahan kopi atau ikan kaleng, mengingat potensi hasil laut Aceh dan kopi yang melimpah. 

Dengan mendirikan pabrik ini, UIN bisa berperan aktif dalam mengembangkan ekonomi kreatif berbasis lokal sekaligus membuka peluang kerja bagi mahasiswa dan masyarakat sekitar. 

Ini juga akan memperkuat branding UIN sebagai kampus yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dengan pendekatan berbasis bisnis dan kewirausahaan. Barakallah fi Umrik UIN Ar-Raniry.

 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved