Rabu, 27 Mei 2026

Opini

Hargai Martabat, Tolak Politik Uang

Dalam Alquran surah al-Isra ayat 70 berbunyi, “Sesungguhnya telah kami muliakan anak cucu Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
IST
M. ZUBAIR, S.H., M.H.,  Sekretaris Komisi Indenpenden Pemilihan Kabupaten (KIP) Bireuen 2007-2010, melaporkan dari Bireuen 


Gunakan akal sehat


Masyarakat pemilih harus menyadari bahwa praktik politik uang dapat berdampak sangat tidak baik bagi kelangsungan hidupnya, selain merendahkan martabat diri juga berakibat pidana penjara dan denda dan berujung pada manajemen pemerintahan yang korup.

Oleh karena itu mari gunakan hak pilih dan suara kita dengan baik dalam menentukan arah pertumbuhan bangsa yang lebih baik ke depan. Pilihan sesuai hati nurani dan rekam jejak paslon serta harus berani menolak politik uang yang dapat menghancurkan sistem demokrasi bangsa yang telah dibangun oleh pendiri bangsa kita dahulu.

Martabat manusia bisa runtuh dengan politik uang karena bisa dipidana sebagaimana termaktub dalam undang-undang nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilihan Umum pasal 523 ayat 1,2 dan 3 serta pasal 515 yang menyatakan, “Setiap orang yang dengan sengaja pada saat pemungutan suara menjanjikan atau memberikan uang atau materi lainnya kepada pemilih supaya tidak menggunakan hak pilihnya atau memilih peserta pemilu tertentu atau menggunakan hak pilihnya dengan cara tertentu sehingga surat suara tidak sah, dipidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 36.000.000,- (tiga puluh enam juta rupiah)”.

Penerima suap untuk memenangkan salah satu paslon dan pemberi suap sama-sama berperan merendahkan martabat seseorang yang merupakan fitrah dari Allah swt. Bagi penerima suap berarti sama dengan merendahkan harga dirinya karena martabat sama pengertian harga diri seseorang. Pada dasarnya harga diri rakyat sebagai pemilih tidak dapat diukur oleh nilai apapun kecuali pribadi masing-masing yang dapat meninggikan dan merendahkannya.

Manusia dilahirkan dengan pola pikir yang membuat dirinya berbeda dari makhluk lainnya sehingga mempunyai martabat yang tinggi. Dengan demikian manusia harus kritis dalam menghadapi semua fenomena di dalam kehidupannya dan jangan menganggap politik uang sebagai hal yang wajar.
Sebagai bangsa yang bermartabat masyarakat sebagai pemilih sudah terdidik pada pemilihan-pemilihan sebelumnya bahwa politik uang tidak memperbaiki bangsa ini bahkan malah lebih menghancurkan.

Oleh sebab itu pada pemilihan kepala daerah kali ini pemilih harus benar-benar menggunakan akal sehat dan kritis dalam menangani politik uang sehingga tidak terpuruk pada lubang yang sama. Dengan cara masing-masing harus berani menolak politik uang yang menyesatkan demokrasi dan menambah dosa penerima dan pemberinya. Mari kita jaga harga diri kita dan menolak politik uang.

*) Penulis adalah anggota Ikakum Unsyiah Banda Aceh

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved