Opini
Prospek Gas Dangkal di Lepas Pantai Aceh
PENEMUAN gas di Laut Cina Selatan dari sumur eksplorasi Lingshui 36-1 telah menarik perhatian eksplorer migas tentang konsep baru trap (perangkap)
Dr Muchlis, Pengajar Teknik Kebumian USK dan Konsultan Seismik Eksplorasi
PENEMUAN gas di Laut Cina Selatan dari sumur eksplorasi Lingshui 36-1 telah menarik perhatian eksplorer migas tentang konsep baru trap (perangkap) hidrokarbon (migas). Peristiwa ini mengubah paradigma eksplorasi konvensional karena keberadaan gas alam tersebut terperangkap di bawah gas hidrat yang tidak pernah dites dan dibuktikan sebelumnya.
Gas alam sumur Lingshui 36-1 dikategorikan gas dangkal karena hanya beberapa ratus meter di bawah dasar laut dengan perkiraan sumber daya sebesar 100 bcm (setara dengan 3.5 triliun kaki kubik). Penemuan tersebut berada di deepwater (laut dalam) dengan kedalaman sekitar 1.500 meter, dan hanya 210 meter di bawah seabed (dasar laut) (Offshore Magazine, 2024).
Hal ini mengubah pandangan eksplorasi tradisional dan memunculkan pertanyaan mengenai potensi serupa di wilayah yang memiliki kesamaan geologi di beberapa tempat di dunia. Hal tersebut dimungkinkan karena adanya interaksi antara gas hidrat, tekanan kolom air laut yang tinggi, dan mekanisme perangkap yang kompleks.
Indikasi keberadaan gas hidrat di lepas pantai Aceh, kawasan busur depan (fore arc) dan busur belakang (back arc) juga telah diketahui oleh beberapa eksplorer migas dari data penampang seismik. Dan hal ini mungkin memiliki peluang adanya akumulasi gas alam dibawah gas hidrat serupa dengan penemuan Lingshui 36-1. Tulisan ini membahas konteks geologi, potensi peluang yang serupa di Aceh, serta implikasi lebih luas bagi eksplorasi hidrokarbon.
Penemuan di Lingshui 36-1
Sumur eksplorasi Lingshui 36-1, yang terletak di Cekungan Qiandongnan, Laut Cina Selatan, merupakan terobosan dalam memahami akumulasi gas dangkal di perairan dalam. Secara konvensional, hidrokarbon biasanya terkumpul pada kedalaman yang lebih dalam, di mana seal (batuan penutup migas) alami dan trap (perangkap) struktural lebih stabil. Namun, penemuan Lingshui 36-1 mengubah pandangan tersebut, menunjukkan bahwa tekanan kolom air yang tinggi dan karakteristik unik dari gas hidrat dapat menciptakan perangkap efektif bahkan pada kedalaman dangkal.
Gas hidrat adalah senyawa kristal yang terbentuk dari gas dan air, yang stabil pada tekanan tinggi dan suhu rendah (USGS). Dalam kasus ini, gas hidrat tidak hanya menjaga gas alam di bawahnya tetap terperangkap, tetapi juga berfungsi sebagai mekanisme penutup/segel (sealed) yang mencegah migrasi gas alam ke permukaan. Penemuan ini menghasilkan cadangan gas yang signifikan, lebih dari 100 miliar meter kubik (bcm), yang memberikan insight baru bagaimana sistem hidrokarbon nonkonvensional dapat berfungsi dalam kondisi geologi tertentu.
Indikasi Gas Hidrat
Wilayah utara lepas pantai Aceh (dikenal dengan North Sumatra Basin offshore/Mergui/Laut Andaman) memiliki banyak kesamaan struktur geologi dengan lokasi Lingshui 36-1 meskipun tipe basisnya berbeda. Kawasan pantai utara Aceh ini berada di busur belakang dari zona subduksi aktif di mana Lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah Lempeng Eurasia. Kondisi geologi seperti ini sering kali menunjukkan tektonik yang kompleks, tingkat sedimentasi yang tinggi, serta kondisi yang menguntungkan untuk pembentukan dan migrasi hidrokarbon.
Selain itu, survei seismik yang dilakukan di lepas pantai barat Aceh (fore arc) menunjukkan adanya indikasi hidrat gas (Lutz, 2021). Salah satu indikator utama adalah reflektor yang menyerupai dasar laut (bottom-simulating reflectors atau BSR), yaitu refleksi seismik yang sejajar dengan dasar laut dan menunjukkan batas fasa antara hidrat gas dengan gas bebas di bawahnya (Cooper and Hart, 2003). Indikasi ini menunjukkan bahwa gas hidrat dapat berperan penting dalam menjebak hidrokarbon jika batuan source rock menghasilkan gas alam di wilayah ini.
Aktivitas tektonik di lepas pantai Aceh juga menciptakan berbagai struktur geologi, seperti thrust fault (sesar dorong), antiklin, dan perangkap potensial lainnya. Dikombinasikan dengan tingkat sedimentasi yang tinggi, fitur-fitur ini menciptakan kondisi ideal untuk akumulasi gas dangkal, terutama jika distabilkan oleh gas hidrat.
Paradigma baru
Ada beberapa elemen utama yang menjadikan temuan Sumur Lingshui 36-1 ini mengubah pandangan konvensional yang menganggap cadangan gas signifikan hanya ada di kedalaman sedimen yang lebih dalam di bawah dasar laut. Pertama, tekanan kolom air yang tinggi yang dapat menjadi seal alami bagi gas alam, meskipun reservoir pada kedalaman yang dangkal dari dasar laut.
Kedua, adanya stabilitas dari keberadaan gas hidrat yang berfungsi sebagai penutup/segel alami yang mencegah gas bermigrasi ke permukaan. Dan terakhir adalah kontrol dari perangkap stratigraphy dan struktur yang kompleks sebagai cebakan migas meskipun batuan reservoirnya dangkal. Di laut dalam lepas pantai Aceh, semua elemen ini tampaknya tersedia. Kedalaman air yang tinggi, indikasi keberadaan gas hidrat, dan setting tektonik mendukung potensi keberadaan gas dangkal seperti di Lingshui.
| Masa Depan Pertanian Aceh Pascabanjir |
|
|---|
| Transformasi Digital dan Stabilitas Makroekonomi Mesin Penggerak Pertumbuhan Ekonomi |
|
|---|
| Polri sebagai Penopang Harapan di Tengah Bencana |
|
|---|
| Belajar Sabar dari Aceh yang Terluka |
|
|---|
| Saat Pemimpin tak Hadir di Tengah Bencana: Dilema Etika Antara Hak Personal & Tanggung Jawab Publik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Muchlis-OKE.jpg)