Sabtu, 11 April 2026

Kupi Beungoh

Ekonomi Kreatif Untuk Pembangunan Berkelanjutan

Ekraf merupakan salah satu solusi untuk melepaskan ketergantungan perekonomian nasional pada sumber daya alam secara berlebihan.

Editor: Amirullah
FOR SERAMBINEWS.COM
Iswadi, S.H., MELP (Direktur Kajian Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan ESGE Study Center) 

Oleh: Iswadi, S.H., MELP 

Pertumbuhan ekonomi dan degradasi lingkungan dua hal yang tak terpisahkan. Penggunaan bahan bakar fosil untuk aktivitas industri dan eksploitasi sumber daya alam secara terus menerus menimbulkan dampak yang sangat besar bagi lingkungan.

Aktivitas ekonomi menyumbang lebih dari 70 persen karbon dioksida secara global.

Bagi Indonesia, dampak lingkungan yang timbul dari aktivitas ekonomi bisa dua kali lebih parah. Kita masih mengandalkan sektor ekonomi ekstraktif  sebagai salah satu penopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Selain menghasilkan karbon dioksida, sektor ekonomi ekstraktif juga menyebabkan terjadinya deforestasi, erosi, dan kerusakan lingkungan secara fisik lainnya.

Ketergantungan pada sektor ekonomi yang mengandalkan eksploitasi sumber daya alam itu pun semakin kuat.

Hal ini tergambarkan dari masifnya perizinan untuk pengelolaan sumber daya alam yang diberikan dan deregulasi beberapa kebijakan yang dianggap menghambat investasi pada sektor ekstraktif dalam 10 tahun terakhir. 

Di balik meningkatnya pendapatan negara, ada yang harus dibayar mahal, rusaknya alam.

Eksploitasi sumber daya alam untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional adalah jebakan vicious cycle yaitu solusi yang menghadirkan masalah baru, dalam pembangunan.

Ekonomi ekstraktif yang tidak terbarukan itu selain tidak baik bagi lingkungan, juga jika persediaan cadangan sumber daya alamnya habis, kestabilan ekonomi juga ikut terganggu. 

Salah satu contoh adalah Nauru. Nauru pernah menjadi negara kaya karena tambang Fosfat. Kemudian akibat eksploitasi Fosfat yang menggila akhirnya cadangan Fosfat di Nauru habis dan negaranya bangkrut.

Kini Nauru tak hanya menjadi negara miskin, tetapi juga mengalami degradasi lingkungan yang sangat parah. Hampir 80 persen lahan di Nauru tak dapat digunakan lagi akibat tercemar tambang Fosfat di masa lalu.

Ekraf Harapan Baru

Ekonomi Kreatif (ekraf) memberi harapan baru bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ekraf merupakan salah satu solusi untuk melepaskan ketergantungan perekonomian nasional pada sumber daya alam secara berlebihan.

Ekraf dipercaya dapat mengakselerasi realisasi ekonomi hijau yang ramah lingkungan serta berkelanjutan.

Dibawah kepemimpinan Teuku Riefky Harsya, Kementerian Ekraf akan menjadi the new engine of growth alias mesin baru pertumbuhan bagi sektor ekonomi Indonesia. Potensi yang dimiliki oleh sektor ekraf terbilang cukup menjanjikan.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved