Opini

Menolak MLB, Menjaga Marwah dan Tradisi NU

Sebagai organisasi yang menjunjung tinggi prinsip musyawarah dan penghormatan terhadap ulama, NU telah membuktikan dirinya sebagai benteng utama dala

Editor: mufti
FOR SERAMBINEWS.COM
Ketua MPU Aceh, Tgk H Faisal Ali 

Tgk H Faisal Ali, Ketua PWNU Aceh dan Pimpinan Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah Sibreh

NAHDLATUL Ulama (NU) merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia yang memiliki peran signifikan dalam menjaga moderasi Islam, memelihara tradisi keislaman, dan mengayomi umat. Sebagai organisasi yang menjunjung tinggi prinsip musyawarah dan penghormatan terhadap ulama, NU telah membuktikan dirinya sebagai benteng utama dalam menghadapi berbagai dinamika sosial, politik, dan keagamaan. Namun, munculnya gerakan pra-Muktamar Luar Biasa (pra-MLB) belakangan ini menjadi tantangan baru yang mengancam stabilitas dan tradisi NU.

Gerakan pra-MLB menciptakan keresahan di kalangan warga Nahdliyin karena dinilai bertentangan dengan nilai-nilai dasar yang telah menjadi identitas NU. Tradisi musyawarah dan penghormatan kepada ulama yang menjadi ciri khas NU seolah diabaikan dalam gerakan ini. Artikel ini akan mengulas secara mendalam tentang ancaman yang ditimbulkan oleh gerakan pra-MLB terhadap NU, tradisi luhur yang dijaga organisasi ini, serta langkah yang perlu diambil untuk mempertahankan integritas NU.

Tradisi musyawarah 
 
NU merupakan organisasi yang dibangun di atas prinsip musyawarah. Tradisi ini tidak hanya menjadi alat penyelesaian masalah, tetapi juga mencerminkan sikap kolektif-kolegial yang khas dalam setiap pengambilan keputusan. Dalam sejarahnya, NU telah menghadapi berbagai tantangan internal dan eksternal, namun tetap menjaga soliditas melalui mekanisme musyawarah yang inklusif dan menghormati suara kolektif.

Forum-forum resmi seperti Muktamar, Musyawarah Nasional Alim Ulama, dan Konferensi Besar menjadi ruang untuk menyampaikan aspirasi, kritik, dan pandangan. Melalui mekanisme ini, NU berhasil menyelesaikan perbedaan pendapat tanpa menciptakan konflik yang merugikan organisasi. Tradisi ini menunjukkan kedewasaan NU sebagai organisasi besar yang berorientasi pada kemaslahatan umat.

Telah disebutkan dalam Anggaran Dasar NU hasil Muktamar ke-33 di Jombang, Jawa Timur, mekanisme musyawarah diatur dengan jelas. Ada empat permusyawaratan tingkat nasional, yaitu Muktamar, Muktamar Luar Biasa (MLB), Musyawarah Nasional Alim Ulama, dan Konferensi Besar. MLB sendiri hanya dapat dilakukan dalam kondisi tertentu yang krusial, seperti jika Rais 'Aam atau Ketua Umum PBNU melakukan pelanggaran berat terhadap Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART). Selain itu, MLB memerlukan persetujuan sekurang-kurangnya 50 persen plus satu dari jumlah wilayah dan cabang.

Ancaman stabilitas NU

Gerakan pra-MLB muncul sebagai respons terhadap berbagai dinamika internal NU. Namun, gerakan ini justru menciptakan ketegangan yang tidak perlu di dalam organisasi. Beberapa alasan mengapa gerakan ini dianggap sebagai ancaman serius bagi NU adalah: Pertama, pra-MLB dilakukan di luar jalur resmi organisasi, sehingga mencederai nilai musyawarah yang telah menjadi warisan para pendiri NU.

Tindakan ini tidak hanya menciptakan instabilitas internal tetapi juga merusak citra NU di mata masyarakat. Kedua, gerakan ini mengabaikan tradisi penghormatan kepada ulama, yang merupakan salah satu prinsip dasar NU. NU merupakan organisasi yang sangat menghormati ulama sepuh sebagai penjaga tradisi dan sumber kebijaksanaan. Gerakan pra-MLB, yang sering kali memaksakan agenda tertentu, menunjukkan sikap yang tidak etis terhadap hirarki dan norma organisasi.

Ketiga, gerakan ini berpotensi memecah soliditas internal NU. NU dikenal sebagai organisasi yang mampu menjaga soliditas meskipun menghadapi berbagai tantangan. Namun, gerakan seperti pra-MLB dan MLB berpotensi memecah belah konsolidasi internal dan menciptakan preseden buruk bagi masa depan organisasi. Sebagai contoh, sejarah mencatat bahwa upaya-upaya untuk mengadakan MLB di masa lalu sering kali berakhir dengan kegagalan.

Pada tahun 1996, Abu Hasan mengadakan MLB yang didukung oleh rezim Orde Baru. Namun, gerakan ini tidak mendapat dukungan dari mayoritas cabang NU dan ulama sepuh, sehingga berakhir dengan pembentukan organisasi tandingan yang kemudian mati dengan sendirinya. Hal ini menunjukkan bahwa gerakan yang tidak didasarkan pada tradisi musyawarah dan konsensus hanya akan menciptakan perpecahan.

Menjaga etika dan tradisi

Keberhasilan NU sebagai organisasi besar tidak terlepas dari komitmen anggotanya dalam menjaga tradisi dan etika organisasi. Salah satu tradisi yang sangat dijunjung tinggi dalam NU merupakan penghormatan terhadap ulama. Mereka tidak hanya dianggap sebagai penjaga tradisi tetapi juga sebagai penentu arah kebijakan organisasi. Dalam tradisi Nahdliyin, kritik terhadap kepemimpinan atau program organisasi merupakan hal yang wajar.

Namun, kritik tersebut harus disampaikan melalui jalur resmi dan dengan cara yang konstruktif. Tindakan seperti pra-MLB, yang berjalan di luar mekanisme resmi, mencerminkan sikap yang jauh dari etika organisasi. Hal ini tidak hanya merugikan NU tetapi juga umat Islam secara keseluruhan.

NU memiliki hirarki yang jelas dalam pengambilan keputusan. Setiap aspirasi dan kritik dapat disampaikan melalui forum resmi seperti muktamar, konferensi wilayah, atau konferensi cabang. Dengan cara ini, perbedaan pendapat dapat dijembatani, dan keputusan yang diambil mencerminkan kepentingan bersama.
Menyikapi fenomena tersebut, mengatasi ancaman yang ditimbulkan oleh gerakan pra-MLB, NU perlu mengambil langkah-langkah strategis, antara lain: Pertama, memperkuat edukasi organisasi, dengan memberikan pemahaman yang mendalam kepada warga Nahdliyin, terutama di tingkat akar rumput, mengenai mekanisme organisasi dan pentingnya menjaga tradisi musyawarah. Edukasi ini dapat dilakukan melalui pelatihan, seminar, atau diskusi di tingkat cabang dan ranting.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved