Jurnalisme Warga

Mengawal “Presiden Penyair” ke Aceh

“Sebuah kehormatan bisa mengawal presiden,” jawab saya kepada penyair nasional kelahiran Bireuen berdarah Gayo ini.

Editor: mufti
IST
MURIZAL HAMZAH, wartawan dan penulis buku, melaporkan dari Bener Meriah, Provinsi Aceh 

MURIZAL HAMZAH, wartawan dan penulis buku, melaporkan dari Bener Meriah, Provinsi Aceh

MH nanti satu pesawat dengan presiden,” ujar Fikar W Eda, pendiri Desember Kopi Gayo. Sebutan MH itu lebih singkat daripada nama lengkap saya, Murizal Hamzah.

Ferstival ini menampilkan aneka acara, mulai dari baca puisi, didong, diskusi, musik, hingga ‘fashion show’ di alam terbuka. Dimulai pada 30 November dan berakhir pada 24 Desember 2024.

“Sebuah kehormatan bisa mengawal presiden,” jawab saya kepada penyair nasional kelahiran Bireuen berdarah Gayo ini.

Yang dimaksud dengan presiden  dalam percakapan kami adalah Presiden Penyair Indoneasia, Sutardji Calzoum Bachri. Kagum saya pada tokoh ini yang di usia 83 masih gesit bergerak dari satu daerah ke daerah lain untuk membaca puisi.

Masih sehat di usia senja. Sutardji disebut “Presiden Penyair” karena komit di dunia kepenyairan dan mewarnai perjalanan sastra di Indonesia.  Asal julukan ini terjadi pada perhelatan sastra sekitar tahun 1970-an. Kalau Amir Hamzah dijuluki Raja Penyair Pujangga Baru, Chairil Anwar Pelopor Angkatan ‘45, dirinya  dijuluki  Presiden Penyair Indonesia dengan gelar Datuk Seri Pujangga Utama.

Pukul 03.30 WIB, saya tiba di  Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Cengkareng, Tangerang, Banten.  Di ruang tunggu, saya lempar pandangan ke sudut-sudut ruangan. Tidak terlihat sosok yang sering memakai topi koboi tersebut.

Usai  shalat Subuh berjemaah di bawah ruang tunggu, sekitar pukul 04.10 WIB penumpang memasuki pesawat. Sekali lagi, saya intip  dan berharap melihat sang Presiden Penyair. Namun, nihil.

Begitu duduk di kursi belakang dekat gang dekat toilet, saya takluk, tak kuat menahan kantuk. Mata tak bisa diajak kompromi.  Ketika burung besi ini lepas landas, saya tidak sadarkan diri. Tidak salah lagi, obat lawan mengantuk adalah tidur.

Pesawat yang saya tumpangi mendarat di Kualanamu, Sumatera Utara. Sekitar pukul 07.00 WIB, saya belum temukan juga Presiden Penyair. Saya berasumsi, dia duduk di kursi depan dan masuk pesawat paling akhir.

Alhasil, saya temukan juga pria  kelahiran Rengat, Indragiri Hulu, 24 Juni 1941, itu ketika transit di  bandara. Pria berjanggut putih, bertopi cokelat ini berada tepat di depan saya.  Berjalan perlahan melewati pemeriksaan metal detektor.

Seorang pemuda yang kelak saya tahu namanya Dedi, meletakkan ranselnya masuk mesin x-ray.   Saya perkenalkan diri bahwa kita satu haluan ke Bandara Malikussaleh, Aceh Utara yang nanti melayang sekitar pukul 12.00 WIB. 

Saya tawarkan untuk membawa ranselnya, tetapi Presiden Penyair menolak. Katanya, masih sanggup bawa.

Sekitar lima jam kami habiskan waktu di Bandara Kualanamu. Saya arahkan Presiden ke sofa panjang untuk melepas penat.   Di usia senja masih dianugerahi kesempatan beraktivitas. Sekitar satu jam, sang Presiden  meluruskan kakinya, tidur nyenyak, sedangkan saya mengawalnya di belakang sofa sambil cas handphone.

Satu jam kemudian, dia terbangun segar dan ingin makan lontong Medan.  Kami tidak temukan kuliner itu di lantai 1 bandara.  Pilihan selanjutnya adalah nasi goreng dan secangkir teh tawar. Tangannya lincah mendorong setiap suap nasi goreng, lalu meneguk beberapa butir obat.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved