Opini

Tahiroe Aceh, Refleksi Dua Dekade Tsunami

Generasi muda, khususnya mereka yang lahir setelah tsunami, perlu memahami sejarah ini bukan hanya sebagai kenangan, tetapi juga sebagai pelajaran pen

Editor: mufti
IST
Faisal ST MPd, Kepala SMK Negeri 1 Julok, Ketua IGI Aceh Timur dan Pengurus JSDI Aceh 

Faisal ST MPd, Kepala SMK Negeri 1 Julok, Ketua IGI Aceh Timur dan Pengurus JSDI Aceh

DUA puluh tahun telah berlalu sejak tsunami dahsyat melanda Aceh pada 26 Desember 2004. Tragedi ini bukan hanya menjadi salah satu bencana alam terbesar dalam sejarah Indonesia, tetapi juga peristiwa kemanusiaan yang meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Aceh dan dunia secara keseluruhan.

Ratusan ribu jiwa melayang, infrastruktur hancur, dan kehidupan masyarakat berubah secara drastis dalam hitungan detik. Refleksi atas peristiwa ini tidak hanya membawa kita pada kenangan pahit, tetapi juga mengajarkan banyak hal tentang solidaritas, kesiapsiagaan, dan pentingnya keberlanjutan dalam membangun kembali kehidupan pasca-bencana.

Pada masa itu, perhatian dunia tertuju pada Aceh. Bantuan mengalir dari berbagai penjuru dunia, baik dalam bentuk material maupun dukungan moral. Negara-negara tetangga, organisasi internasional, hingga individu dari berbagai latar belakang turut bergotong-royong untuk memulihkan kondisi Aceh. Bantuan ini menjadi bukti nyata bahwa kemanusiaan melampaui batas-batas geografis, ideologi, dan perbedaan lainnya. Meski demikian, keberhasilan pemulihan tidak hanya diukur dari pembangunan fisik semata, tetapi juga dari kemampuan masyarakat Aceh untuk bangkit menjadi lebih tangguh dan mandiri di masa depan.

Pemulihan pascatsunami telah menghasilkan banyak infrastruktur baru, mulai dari rumah tinggal, fasilitas pendidikan, hingga rumah ibadah yang dirancang lebih tahan terhadap ancaman bencana. Selain itu, berbagai program pelatihan keterampilan, pemberdayaan ekonomi, dan penguatan kapasitas sosial juga dijalankan untuk mengembalikan kesejahteraan masyarakat. Namun, tantangan yang tidak kalah besar adalah memastikan keberlanjutan program-program tersebut.

Generasi muda, khususnya mereka yang lahir setelah tsunami, perlu memahami sejarah ini bukan hanya sebagai kenangan, tetapi juga sebagai pelajaran penting untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Program Tahiroe Aceh

Tahiroe (bahasa Aceh) jika diartikan memelihara, dan makna ini diwujudkan dalam program Tanam Hijaukan Nanggroe (Tahiroe). Pemerintah Aceh, melalui program ini, menetapkan target ambisius menanam 500 ribu pohon di seluruh wilayah Aceh. Program ini bukan sekadar penanaman pohon, melainkan langkah strategis untuk melindungi kawasan hutan Aceh dan memperkuat hubungan antara masyarakat dan alam.

Sebagai wilayah dengan ekosistem yang beragam, keberadaan hutan Aceh memiliki nilai yang tak ternilai. Selain menjadi rumah bagi flora dan fauna endemik, hutan juga berfungsi sebagai penahan banjir, penyerap karbon, dan pengatur iklim mikro. Menjaga hutan Aceh berarti melindungi sumber kehidupan yang penting bagi masyarakat lokal dan ekosistem global.

Program Tahiroe tidak hanya fokus pada pelestarian lingkungan, tetapi juga dirancang untuk melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah gampong (desa), organisasi masyarakat, dan perusahaan. Pendekatan kolaboratif ini menunjukkan bahwa upaya melindungi alam bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tugas bersama seluruh elemen masyarakat. Salah satu keunggulan dari program Tahiroe adalah pemilihan pohon yang akan ditanam. Fokusnya tidak hanya pada pohon penghijauan biasa, tetapi juga pada pohon buah-buahan yang memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat.

Misalnya, pohon buah seperti mangga, durian, atau jambu yang ditanam tidak hanya akan meningkatkan keindahan lingkungan tetapi juga menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat lokal. Hasil panen dari pohon ini dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari atau dijual untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Program ini tidak hanya menciptakan lingkungan yang lebih hijau tetapi juga memberikan solusi berkelanjutan bagi ketahanan ekonomi lokal.

Meski memiliki visi besar, program Tahiroe tidak lepas dari tantangan. Salah satu kendala utama adalah memastikan keterlibatan masyarakat dalam jangka panjang. Menanam pohon saja tidak cukup; pohon-pohon tersebut perlu dirawat hingga tumbuh besar dan memberikan manfaat. Di sinilah pentingnya edukasi dan pendampingan kepada masyarakat agar mereka memahami nilai jangka panjang dari penghijauan. Selain itu, dukungan dari sektor swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) sangat diperlukan. Perusahaan dapat berkontribusi dengan menyediakan bibit, mendanai kampanye penghijauan, atau bahkan melibatkan karyawan mereka dalam kegiatan penanaman pohon. Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta, tantangan ini dapat diatasi.

Taman waqaf buah

Dalam konteks keberlanjutan dan pemberdayaan masyarakat, salah satu gagasan inovatif yang dapat diintegrasikan ke dalam program Tahiroe adalah pendirian "Taman Waqaf Buah". Konsep ini sederhana namun memiliki dampak besar, setiap institusi, baik itu sekolah, kantor pemerintah, atau perusahaan, memiliki kebun buah yang hasilnya diniatkan sebagai sedekah bagi siapa saja yang membutuhkan.

Taman Waqaf Buah dapat menjadi solusi kreatif untuk berbagai masalah sosial dan lingkungan. Pertama, taman ini berkontribusi pada ketahanan pangan. Di tengah meningkatnya harga bahan pangan, keberadaan buah-buahan yang dapat diakses gratis oleh masyarakat adalah bentuk nyata dari solidaritas sosial. Kedua, taman ini dapat menjadi sarana edukasi lingkungan, terutama bagi generasi muda. Mereka dapat belajar tentang pentingnya menanam pohon, merawat lingkungan, dan berbagi dengan sesama.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved