Jurnalisme Warga
Mengungkap Misteri Aulia 44 di Sabang
Selain terkenal dengan panorama darat dan lautannya, Pulau Weh atau Sabang dikenal juga sebagai salah satu tempat penyebaran Islam di Aceh
ANTONI ABDUL FATTAH, penulis buku, pramubakti di MIN Sabang, dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Kota Sabang
Selain terkenal dengan panorama darat dan lautannya, Pulau Weh atau Sabang dikenal juga sebagai salah satu tempat penyebaran Islam di Aceh atau lebih dikenal sebagai pulau para aulia atau wali Allah.
Mereka yang berjumlah lebih dari 44 orang ini makamnya sudah terdata, sedangkan yang belum terdata kemungkinan lebih banyak lagi jumlahnya. Tercatat, lebih dari 44 ulama, baik yang singgah, tinggal sementara, dan menetap di Sabang.
Baru-baru ini, saat sedang mencari bahan referensi di internet tentang jejak para aulia lainnya di Sabang, saya temukan selembar foto rumah Tengku di Sabang, seorang ulama Baja (kemungkinan Gampong Paya?)
Di Pulau Weh,. menurut keterangan Institut Kerajaan Belanda untuk Linguistik, Geografi, dan Etnologi (KITLV), foto tersebut diambil sekitar tahun 1900. Saya belum menemukan data tentang sang Tengku Paya tersebut. Itu sebab saya belum berani untuk menyimpulkan beliau bagian dari aulia 44 atau bukan. Tentunya harus ada penelitian lanjutan.
Ulama yang tinggal di Sabang ada karena faktor "terpaksa" karena terdampar saat berlayar ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji, lalu mereka memutuskan untuk menetap dan berdakwah di Pulau Weh. Setelah terdampar itu, mereka berusaha beberapa kali untuk kembali melanjutkan perjalanan ke Makkah, tetapi mengalami berbagai hambatan dan rintangan.
Kisah ini sendiri sering dijadikan patokan tentang sejarah aulia 44 di Sabang. Padahal, tidak semua aulia 44 yang menetap di Sabang adalah karena faktor ini. Banyak faktor yang melatarbelakangi para aulia ini menetap di pulau yang bikin orang bule di masa lalu berdecak kagum pada keindahan alamnya ini.
Dari berbagai literatur yang saya dapatkan, pada masa itu Gampong Iboih belum bernama. Kemungkinan nama iboih diambil dari nama sang ulama tersebut. Karena iboih sendiri adalah nama sebuah gampong di Pidie, juga di Labuhan Haji, Aceh Selatan.
Ada juga ulama yang pindah ke Sabang karena faktor menghindari huru-hara di ibu kota Kerajaan Aceh Darussalam. Seperti yang terjadi pada Teungku Ibrahim Musatafari Adham Chik atau lebih dikenal sebagai Teungku Chik di Iboih. Sesampainya di Sabang, tepatnya di Gampong Iboih, beliau bersama istrinya, Ummi Siti Rubiah, menetap dan berdakwah di Pulau Weh.
Ada juga yang menetap di Sabang karena menjadi pejabat kerajaan, seperti kisah sosok Syeikh Hubaillah Junaidi Al-Habsyi atau Tengku Bak Cuh. Menurut pemerhati sejarah Kerajaan Aceh di Sabang, Aidillan Helmi, Tengku Cot Bak Cuh adalah seorang ulama yang ditugaskan menjadi Wali (Gubernur) Kerajaan Lamuri di Aceh Besar untuk mengurusi sistem pemerintahan dan perekonomian di Pulau Weh. Beliau dimakamkan di Jaboi.
Pada masa lalu Teluk Jaboi sendiri disebutkan sebagai pusat perdagangan. Ada dua komoditas yang diburu oleh pedagang atau masyarakat internasional di Pulau Weh saat di bawah pemerintahan Lamuri. Komoditas itu adalah belerang dan terumbu karang, terutama yang berwarna merah.
Saya juga tak menampik jika ada ulama atau dai yang memang bertujuan untuk berdakwah saat datang ke Sabang. Seperti episode kedatangan untuk pertama kalinya Mufti Kerajaan Aceh, Syeikh Abdullah Kana’an atau di Aceh lebih dikenal sebagai Tengku Chik Lampeuneu’eun ke Aceh.
Syekh Abdullah Kan’an disebut satu rombongan dengan ulama besar Aceh lainnya, Abdurrahim Bawarith bin Muhammad Saleh dari Yaman atau dikenal sebagai Tgk Chik Awe Geutah. Mereka mulanya berlabuh di Nikobar dan Andaman, kemudian singgah di Pulau Weh, lalu ke Pulau Ruja (Sumatra). Sebagian menetap di Aceh Besar, sebagian lagi ke daerah Pase.
Saya meyakini, sebagian ulama dari rombongan Syeikh Abdullah Kana’an ini ada yang menetap dan berdakwah di Sabang. Apakah mereka adalah Syeikh Hasbullah Al-Junaidi Habsyah, Syekh Nasrullah Al-Junaidi Al-Habsyah, atau ulama-ulama dari luar Aceh yang makamnya ditemukan di Sabang? Sayangnya, penelitian tentang kiprah para aulia ini sepertinya agak sulit dilakukan karena tidak adanya catatan sejarah tentang hal tersebut.
Kalaupun ada, mungkin terdapat di Perpustakaan Universitas Leiden di Belanda. Sedangkan catatan yang ada hanya melalui catatan oral, baik bersumber dari keturunan sang aulia atau pemerhati sejarah Sabang yang menemukan data tersebut karena memang konsen dan serius meneliti dan mencari tahu tentang hal ini selama bertahun-tahun.
Saat masih bersekolah di madrasah aliah, saya pernah menemukan artikel yang membahas tentang aulia 44 di Sabang yang dimuat di sebuah tabloid mingguan yang diterbitkan oleh Pemerintah Kota Sabang. Sayangnya saat itu saya tidak tertarik menyalinnya di buku karena layaknya remaja kebanyakan, saya tidak menyukai sejarah.
Ada juga satu lagi artikel yang dimuat di sebuah laman berita di internet. Namun, sayangnya artikel tersebut tidak dapat diakses lagi bersama dengan lamannya. Selebihnya yang dapat ditemukan di internet hanyalah daftar nama makam ke-44 aulia tersebut. Sebagiannya berisi kisah “kekeramatan” beberapa aulia yang ditulis dalam blog pribadi sehingga belum dapat dibuktikan keabsahannya.
Tentunya bila ada upaya pencarian ini, baik dilakukan oleh lembaga pemerintah ataupun perseorangan dan akhirnya dibukukan atau ada data tercatat yang dapat ditemukan, masyarakat Sabang atau masyarakat luar mengetahui peran mereka di Sabang sesungguhnya. Bukan hanya kisah kekeramatan para aulia ini saja. Metode dakwah seperti apa yang mereka lakukan kepada masyarakat Sabang karena saat Teungku Chik Di Iboih datang ke sini, beliau melihat tidak adanya guru atau ulama yang mengajarkan ilmu agama di Sabang, Hal ini menjadi catatan penting bagi para peneliti sejarah aulia 44 di Sabang. Karena konon kabarnya saking berpengaruhnya ulama di Sabang saat itu, Laksamana Cheng Ho dikabarkan sempat belajar strategi perang, merakit senjata, dan belajar mengaji dari tokoh Islam di Sabang.
Sementara 12 orang awak kapal Cheng Ho memilih untuk menetap di Sabang berdakwah sepanjang hayatnya.
Keduabelas pendakwah asal Negeri Tirai Bambu ini dimakamkan di Pantai Pasir Putih, Gampong Paya Keuneukai.
Maka, tindak lanjut ke depannya makam para aulia ini haruslah lebih terawat karena masyarakat sudah mengetahui peran masing-masing dari ke-44 aulia ini sehingga mereka lebih tertarik untuk berziarah ke Sabang.
Bila sudah banyak peziarah ke Sabang, maka makam para aulia ini akan lebih terawatt karena telah dipugar atau direhab baik oleh pemerintahan gampong setempat atau pemerintah kota. Dan hal ini akan berdampak kepada pendapatan Pemko Sabang karena jumlah wisatawan selalu bertambah karena wisatwan yang datang tidak hanya datang untuk beristirahat sejenak dari rutinitas dunia, berburu kuliner, berfoto dengan latar belakang keindahan panorama darat dan laut Sabang. Akan tetapi, mereka juga datang untuk berziarah setiap harinya ke makam para ulama yang ada di Sabang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ANTONI-ABDUL-FATTAH.jpg)