Salam

Kemenangan Warga Gaza

Masih terekam dalam ingatan publik dunia bahwa beberapa kali AS memveto resolusi PBB yang menetapkan gencatan senjata di Gaza.

Editor: mufti
AFP/EYAD BABA
Massa merayakan gencatan senjata Israel-Hamas di jalanan Deir Al Balah, tengah Jalur Gaza, Rabu (15/1/2025). 

Gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang berlangsung saat ini menunjukkan kelemahan dan rasa frustrasi rezim zionis itu. Mereka takkan bisa dipaksa berdamai kalau merasa masih kuat dan mampu. Begitulah mereka sesungguhnya. Perjanjian gencatan senjata yang disepakati pada Rabu malam itu berlangsung dalam tiga tahap. Kesepakatan tersebut akan membuka jalan bagi pembebasan tawanan yang tersisa di Gaza dan pemulangan ratusan tahanan Palestina di penjara Israel. Kesepakatan tersebut juga mengharuskan penarikan pasukan Israel dari Jalur Gaza.

Sebetulnya, segera setelah Israel melancarkan perang di Gaza pada 7 Oktober 2023, berbagai inisiatif perdamaian telah diupayakan. Namun Israel dan sekutu utamanya, Amerika Serikat, berusaha menghentikan dan menghalangi segala upaya damai.

Masih terekam dalam ingatan publik dunia bahwa beberapa kali AS memveto resolusi PBB yang menetapkan gencatan senjata di Gaza. Bukan hanya menutup upaya damai, AS di sisi lain memasok persenjataan besar untuk Israel yang kemudian dipakai untuk menembak anak-anak dan perempuan Gaza. Jumlah korban sipil pun di Palestina sangat besar.  

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pun berulangkali bersumpah untuk melanjutkan perang hingga menghancurkan Hamas dengan mencapai "kemenangan mutlak". Namun faktanya, Hamas tetap kuat hingga hari ini.

Negara-negara Eropa seperti Jerman, Prancis, dan Inggris juga terus mendukung Israel. Tak peduli betapa bejatnya Israel dengan melakukan pembunuhan membabibuta terhadap warga sipil dan menghancurkan hampir seluruh infrastruktur publik di Gaza. Dalam 15 bulan perang genosida Israel, setidaknya 47.000 warga Palestina meninggal. Puluhan ribu lainnya cacat seumur hidup.

Institut Studi Keamanan Nasional Israel (INSS) mengakui pada hari Jumat bahwa rezim tersebut menyetujui kesepakatan gencatan senjata karena putus asa. “Implikasi dari kesepakatan tersebut jelas: Israel tidak akan menyebabkan ‘runtuhnya’ Hamas karena mereka tidak pernah mampu melakukannya,” menurut INSS.

Lembaga pemikir Israel tersebut menambahkan bahwa selama ini Netanyahu memperpanjang perang Gaza demi kelangsungan hidup pribadi dan kepicikan. Selama perang Gaza, pejabat Israel mengakui bahwa rezim tersebut tidak akan mampu menundukkan Hamas.

Hamas dan organisasi perlawanan lainnya memang tidak akan mungkin dihancurkan. Pimpinannya bisa saja dibunuh, tetapi ide dan gagasan untuk mengusir penjajahan Israel takkan mungkin dihilangkan. Keyakinan bahwa warga Palestina berada di pihak yang benar, tak akan bisa diubah oleh siapa pun. Itu sebab solidaritas mengalir dari seluruh dunia. Kecuali segelintir negara yang tetap berupaya menginginkan Israel melakukan genosida, dan baru ‘menyerah’ ketika merasa segala bentuk dukungan selama ini hanya sia-sia.

Sebagaimana diketahui, setelah perjuangan panjang dan penuh pengorbanan, rakyat Palestina di Gaza akhirnya meraih kemenangan besar. Kesepakatan gencatan senjata yang dimulai pada Minggu (19/1/2025).

Kesepakatan gencatan senjata ini mencakup tiga fase. Fase pertama berlangsung 42 hari meliputi pertukaran sandera Hamas dan tahanan Palestina di Israel, penghentian serangan hingga lebih banyak bantuan kemanusiaan yang masuk ke Gaza.

Fase kedua diharapkan bisa mengakhiri perang dan gencatan menjadi permanen. Di tahap ini, para sandera yang masih hidup akan dibebaskan dan sebagai imbalan, ratusan tahanan Palestina di Israel dilepas. Fase itu juga mencakup penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza. Fase ketiga pemulangan jenazah dan sisa-sisa tubuh sandera serta implementasi rencana rekonstruksi Gaza.

Meskipun kesepakatan telah dicapai, publik dunia mengingatkan warga Palestina untuk tetap waspada. Karena dalam sejarahnya, rezim zionis itu terkenal culas dan ingkar janji. Mereka bisa saja tiba-tiba mengingkarinya, terutama jika sejumlah tawanan sudah dibebaskan oleh Hamas. Namun kita yakin, kebenaran dan keadilan akhirnya akan menang, meskipun jalan untuk itu masih panjang.(*)

 

POJOK

Pemkab Pidie beli mobil dinas baru bupati/wakil bupati

Alasannya pasti untuk memperlancar kerja, kan?

Israel akui rugi Rp 1.097 triliun

Kerugian moral tak pernah jadi hitungan zionis

Prabowo komit lanjutkan proyek IKN

Basa-basi kadang dibutuhkan dalam komunikasi...he..he.. 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved