Internasional
Trump Kembali ke Gedung Putih, Memulai Era Pergolakan Baru
Pelantikan ini akan diadakan di tengah pengamanan yang sangat ketat, mengingat potensi ancaman kekerasan politik yang meningkat, termasuk dua percobaa
Penulis: Sri Anggun Oktaviana | Editor: Muhammad Hadi
Banyak anggota Kongres yang mendukungnya dan telah mengesampingkan kritik dari dalam partainya, memungkinkan Trump untuk melaksanakan agendanya dengan lebih mudah.
Beberapa penasihat Trump bahkan menguraikan rencana untuk mengganti banyak birokrat nonpartisan dengan loyalis yang dipilihnya sendiri.
Trump kembali ke Washington dengan tujuan untuk mengubah kebijakan luar negeri AS.
Pada masa kampanye, ia sempat menyebutkan rencana untuk merebut Terusan Panama, menguasai Greenland yang merupakan wilayah milik Denmark, dan mengenakan tarif lebih tinggi kepada negara-negara mitra dagang terbesar AS.
Kebijakan luar negeri yang lebih agresif dan tidak konvensional ini sudah mulai terasa, terutama terkait dengan isu-isu seperti perdamaian Israel-Hamas dan kebijakan terkait Rusia-Ukraina.
Dalam konteks domestik, Trump berjanji akan melanjutkan kebijakan ekonomi yang mendukung industri dalam negeri, menanggapi rasa frustrasi rakyat Amerika terkait inflasi yang tinggi dan ketimpangan ekonomi yang semakin melebar.
Jeremi Suri, seorang sejarawan dari University of Texas, membandingkan situasi politik saat ini dengan masa-masa pergolakan sosial dan ekonomi pada akhir abad ke-19, ketika Grover Cleveland adalah presiden yang terpilih kembali setelah kehilangan Gedung Putih.
Pada saat itu, kesenjangan kekayaan meluas dan industri berkembang pesat, menghasilkan ketegangan sosial yang serupa dengan situasi saat ini.
Namun, situasi politik saat ini sangat berbeda dari tahun 2017, ketika Trump pertama kali menjabat.
Pada masa itu, ia mengisi banyak posisi tinggi dalam pemerintahan dengan orang-orang yang memiliki pengalaman panjang di pemerintahan.
Kini, Trump lebih mengutamakan loyalitas daripada pengalaman dalam memilih anggota kabinetnya, yang mengundang kritik dari banyak pihak.
Beberapa calon anggota kabinetnya diketahui memiliki pandangan yang sangat kritis terhadap lembaga yang akan mereka pimpin, seperti Departemen Pendidikan dan Badan Perlindungan Lingkungan.
Seiring dengan kebijakan domestik yang kontroversial, Trump juga mendapat dukungan dari beberapa tokoh paling berpengaruh di dunia, termasuk Elon Musk, yang menghabiskan lebih dari $250 juta untuk mendukung kampanye Trump.
Beberapa pemimpin industri teknologi, seperti Jeff Bezos, Mark Zuckerberg, Sundar Pichai, dan Tim Cook, diperkirakan akan menghadiri pelantikan Trump, sebuah indikasi dari hubungan yang semakin dekat antara Trump dan para pengusaha terkemuka di dunia.
Pelantikan ini akan diadakan di tengah pengamanan yang sangat ketat, mengingat potensi ancaman kekerasan politik yang meningkat, termasuk dua percobaan pembunuhan terhadap Trump selama kampanye.
| Iran Serang Pangkalan AS di Arab Saudi, 15 Prajurit Amerika Serikat Terluka |
|
|---|
| Houthi Yaman Bantu Iran Lawan AS-Israel, Ini Dampaknya Jika Selat Bab al-Mandab Diblokade |
|
|---|
| Daftar Negara dengan Utang Tertinggi di Dunia, Ada yang Tembus 380 Persen dari PDB |
|
|---|
| Ekonomi India Terancam, Dampak Perang AS–Israel Lawan Iran Picu Krisis Energi Global |
|
|---|
| Sosok Ahmad Vahidi, Panglima Baru IRGC, Pernah Dituduh Tewaskan 85 Yahudi Dalam Ledakan di Argentina |
|
|---|