Senin, 27 April 2026

Mihrab

Isra' Mi'raj: Peristiwa Bersejarah Umat Islam dan Tantangan Pembuktian Sains

Namun di sisi lain, hal ini juga menjadi tantangan bagi para intelektual, ilmuwan, dan filsuf yang berusaha menjelaskan peristiwa ini secara ilmiah.

Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Yeni Hardika
Dok Pribadi
Koordinator Presidium Majelis Wilayah KAHMI Provinsi Aceh, Prof Dr Syamsul Rijal MAg 

Isra' Mi'raj: Peristiwa Bersejarah Umat Islam dan Tantangan Pembuktian Sains

SERAMBINEWS.COM – Surah Al-Isra', yang merupakan surat ke-17 dalam Al-Qur'an, memuat kandungan yang sangat istimewa bagi umat Islam. 

Di dalamnya dijelaskan tentang peristiwa Isra' dan Mi'raj Nabi Muhammad SAW, yaitu perjalanan beliau dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Baitul Maqdis di Palestina, dan kemudian Mi'raj ke Sidratul Muntaha. 

Peristiwa ini menjadi momentum penting bagi umat Islam, di mana Nabi Muhammad SAW membawa pulang perintah kewajiban shalat lima waktu bagi setiap muslim sebagai oleh-oleh dari Rabbul 'Alamin.

Dewan Pembina DPP Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) Aceh, Prof Dr H Syamsul Rijal MAg mengatakan, peristiwa Isra' Mi'raj tidak hanya memiliki nilai spiritual yang tinggi, tetapi juga menjadi tantangan bagi dunia ilmiah. 

“Dalam ayat-ayat awal surat Al-Isra', secara jelas menceritakan tentang peristiwa Isra' dan Mi'raj, yaitu perjalanan yang ditempuh dalam semalam, melintas batas dimensi ruang dan waktu,”

“Yang kemudian menjadi sebuah peristiwa berharga bagi pengetahuan saistifik, membawa manusia meneliti berbagai, menelaah serta menemukan teori-teori penting bagi pengetahuan,” ungkapnya, Kamis (23/1/2025).

Bagi setiap mukmin, kata Prof Syamsul, peristiwa agung ini adalah bukti nyata akan kekuasaan Allah SWT. 

Kejadian ini menjadi sumber kekuatan penuh bagi Rasulullah SAW dalam menjalankan risalah kenabian.

Namun di sisi lain, hal ini juga menjadi tantangan bagi para intelektual, ilmuwan, dan filsuf yang berusaha menjelaskan peristiwa ini secara ilmiah.

Dalam surat Al-Isra', tepatnya ayat 85, dijelaskan bagaimana orang-orang Quraisy bertanya kepada Nabi Muhammad SAW tentang hakikat ruh. 

Allah SWT kemudian menjawab bahwa pengetahuan tentang ruh adalah rahasia-Nya, dan manusia hanya diberi sedikit pemahaman. 

“Meski demikian, manusia tetap berupaya mencari pembuktian rasional dan ilmiah atas fenomena ini, meskipun sering kali tidak mencapai hasil yang memuaskan,”

“Oleh karena itu, pemaknaan peristiwa ini harus dilakukan dengan pendekatan iman, bukan sekadar logika rasional,” sambungnya.

Kendati demikian, akan berbeda halnya bagi sosok Abu Bakar karena ia menerima informasi atas dasar keimanan untuk pembenaran. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved