Jurnalisme Warga
FAMe, Pena Abadi Budaya Literasi di Aceh
forum literasi seperti Forum Aceh Menulis (FAMe), pesan ini menjadi nyawa yang menggerakkan komunitas untuk terus menulis dan menginspirasi.
RIZAL FIKRI TA, S.Pd.I, Pelaksana pada Dinas Pendidikan Aceh, melaporkan dari Banda Aceh
Ada sebuah pepatah, "Jika kau tidak menulis, apa yang kau pikirkan akan hilang." Kata-kata ini bukan sekadar rangkaian huruf, melainkan sebuah peringatan sekaligus ajakan.
Dalam sebuah forum literasi seperti Forum Aceh Menulis (FAMe), pesan ini menjadi nyawa yang menggerakkan komunitas untuk terus menulis dan menginspirasi.
Saya berkesempatan mengikuti pertemuan ke-110 FAMe bulan lalu. Pengalaman tersebut memberikan pandangan baru bagi saya tentang betapa pentingnya menulis bagi kehidupan.
Komunitas bervisi besar
FAMe bukan sekadar komunitas menulis biasa. Dideklarasikan pada 9 Agustus 2017 di Museum Aceh, FAMe lahir dari semangat untuk menyebarkan virus literasi ke seluruh penjuru Aceh. Digagas oleh Yarmen Dinamika (saat itu Redaktur Pelaksana Harian Serambi Indonesia), bersama sekelompok anak muda kreatif, komunitas ini bertujuan sederhana, tetapi berdampak besar. Yakni, meningkatkan minat baca dan menulis masyarakat Aceh, di samping ingin menjadikan Aceh sebagai provinsi yang paling banyak penulisnya di Indonesia.
Harapan ini selaras dengan pendapat UNESCO bahwa literasi adalah sarana untuk memberdayakan individu dan meningkatkan partisipasi dalam masyarakat.
Namun, mengapa literasi begitu penting? Menurut Prof Dr Ahmad Humam Hamid, "Bangsa yang tidak menulis akan kehilangan identitasnya, karena sejarah adalah milik mereka yang mencatatnya." Di tengah kemajuan teknologi, kebutuhan untuk menulis bukanlah hal yang bisa diabaikan. Sebaliknya, menulis kini menjadi alat untuk merekam jejak, menyampaikan gagasan, dan bahkan membangun peradaban.
Pertemuan ke-110
Ketika memasuki ruangan Perpustakaan Aceh untuk menghadiri pertemuan ke-110 FAMe, saya disambut oleh dua sosok yang menjadi inspirasi besar di dunia literasi Aceh: Dr Sri Rahmi MA (Dosen Pasccasarjana UIN Ar-Raniry) dan Yarmen Dinamika.
Kedua penggerak literasi ini tidak hanya berbicara, tetapi juga menanamkan semangat menulis ke dalam hati para peserta. Tidak hanya sekali, tetapi berulang-ulang dengan materi yang berbeda.
Khusus pada pertemuan ke-110 ini Bu Sri Rahmi mempresentasikan materi Teknik Menulis Ilmiah Murni dan Ilmiah Populer. Materi ini sangat penting bagi saya yang sedang studi S2.
Rahmi membuka sesi dengan untaian kata sederhana, tetapi penuh makna: "Tulislah... atau apa yang Anda pikirkan akan hilang." Sebuah peringatan yang lembut, tetapi menggugah jiwa, mengingatkan kita bahwa setiap gagasan, sekecil apa pun itu, memiliki hak untuk diabadikan.
Sebuah ide yang dibiarkan berlalu tanpa dituliskan adalah seperti bunga yang gugur sebelum sempat mekar. Indah, tetapi tidak pernah sempat meninggalkan jejak.
Dalam sesi ini Yarmen bertindak sebagai moderator. Beliau telah lama mengambil alih panggung dengan menghadirkan seni jurnalistik sebagai konsumsi anak muda Aceh. Beliau, yang telah saya anggap sebagai mentor pertama dalam dunia jurnalistik, menegaskan bahwa menulis adalah seni membangun jembatan emosional antara hati penulis dan pembaca, sebuah seni yang menyentuh jiwa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/RIZAL-FIKRI-TA-2025.jpg)