Kupi Beungoh

Mudik Modern, Saatnya Beralih ke THR Non Tunai

THR non tunai pun saat ini sudah cukup banyak pilihan, seiring dengan luasnya penggunaan dompet elektronik (e-wallet) terutama di kalangan muda.

Editor: Firdha Ustin
FOR SERAMBINEWS.COM
Arga Riandhi, Pelaksana di Unit Implementasi PUR, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh. 

Oleh Arga Riandhi *)

KURANG dari dua bulan lagi, kita akan memperingati Hari Raya Idul Fitri. Ini merupakan hari besar yang paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat muslim seluruh dunia.

Khusus di Indonesia, hari raya tidak bisa dilepaskan dari tradisi mudik.

Orang-orang yang bekerja di luar daerah asal, kembali ke kampung halaman untuk berkumpul dengan keluarga besar.

Tradisi inilah yang membuat suasana lebaran menjadi semarak, dengan ramainya jalan dan tempat umum lainnya, yang menjadi pertanda berdetaknya jantung perekonomian.

Adanya aktivitas mudik tentunya menggerakkan perekonomian di pedesaan.

Jika biasanya uang lebih banyak beredar di perkotaan, pada momen lebaran justru sebaliknya.

Banyak pemudik yang membawa uangnya ke kampung halaman, baik untuk biaya selama perjalanan maupun sebagai THR yang akan dibagikan nantinya.

Maka kebutuhan uang tunai pun meningkat selama Ramadhan dan mencapai puncaknya saat Idul Fitri. Ini disebabkan kebiasaan pemudik membawa uang tunai dalam jumlah besar.

Berdasarkan data Kementerian Perhubungan pada tahun lalu, jumlah pemudik pada tahun 2024 mencapai 242 juta jiwa.

Jika rata-rata anggota keluarga adalah 4 orang dan setiap keluarga membawa uang tunai sebesar tiga juta Rupiah, maka ada lebih dari 180 triliun uang tunai yang beredar selama momen mudik.  

Alasan membawa banyak uang tunai beragam, mulai dari berjaga-jaga untuk keperluan mendesak di perjalanan, sampai dengan kebiasaan memberikan THR berupa uang tunai. Alasan yang terakhir sudah saatnya kita mulai untuk memodifikasinya.

Beralih ke THR Non Tunai

Semakin banyak uang tunai yang dibawa, semakin besar pula resikonya, terutama selama di perjalanan.

Resiko uang tertinggal, kehilangan maupun kecurian akan dihadapi oleh pemudik.

Untuk mengurangi resiko tersebut, kebiasaan membagikan THR dapat kita ubah ke metode non tunai.

THR non tunai pun saat ini sudah cukup banyak pilihan, seiring dengan luasnya penggunaan dompet elektronik (e-wallet) terutama di kalangan muda. Ini sejalan dengan aliran dana THR yang pada umumnya bersumber dari orang dewasa (yang notabene sudah memiliki penghasilan) kepada yang lebih muda (biasanya belum berpenghasilan).

Cara membagikan THR secara non tunai pun sudah lebih mudah dengan adanya QRIS transfer, yang memungkinkan seseorang untuk mengirimkan uang cukup dengan melakukan scan QR penerima.

Cara sesederhana itu sangat memudahkan berbagi THR di hari lebaran karena menghemat waktu dibanding harus mengetikkan nomor rekening.

Bahkan jika ada anggota keluarga yang tidak bisa mudik karena satu dan lain hal pun, THR tetap bisa dikirimkan, alih-alih membagikan secara tunai yang terbatas pada tatap muka.

Ini tidak sekedar wacana, karena sudah pernah dipraktekkan oleh masyarakat ketika kita sedang menghadapi pandemi Covid-19 beberapa tahun yang lalu.

Pada saat itu, perjalanan ke luar daerah dibatasi, sehingga banyak perantau yang tidak bisa mudik. Namun gagal mudik bukan berarti tidak melakukan tradisi berbagi THR.

Menurut survei yang dilakukan oleh Jakpat (Jajak Pendapat) bersama ShopeePay pada tahun 2021 pada saat pandemi masih melanda, sebanyak 58 persen dari responden memilih hanya membagikan THR secara non-tunai.

Artinya sebagian besar masyarakat sebenarnya sudah mampu mengubah tradisi bagi-bagi uang tunai, namun hanya jika ada kondisi tertentu.

Selain lebih baik dari resiko keamanan, THR non tunai juga lebih praktis.

Mengingat kondisi ketika menjelang lebaran, orang berbondong-bondong mencari uang pecahan kecil agar memudahkan pembagian THR nantinya.

Meskipun Bank Indonesia dan bank umum melayani penukaran uang pada saat hari besar keagamaan, namun bagi penukar tentunya membutuhkan effort untuk menukarnya.

Untuk menggunakan layanan penukaran Bank Indonesia, penukar wajib mendaftarkan terlebih dahulu di website pintar.bi.go.id dan datang ke lokasi penukaran sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.

Sehingga penukar harus meluangkan waktu untuk datang dan mengantri dengan penukar lainnya, hal yang sebenarnya tidak perlu dilakukan jika sudah beralih ke THR non tunai. Waktu yang ada pun dapat dimanfaatkan untuk mengerjakan hal-hal produktif lainnya.

Membudayakan THR non tunai tidak hanya dirasakan manfaatnya oleh masyarakat yang merayakan lebaran.

Dampak pada transformasi perekonomian juga terjadi karena terciptanya masyarakat cashless.

Seluruh transaksi yang dilakukan secara non tunai tercatat dan dapat ditelusuri, sehingga akan mengurangi celah untuk transaksi yang bertentangan dengan hukum.

Demikian juga dampaknya terhadap penghematan anggaran negara. Pencetakan dan pengedaran uang Rupiah oleh Bank Indonesia tentu membutuhkan biaya yang besar.

Terlebih lagi masih banyak yang memiliki kebiasaan melipat atau meremas uang jika THR diberikan dengan cara ”salam tempel”.

Kebiasaan ini mempersingkat masa edar uang kertas kita karena uang akan lebih mudah rusak jika sering dilipat. Ini juga merupakan salah satu alasan Bank Indonesia selalu mengedukasi masyarakat untuk merawat uang dengan baik melalui program Cinta Bangga dan Paham (CBP) Rupiah. Namun kita selangkah lebih maju jika sudah terbiasa dengan non tunai.

Salah satu langkah untuk membiasakannya adalah dengan memulai dari momen seperti lebaran, dimana sebagian besar keluarga berkumpul dengan suasana bahagia.

Silaturahmi yang terjalin ini bisa sekaligus menjadi sarana edukasi, jika misalnya ada sebagian anggota keluarga yang belum terbiasa menggunakan transaksi non tunai. Adanya THR non tunai diharapkan menjadi pemicu bagi yang bersangkutan untuk memulai kebiasaan tanpa cash.

Ketika sudah merasakan manfaat serta kemudahannya, kebiasaan ini sangat mungkin akan berlanjut.

Para pedagang pun akan menyesuaikan jika banyak permintaan dari pembeli secara non tunai. Dengan demikian akan terbentuk budaya cashless tidak hanya di perkotaan, tetapi juga di pedesaan.

Semua itu bisa terealisasi apabila masing-masing dari kita mau memulai, setidaknya dari diri sendiri, lalu mengajak orang terdekat untuk melakukan hal yang sama.

Sebagaimana kata Mahatma Gandhi, kebiasaan kecil, jika dilakukan oleh banyak orang, akan dapat mengubah dunia.

Padahal mengubah kebiasaan dari tunai ke non tunai bukanlah masalah besar, karena bukan budayanya yang diubah, tetapi hanya metodenya.

Budaya mudik dan membagikan THR tetap kita lestarikan, namun dengan kebiasaan baru ini, lebih banyak manfaat yang diperoleh.

Mari manfaatkan momen lebaran tidak hanya untuk membangun hubungan baik dengan sesama, tetapi juga membangun kebiasaan baik untuk bersama. (*)

*) PENULIS adalah Pelaksana di Unit Implementasi PUR, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved